Solo Traveling. Berani?

30 comments
Dengan solo traveling, kamu bebas mengatur semua jadwal perjalanan.

Langit mendung membuat saya teringat perjalanan solo traveling saya beberapa waktu lalu. Waktu itu hujan menyambut saya di Yogyakarta, awal 2015. Saya percaya, saya akan dengan mudah mendapat penginapan di sekitar Malioboro setelah menikmati damai dataran tinggi Dieng.

Ceroboh. Saya lupa waktu itu adalah akhir pekan. Penginapan pasti penuh! Dengan tas seberat dosa, saya menembus hujan, berkeliling-keliling sekitar jantung pariwisata Yogyakarta.

Bisa saja saya menunggu hujan reda, tapi saya tahu, saya berlomba dengan para pelancong lain yang ceroboh tidak memesan kamar, seperti saya. Saat itu, saya sendiri pula. Sampai akhirnya harus membayar kamar dengan tiga tempat tidur. Iya, untuk saya tiduri sendirian.

Salah seorang guru di Sekolah Dasar tempat saya bersekolah pernah mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Intinya, manusia hidup dengan berinteraksi dengan orang lain, dalam segala bidang kehidupan.

Mungkin traveling adalah salah satunya. Sebagian orang suka bepergian bersama teman-temannya, atau mungkin pasangannya. Alasannya banyak. Tapi mungkin alasan utamanya adalah: tidak mau bepergian sendirian.

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan dari teman, “Mau ke Kalimantan sama siapa, Yos?” atau “Kemarin ke Dieng sama siapa?”. Kemudian kalimat berikutnya yang meluncur dari mulut mereka adalah “Serius?”, seakan-akan saya menjawab bahwa saya traveling bersama Raisa atau Isyana Saraswati.

Bepergian sendirian menawarkan keuntungan sendiri, sekaligus membawa kekurangan yang harus dialami para solo traveler.

Bagi sebagian orang, berwisata sendirian, atau solo traveling, mungkin terasa aneh. Tapi buat saya, solo traveling bisa membawa kenikmatan sendiri. Saya akan bahas satu persatu keuntungan sekaligus tantangan melakukan solo traveling.

Keuntungan

You rule the trip

Saya yakin, beberapa di antara kalian pernah merasa kesal dengan teman seperjalanan yang bangun kesiangan, terlalu lama berdandan, plin plan memilih tempat makan, atau rewel untuk berfoto enam kali dengan latar belakang yang sama (dengan gaya yang sebenarnya tidak jauh berbeda).

Atau sebaliknya? Kesal karena ada teman seperjalanan yang rewel selalu ingin terburu-buru, keras kepala memilih tempat makan, dan mendadak berubah jadi monster karena ada rencana perjalanan yang berubah.

Hal semacam ini tidak akan terjadi kalau kita melakukan solo traveling. Ya, kita mengatur semuanya sendiri. Saya bisa menghabiskan berjam-jam waktu di atas pasir tanpa protes dari teman seperjalanan.

Habiskan waktu di mana pun selama kamu mau, tanpa ada protes dari teman perjalanan.

Lebih dekat Dengan Masyarakat 

Setiap tempat pasti punya hal unik dan menarik, baik yang sudah tersaji di depan mata wisatawan, atau yang harus digali oleh wisatawan. Informasi-informasi yang ‘terselubung’ ini bisa kita peroleh dengan berbagai cara, salah satunya berinteraksi dengan warga setempat.

Solo traveling secara tidak langsung memberi saya keleluasaan untuk berinteraksi dengan warga setempat. Walau kadang, interaksi terpaksa saya lakukan karena butuh teman bicara di tengah perjalanan. Saya bisa berkenalan dengan orang-orang baru, atau mencari bahan tulisan dengan berlama-lama mengamati obyek sekitar.

Jangan malu dan malas untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Setidaknya, bersikap ramahlah kepada masyarakat setempat, atau wisatawan lain.

Melatih Rasa Percaya Diri 

Solo traveling ke tempat yang belum pernah seseorang kunjungi bisa menjadi sebuah tantangan baru. Informasi mengenai suatu tempat terkadang meleset. Misalnya, jadwal dan rute moda transportasi. Kadang, ada pula rasa khawatir akan jaminan keamanan suatu tempat ketika melakukan perjalanan seorang diri. Khawatir menjadi target kekerasan misalnya.

Jika kalian berwisata dengan teman, mungkin rasa takut bisa direduksi atau bahkan tidak muncul sama sekali. Tapi jika bepergian sendirian? Ini yang akan menjadi tantangan, sekaligus melatih rasa percaya diri.

Tantangan

Biaya lebih mahal

Ini adalah konsekuensi utama yang saya rasakan ketika solo traveling. Biaya akomodasi biasanya menjadi salah satu biaya ketika berlibur. Hal ini bisa disiasati dengan berbagi biaya akomodasi dengan teman perjalanan.

Tapi jika melakukan solo traveling? Tentu biaya seperti harus ditanggung sendiri. Biaya lain yang cukup terasa ketika solo traveling adalah biaya sewa kendaraan dan bahan bakar.

“Biaya yang cenderung lebih besar selama solo traveling saya anggap sebagai harga yang harus saya bayar untuk membeli kebebasan menikmati liburan”

All by Myself 

Anda harus melakukan semuanya sendirian ketika berlibur tanpa mengajak teman atau pacar Anda. Mengurus tiket pesawat, mencari penginapan, menawar tarif sewa kendaraan, membawa semua tas Anda ke toilet ketika berada di bandara, (…isi kegiatan-kegiatan lainnya di sini).

Jika Anda merasa kesepian—akui saja, ini tidak membuat Anda lemah, ini manusiawi—saya sarankan untuk berkenalan dan berkawan dengan warga setempat atau traveler lain. Situs jejaring sosial traveler seperti Couchsurfing bisa Anda manfaatkan untuk bersosialisasi dengan traveler lain.

Tips

Riset, riset, riset!

Catat semua informasi penting di buku catatan kecil.

Kumpulkan informasi tentang tempat tujuan kita, selengkap mungkin. Informasi yang diperlukan biasanya adalah informasi tentang transportasi (termasuk jadwal, rute, dan ongkos), lokasi penginapan, kalender event, serta kebiasaan-kebiasaan setempat.

Mempelajari kebiasaan sosial masyarakat yang akan kita temui juga perlu dilakukan. Ingat, tidak semua tempat memiliki kebiasaan sosial yang sama, misalnya soal norma kesopanan. Semakin lengkap informasi yang dikumpulkan, niscaya, semakin kecil masalah yang ditemui di perjalanan.

Jangan Putus Kontak

Pastikan anggota keluarga Anda atau siapa pun itu mengetahui tempat-tempat yang akan Anda datangi. Berusaha menjadi sosok misterius yang merahasiakan tempat tujuan berlibur adalah salah satu cara terbaik untuk membuat keluarga Anda panik ketika ada bencana alam di tempat Anda berlibur.

Bawa Uang Lebih

Jangan hanya mengandalkan ATM ketika berlibur sendirian. Biasakan membawa uang tunai cadangan. Bayangkan ketika Anda lupa mengisi dompet saat hendak membayar ongkos kendaraan umum dan tidak ada ATM di sekitar Anda.

Kalau tempat tujuan kita masih berada di kota—yang biasanya masih terdapat ATM—silakan bawa uang secukupnya. Tapi kalau kita bepergian ke daerah lain—yang kemungkinan ada ATM sangat kecil—saya sarankan untuk membawa uang lebih. Saya selalu menyimpan uang saya secara terpencar di beberapa tempat, seperti dompet, tas kamera, atau lainnya.

“Beberapa teman juga menyarankan untuk tidak mengandalkan kartu kredit jika berlibur ke luar negeri. Tidak semua tempat menerima kartu kredit yang kita bawa untuk melakukan pembayaran”.

Siapkan tripod kecil, atau…

…atau bertebal-mukalah untuk selalu meminta tolong orang lain memotret kita. Sebenarnya Anda bisa membawa tripod berukuran mini yang bisa masuk ke dalam tas, atau mungkin selfie stick. Tapi kalau terlalu malas, ya manfaatkan orang di dekat Anda. Saya sarankan untuk meminta bantuan kepada sesama traveler.

Jangan sungkan untuk minta bantuan orang lain untuk memotret. Hati-hati memilih orang untuk diminta bantuan.

Selamat berlibur!

Advertisements

30 comments on “Solo Traveling. Berani?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s