Bincang sore saya dengan seorang rekan kerja mendadak hambar. Basa-basi atau bukan, entah. Namun saya malas menjawab pertanyaan ini. Saya alihkan topik pembicaraan. Lalu perbincangan usai seketika. Beres.
Wisata atau traveling seharusnya adalah sebuah topik yang sangat menarik untuk dibahas. Buat sebagian orang, mungkin tidak semenarik membahas perbedaan tafsir kitab suci, perceraian selebritas, atau tips memuaskan pasangan di ranjang.
Tapi buat saya, mendengar cerita teman yang hampir mati tenggelam pada suatu senja di Pantai Banje, Kroasia, atau cerita teman lain yang diperiksa oleh petugas imigrasi Malaysia adalah penyulut semangat.
Jika kemudian muncul pertanyaan atau pernyataan yang mengganggu telinga saya? That’s a different story. Saya biasanya akan tersenyum sambil mengangkat alis dan berpikir, “You’re not asking me that question, man“.
Inilah pertanyaan-pertanyaan seputar wisata yang bisa membuat saya—beberapa teman saya juga berpikir sama—merasa tidak nyaman.
1. Udah ke mana aja?
Ini adalah pertanyaan yang paling sering membuat saya bingung. Bukan karena tempat yang sudah saya datangi ‘itu-itu saja’ atau bahkan dianggap banyak. Tapi, saya tidak mungkin merinci semua kota atau provinsi yang sudah saya singgahi, bukan?

Saya lebih suka dengan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya tentang jalur pendakian yang paling saya suka atau festival paling menarik yang pernah saya ikuti. Jawaban saya dari pertanyaan itu mungkin lebih bermanfaat.
2. Baru liburan ya? Mana oleh-olehnya?

Kecuali wajah saya membuat Anda mengira saya adalah anak kandung Bill Gates atau Joko Widodo, silakan tulis daftar oleh-oleh yang Anda mau. Jangan bayangkan saya tidak menghitung dan menyunat biaya perjalanan liburan saya selama ini. Penginapan gratis dan moda transportasi murah adalah pilihan saya. Saya kikir? Tidak. Saya cuma punya cara sendiri untuk menyenangkan teman-teman saya.
Baca juga daftar hadiah untuk teman traveller di sini.
Alasan lain. Ada sebagian wisatawan yang tidak gemar merampok diri sendiri di tempat berbelanja atau toko cinderamata ketika berlibur, dan saya adalah salah satunya. Jadi, wisatawan semacam ini memang jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, memasukkan toko cinderamata ke daftar kunjungannya selama liburan. Waktu kami terbatas. Tolong hargai kami.
3. Fotonya liburannya keren! Kameranya bagus ya?

Hey, kamera mirrorless yang saya kalungkan selama liburan bukan kamera yang selalu bertengger di linimasa foto Instagram. Oke, saya tidak mengatakan bahwa kamera murah berarti tidak bagus. Hal yang ingin saya sampaikan adalah, jenis kamera bukan faktor tunggal untuk membuat foto yang (dianggap) menarik. Ada proses belajar yang saya jalani ketika sebagian orang lainnya sibuk menciptakan lagu atau berlatih sepak bola.
4. Sendiri lagi liburannya? Niat amat!
Oke, saya bukan Cinta yang harus ke mana-mana bareng geng AADC. Ketika saya berlibur, sebagian besar penyebabnya, saya penat dengan kegaduhan Jakarta. Maka, saya memilih untuk bersenang-senang sendirian.

Selalu sendiri? Pasti tidak. Untuk mendaki gunung, saya belum berani sendirian. Tapi untuk menjelajahi budaya atau sejarah satu kota, saya lebih memilih untuk sendiri. Saya punya lebih banyak kebebasan untuk mengatur semua jadwal, tanpa harus mengalah atau memaksakan agenda perjalanan.
Baca juga tips melakukan solo traveling di sini.
5. Jalan-jalan terus. Uang lo banyak ya?
Pertanyaan ini mungkin senada dengan “Makan lo di tempat mewah terus” atau “Gw sih belanja baju jarang, ga kaya dia yang belanja aja harus baju merk mahal”.
Jadi begini, setiap orang pasti punya prioritas pengeluaran. Ketika saya—yang belum punya rumah atau kendaraan—menghabiskan sebagian besar tabungan saya untuk berlibur, mungkin Anda sedang mencicil rumah untuk keluarga Anda. Atau Si A mungkin lebih memilih makan di tempat mewah dengan baju seadanya, tapi Si B lebih memilih untuk pakai baju Zara untuk ke kantor lalu mambawa nasi bungkus ke rumahnya sepulang kerja. Begitu.
Bagaimana dengan Anda? Apa pertanyaan-pertanyaan di atas pernah membuat Anda terganggu? Atau ada pertanyaan lain seputar liburan yang juga membuat Anda tidak nyaman?

LOVE LOVE LOVE IT!!!
pertanyaan-pertanyaan ini yang sangat menganggu buat saya ketika berencana akan pergi ke sebuah tempat.
LikeLiked by 1 person
Pukul aja, Pet! Pukul!! 😂
LikeLike
hahaha, entah ya, esensi sebuah perjalanan bagi setiap orang berbeda. ada yang memang pergi untuk berlibur, melepas penat sejenak, pergi ke tempat-tempat turis kebanyakkan, upload foto sana-sini di akun media sosial, lalu pulang dan membawa oleh-oleh banyak bagi orang rumah, kantor dll.
yang tidak dipahami adalah ada sebahagian orang yang melakukan perjalanan itu sebagai bentuk perkembangan “spiritual”. Melepas penat, iya jelas dan pasti dikarenakan ada sebuah kehausan bagi mereka yang melakukan perjalanan itu untuk mengisi ruang-ruang kosong atau sekedar mencari pemaknaan hidup, yang makin kesini sudah habis ditelan sama modernisasi kota besar.
hahahah ini gue kenapa sih. begitulah os, yang jelas gue merindukan perjalanan “spiritual” itu. bertemu dengan paras-paras tulus dan sorot-sorot mata yang hidup. bincang-bincang mengenai kisah lalu, sejarah, kisah mistis atau apapun yang lepas dari pembicaraan trending topic. hahahaha
(mungkin) gue sudah jengah dengan kota besar!
LikeLiked by 1 person
Sabar, sabar… Dalem amat nih kayanya, Pet? Hahaha. Gw jadi ngebayangin tinggal seminggu di Cemoro Lawang Bromo. Do nothing. Enak beut yak? 😁😁😁
LikeLiked by 1 person
banget! kasih rehat buat otak lah, siapa tau diksi-diksi yang tenggelam muncul ke permukaan. hahahaha
LikeLiked by 1 person
Bener banget!! 😁😁😁
LikeLike
Pertanyaannya gimana gitu ya mas. hahahaha
LikeLike
Iya :))
LikeLike
iya biasa banget pertanyaan pertanyaan diatas memang kak 😑😑😑
LikeLike