Lima Pertanyaan Seputar Traveling yang Mengganggu

74 comments

Bincang sore saya dengan seorang rekan kerja mendadak hambar. Basa-basi atau bukan, entah. Namun saya malas menjawab pertanyaan ini. Saya alihkan topik pembicaraan. Lalu perbincangan usai seketika. Beres.

Wisata atau traveling seharusnya adalah sebuah topik yang sangat menarik untuk dibahas. Buat sebagian orang, mungkin tidak semenarik membahas perbedaan tafsir kitab suci, perceraian selebritas, atau tips memuaskan pasangan di ranjang.

Tapi buat saya, mendengar cerita teman yang hampir mati tenggelam pada suatu senja di Pantai Banje, Kroasia, atau cerita teman lain yang diperiksa oleh petugas imigrasi Malaysia adalah penyulut semangat.

Jika kemudian muncul pertanyaan atau pernyataan yang mengganggu telinga saya? That’s a different story. Saya biasanya akan tersenyum sambil mengangkat alis dan berpikir, “You’re not asking me that question, man“.

Inilah pertanyaan-pertanyaan seputar wisata yang bisa membuat saya—beberapa teman saya juga berpikir sama—merasa tidak nyaman.

1. Udah ke mana aja?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering membuat saya bingung. Bukan karena tempat yang sudah saya datangi ‘itu-itu saja’ atau bahkan dianggap banyak. Tapi, saya tidak mungkin merinci semua kota atau provinsi yang sudah saya singgahi, bukan?

2016-09-06-10.04.26-1.jpg.jpg
Saya tidak keberatan menggunakan uang tabungan untuk mengunjungi tempat yang sama lebih dari sekali. Terkesan ‘itu-itu saja’? Iya.

Saya lebih suka dengan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya tentang jalur pendakian yang paling saya suka atau festival paling menarik yang pernah saya ikuti. Jawaban saya dari pertanyaan itu mungkin lebih bermanfaat.

2. Baru liburan ya? Mana oleh-olehnya?

p1130743-01.jpeg
Berlibur hanya dengan satu tas membuat saya nyaman. Saya tidak harus menenteng tas lain berisi barang-barang yang saya beli di toko cinderamata.

Kecuali wajah saya membuat Anda mengira saya adalah anak kandung Bill Gates atau Joko Widodo, silakan tulis daftar oleh-oleh yang Anda mau. Jangan bayangkan saya tidak menghitung dan menyunat biaya perjalanan liburan saya selama ini. Penginapan gratis dan moda transportasi murah adalah pilihan saya. Saya kikir? Tidak. Saya cuma punya cara sendiri untuk menyenangkan teman-teman saya.

Baca juga daftar hadiah untuk teman traveller di sini.

Alasan lain. Ada sebagian wisatawan yang tidak gemar merampok diri sendiri di tempat berbelanja atau toko cinderamata ketika berlibur, dan saya adalah salah satunya. Jadi, wisatawan semacam ini memang jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, memasukkan toko cinderamata ke daftar kunjungannya selama liburan. Waktu kami terbatas. Tolong hargai kami.

3. Fotonya liburannya keren! Kameranya bagus ya?

img_20161013_080158.jpg

Hey, kamera mirrorless yang saya kalungkan selama liburan bukan kamera yang selalu bertengger di linimasa foto Instagram. Oke, saya tidak mengatakan bahwa kamera murah berarti tidak bagus. Hal yang ingin saya sampaikan adalah, jenis kamera bukan faktor tunggal untuk membuat foto yang (dianggap) menarik. Ada proses belajar yang saya jalani ketika sebagian orang lainnya sibuk menciptakan lagu atau berlatih sepak bola.

4. Sendiri lagi liburannya? Niat amat!

Oke, saya bukan Cinta yang harus ke mana-mana bareng geng AADC. Ketika saya berlibur, sebagian besar penyebabnya, saya penat dengan kegaduhan Jakarta. Maka, saya memilih untuk bersenang-senang sendirian.

p1170971-01.jpeg
Perkenalkan, ini teman-teman saya. Saya tidak selalu memilih untuk melakukan perjalanan seorang diri.

Selalu sendiri? Pasti tidak. Untuk mendaki gunung, saya belum berani sendirian. Tapi untuk menjelajahi budaya atau sejarah satu kota, saya lebih memilih untuk sendiri. Saya punya lebih banyak kebebasan untuk mengatur semua jadwal, tanpa harus mengalah atau memaksakan agenda perjalanan.

Baca juga tips melakukan solo traveling di sini.

5. Jalan-jalan terus. Uang lo banyak ya?

Pertanyaan ini mungkin senada dengan “Makan lo di tempat mewah terus” atau “Gw sih belanja baju jarang, ga kaya dia yang belanja aja harus baju merk mahal”.

Jadi begini, setiap orang pasti punya prioritas pengeluaran. Ketika saya—yang belum punya rumah atau kendaraan—menghabiskan sebagian besar tabungan saya untuk berlibur, mungkin Anda sedang mencicil rumah untuk keluarga Anda. Atau Si A mungkin lebih memilih makan di tempat mewah dengan baju seadanya, tapi Si B lebih memilih untuk pakai baju Zara untuk ke kantor lalu mambawa nasi bungkus ke rumahnya sepulang kerja. Begitu.

Bagaimana dengan Anda? Apa pertanyaan-pertanyaan di atas pernah membuat Anda terganggu? Atau ada pertanyaan lain seputar liburan yang juga membuat Anda tidak nyaman?

74 comments on “Lima Pertanyaan Seputar Traveling yang Mengganggu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s