Syahdu Semeru

57 comments

Dingin pagi merengkuh erat Kalimati. Saya bergidik. Angin dari lereng gunung menyelinap melalui sela penutup tenda yang tak rapat.

Saya menggenapi janji untuk bertandang ke Semeru sekali lagi. Namun kali ini, Puncak Mahameru bukan tujuan saya. Saya punya urusan lain: menikmati kedamaian Gunung Semeru. Dari Ranu Pani, hingga Kalimati.

Iyos Kusuma

Saya beringsut keluar tenda, membiarkan dingin menggerayangi badan. Kalimati sepi pagi itu. Tenda-tenda dan peralatan lain ditinggalkan para pendaki yang tengah mendaki Puncak Mahameru.
Seorang pendaki berusaha ‘menangkap’ gambar kabut dengan kamera telepon selulernya. Kalimati banyak dipilih para pendaki sebagai tempat perkemahan terakhir sebelum mendaki puncak. Lahan yang luas dan jarak yang dekat dengan sumber air menjadi alasan para pendaki.
Seorang warga Desa Ranu Pani menunjukkan petai gunung yang ia petik dalam perjalanan menuju Puncak Mahameru. Petai ini berukuran lebih kecil dari petai yang jamak digunakan sebagai makanan masyarakat. Meski berukuran lebih kecil, petai ini beraroma lebih menyengat dari petai yang biasa saya temui di meja makan.
Sebagian warga Desa Ranu Pani yakin Rupiah tumbuh subur di Gunung Semeru. Mereka rela bolak-balik dari desa menuju beberapa titik di jalur pendakian untuk menjual makanan dan minuman. Hal ini dilakukan setiap hari. Seorang pedagang menuturkan, ia berangkat dari rumahnya pada pukul 04:00 pagi melewati jalur Ayek-ayek.
Seorang pendaki beristirahat sambil menikmati sepotong semangka. Semangka menjadi salah satu barang dagangan yang laris diburu para pendaki yang melepas lelah di pos-pos peristirahatan. Bayar Rp5.000,00, para pendaki bisa menikmati dua potong semangka segar.
Bukan lavender. Ini adalah hamparan bunga Verbena brasiliensis di Oro-oro Ombo. Terlihat seperti perhiasan berwarna ungu yang membingkai cantik padang rumput. Namun bagi ekosistem di Semeru, bunga yang berasal dari Amerika Selatan ini tak ubahnya penjajah. Kehadiran bunga ini dapat menginvasi tumbuhan lain dengan menyebabkan kekeringan.
Seorang pendaki memotret hamparan rumput yang menguning di Oro-oro Ombo. Oro-oro Ombo menjadi salah satu tempat favorit para pendaki untuk berfoto di jalur pendakian Gunung Semeru. Padang rumput ini membentang luas memisahkan Ranu Kumbolo dan Cemoro Kandang.
Dua pendaki melihat hasil swafoto mereka di depan Ranu Kumbolo pada suatu pagi. Hamparan rumput di depan Ranu Kumbolo adalah salah satu tempat perkemahan pendaki di jalur pendakian. Pendaki bisa memanfaatkan air danau untuk kebutuhan memasak atau minum. Berenang atau mencuci di Ranu Kumbolo adalah hal yang dilarang.
Seekor anjing berdiri di depan Ranu Kumbolo. Anjing adalah hewan yang kerap dijumpai di sepanjang jalur pendakian. Anjing-anjing di sana tidak datang sendirian. Mereka dibawa oleh para warga desa untuk menemani mereka berjualan.
Tanaman kubis memghampar luas di Desa Ranu Pani. Ketika kami turun gunung, warga desa sedang sibuk memanen kubis untuk dijual ke desa lain atau untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Ranu Pani.
Advertisements

57 comments on “Syahdu Semeru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s