Mengapa Berlibur Membuat Kita Lebih Baik

Jika perjalanan liburan adalah sebuah pengalaman, maka ia adalah salah satu guru terbaik untuk kita. Maka, jangan berhenti berlibur!

32 comments

Tanpa mengerdilkan kebebasan berpendapat, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak merasa nyaman dengan anggapan bahwa liburan yang saya lakukan adalah suatu pemborosan. Siapa pun boleh berpendapat, itu urusan mereka. Saya tidak akan menghardik mereka sebagai penista liburan.

Buset, udah jalan-jalan lagi, banyak duit ya? Ngapain sih lo liburan terus? Mending nabung buat nikah, nyicil rumah, atau sekolah lagi” —Manusia.

Namun ketika beberapa orang (yang sama) terus berusaha mengusik argumen saya dengan argumen mereka, ada urusan kami yang menjadi beririsan. Saya harap saya punya banyak waktu luang untuk khawatir akan hal-hal yang bukan urusan saya. So, hold my beer, I’m gonna break it down.

2015-12-29-07.54.12-1.jpg.jpeg
Berlibur adalah kegiatan pemborosan? Anda punya argumen sendiri untuk setuju atau tidak.

Berlibur bagi saya bukan semata kegiatan menghibur diri, namun juga aktivitas meningkatkan kualitas diri. Banyak hal yang telah, sedang, dan akan terus saya pelajari dari seluruh tahapan berlibur: merencanakan, menjalankan, dan menulis semuanya dalam jurnal perjalanan saya.

Okay. Jika berbicara mengenai pemborosan, kita akan berbicara mengenai hal-hal yag dianggap berharga dan tidak berharga yang dapat dibeli dengan uang. Ini berarti, kita berbicara mengenai nilai. Ini juga berarti, kita berbicara mengenai perbedaan pandangan setiap orang mengenai nilai.

Ketika Anda sering mengalokasikan pendapatan untuk membayar hal-hal yang dianggap tidak (terlalu) penting, Anda akan merasa melakukan suatu pemborosan. Misalnya, saya tidak suka membaca novel. Ketika saya membeli novel setiap bulan, saya akan merasa tengah melakukan pemborosan. Merampok diri sendiri.

Namun, jika banyak pendapatan Anda yang bermuara di hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang Anda yakini memiliki nilai penting, Anda cenderung tidak melihatnya sebagai suatu pemborosan. Misalnya, saya menjadikan traveling sebagai pengeluaran terbesar ketiga, karena traveling adalah kegiatan yang saya gemari. Saya belajar banyak dari traveling.

p1130743-01.jpeg
Apa yang membuat sebagian orang rela menyisihkan porsi besar pendapatan mereka untuk berlibur? Ini alasan saya.

Lalu apa yang saya pelajari dari traveling? Banyak.

Biarkan saya mulai dari tahap perencanaan. Saya adalah orang yang tidak suka didikte. Ketika berlibur, saya tidak akan membiarkan orang lain mengatur-atur jadwal kegiatan saya. Ya, travel organizer, saya sedang membicarakan Anda. Saya tidak rela Anda merenggut kebahagiaan saya dengan memanggil saya ke mobil ketika saya sedang asik menikmati pantai.

Saya tidak akan membahas anggapan bahwa mengatur perjalanan sendiri lebih murah dibandingkan dengan mengikuti sebuah tur perjalanan. Hal yang ingin saya sampaikan adalah: merancang sebuah rencana perjalanan adalah sebuah seni. Seni mengatur kegiatan, anggaran, dan segala hal yang harus Anda perhitungkan ketika berlibur.

Backpacking itu Mudah!
Aturlah rencana perjalanan Anda. Namun jangan lupa untuk tetap fleksibel ketika rencana A tidak bekerja. Tetaplah kreatif untuk mengganti rencana liburan Anda.

Anda akan dihadapkan dengan perhitungan untung dan rugi jika Anda menyambangi titik A pada hari pertama atau hari kedua. Anda akan dihadapkan pada perhitungan untung dan rugi jika Anda menginap di Hotel ABC dengan fasilitas dan tarif paling rasional, namun terletak agak jauh dari pusat kegiatan wisata dan pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Tunggu, jangan terburu-buru meninggalkan rumah. Masih ada pelajaran lain yang saya nikmati bahkan sebelum saya berlibur. Berkemas.

Berkemas? Ya. Terkesan sepele. Anda mengemas barang-barang bawaan Anda dalam tas lalu berlibur. Tapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan baik—setidaknya inilah anggapan saya. Beberapa teman perjalanan saya suka memenuhi tas mereka dengan barang-barang yang ternyata tidak mereka butuhkan. Buntutnya, beban bawaan mereka jadi lebih berat. Bukan urusan saya ketika mereka sedang berlibur sendiri. Tapi jika kami sedang berlibur bersama, barang-barang keperluan kelompok yang masuk ke tas saya akan menjadi lebih banyak.

img_20170206_135432-01.jpeg
Berkemas rapi dengan cara mengelompokkan barang-barang yang sejenis.

Berkemas sebelum berlibur melatih saya untuk dapat menakar hal-hal yang saya perlukan dan tidak saya perlukan. Mulai saja dengan hal sederhana, jumlah pakaian yang akan saya gunakan untuk tidur setiap malam. Apakah saya harus mengganti baju untuk tidur setiap malam? Hal lainnya adalah cara saya berkemas. Bagaimana saya dapat menyusun barang-barang di dalam tas secara efisien, efektif, dan rapi agar bisa memuat semua barang yang saya perlukan selama berlibur.

Baca juga: Malas Melipat Baju Saat Berkemas, Ikuti Cara Saya!

Salah satu jenis liburan yang banyak memberi saya pelajaran adalah pendakian gunung. Mendaki gunung bukan sekedar aktivitas menenangkan diri atau mencari keringat, kawan. Saya belajar banyak hal di sepanjang jalur pendakian, di kemah, atau pun di puncak gunung. Misalnya, sejauh mana saya dapat berjalan sebelum harus beristirahat, kapan saya harus memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, atau kapan saya harus berjalan di paling atau di paling belakang barisan.

p1170971-01.jpeg
Gunung adalah salah satu tempat terbaik untuk belajar mengenal dan mengendalikan diri. Pada awalnya, saya menganggap pemikiran ini terlalu klise. Ternyata tidak!

Mendaki gunung membuat saya semakin peka untuk mengenal batas kemampuan diri, cara bernegosiasi dengan emosi saya sendiri, cara berkompromi dengan teman pendakian yang sulit diajak bekerja sama, dan sebagainya.

Baca juga: Kerajaan Dewi Anjani.

Traveling juga melatih keberanian diri, terutama ketika saya berlibur seorang diri. Bepergian ke tempat baru seorang diri bukanlah perkara mudah. Saya ditantang untuk berani melangkahkan kaki keluar dari penginapan ke tempat-tempat dengan lingkungan yang belum saya kenal. Ketika saya merasa takut untuk datang ke wilayah tertentu ketika berlibur seorang diri, saya tahu, liburan saya menjadi kurang maksimal, dan saya tidak mau itu terjadi. Ketika saya sudah bisa melewati ketakutan itu, saya sadar, berlibur melatih saya menjadi orang yang lebih percaya diri.

Baca juga: Solo Traveling, Berani?

1463316905737.jpg
Saya menumpangi dan bermalam di perahu salah satu nelayan di Desa Sawarna, perahu kecil yang biasanya dinaiki oleh satu hingga tiga orang setiap melaut.

Saya juga dibiasakan untuk berinteraksi dengan orang-orang lain, misalnya penduduk setempat, ketika saya berlibur seorang diri.

Ada yang bilang, “Jangan berbicara dengan orang asing”, maka saya akan bilang, “Jangan dengarkan saran itu”.

Banyak berinteraksi dengan orang asing ketika berlibur mengajarkan saya cara bersosialisasi lebih baik. Berbagai topik akan saya ajukan kepada orang-orang asing dengan latar belakang berbeda, misalnya traveler lain atau pedagang minuman. Hingga ada saatnya saya merasa pertanyaan ‘dari mana’ atau ‘liburan sama siapa’ sebagai cara yang tidak kreatif untuk memulai perbincangan.

e9c10-fb_img_1447186850730
Bersosialisasi dengan penduduk setempat ketika berlibur tidak kalah menyenangkan daripada hanya membaca tulisan-tulisan lucu di media sosial. Saya serius.

Dengan bangga saya sarankan, berjalanlah lebih jauh. Bukan untuk menemukan jati diri, melainkan untuk membentuknya. Biarkan perjalanan mengenalkan Anda dengan ragam perbedaan yang ada di planet biru, atau paling tidak di Bumi Khatulistiwa atau Indonesia, jika anggaran Anda terbatas seperti saya. Biarkan liburan mengajarkan kita menjadi orang yang lebih menghargai perbedaan, sebelum kita merasa seperti kurang piknik karena terbiasa berada di lingkungan yang homogen sejak lahir.

1060807

Salam.

32 comments on “Mengapa Berlibur Membuat Kita Lebih Baik”

  1. saya sih jarang bepergian jauh tapi pengalaman saat mendaki gunung sungguh mengajarkan banyak hal. Persiapan yang matang, perbekalan, barang apa saja yang harus dibawa, tas yang cocok hingga kesabaran dalam mendaki untuk tidak cepat2 sampai puncak. Saya jadi tau, ritme mendaki itu bertahap dan pengalaman kemarin sebaliknya dan akibatnya saat turun gunung kaki sakit hingga lutut yang sulit ditekuk dan akhirnya harus rela diseret2 hingga perlu tongkat untuk berjalan

    Liked by 1 person

    1. Hehehe.. Kalau disimak blognya sih, nampaknya Mas Hendi ini memang doyannya naik gunung dan wisata budaya ya.

      Sepakat, Mas. Waktu awal-awal naik gunung, masih tinggi egonya. Berasa hebat. Berasa anak alam banget. lama-lama, ngerasa malu sendiri pernah mikir kaya gitu. Lebih banyak belajar selama pendakian ya. Apalagi Mas Hendi yang memang suka naik gunung. Hehe.

      Liked by 1 person

    2. hahahaha salah…aku naik gunung cuma sekali doang kok, dulu pas jaman sma pernah naik gunung tapi ga tinggi2 amat. banyakan malah cerita pergi ke kota tetangga atau malah ngubek2 ke kota sendiri. ga ada target mau kemana, intinya pas kebetulan bepergian, foto2 terus tulis di blog saja. tentu masih beda jauh dengan pengalamannya mas Iyos : )

      Liked by 1 person

    3. Hahaha. Suka gitu. Menarik cerita soal budaya, Mas. Nanti kalau aku mau liburan ke gunung atau air terjun, siap-siap direpotin dengan pertanyaan-pertanyaan ya. Hehehe.

      Like

    4. sementara masih bisanya seperti itu, cerita yang runtut dari awal sampai akhir, makanya kadang suka khilaf pas nulis di blog karena saking panjangnya hehehe

      Like

  2. Libur telah tiba.. hore !!!

    Hahaha, yup liburan meningkatkan kualitas diri ; bagi saya belajar bagaimana membentuk karakter diri yang lebih baik — baik bagi diri saya maupun orang lain lewat sosialisasi yang dilakukan.

    Asyik 😀

    Liked by 1 person

  3. Banyak ilmu, banyak cerita, dan banyak penemuan serta pelajaran yang saya dapat ketika jalan-jalan. Meski saya sudah dijuluki manusia situs karena jalan-jalannya selalu ke tempat wisata seperti itu, haha. Tapi saya bahagia dan semangat, dan itu yang paling penting menurut saya. Terserahlah orang mau bilang apa, yang penting saya merasa lebih baik dan lebih ingin tahu tentang segala hal setiap kali pulang jalan-jalan, haha. Bukan berarti “menabung untuk masa depan” itu tidak penting. Semua ada waktunya dan sudah saya susun di skala prioritasnya, kok, hehe.

    Liked by 1 person

    1. Hehe.. Itu dia, Mas Gara. Ada sebagian orang yang masih belum paham kalau liburan itu penting buat sebagian orang lainnya. Sayangnya, sebagian kecil dari orang yang belum paham itu kok belum paham juga cara ngehargain orang yang nganggap liburan sebagi hal yang penting buat ‘investasi pengalaman’. Ada loh yang ‘menyerang’, judge ini-itu. Hehe.

      Like

    2. Betul Mas, mereka laskar tidak pengertian, haha. Mudah-mudahan tidak menyurutkan niat untuk terus belajar sambil berlibur ya, hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.