Etika Pendakian, Perlukah?

Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan pendakian adalah penerapan etika antara pendaki dan alam. Bagaimana dengan etika antarsesama pendaki, pentingkah?

27 comments

Hujan masih menghujam tenda ketika saya terbangun. Saya meraih arloji dari saku tenda lantas meliriknya. Pukul tiga dini hari.

Bukan, bukan hujan yang membangunkan saya. Tenda ini kedap air, saya tidak khawatir. Sayang, tenda ini tidak kedap suara.

Suara itu datang dari luar tenda. Saya mengintip dari celah bawah vestibule tenda. Persis di sebelah tenda saya. Padahal tadi petang masih kosong.

Para pendaki yang menghuni tenda di sebelah tenda saya terkekeh-kekeh. Ada pula lagu Despacito versi house yang diputar dari portable speaker. Pukul tiga dini hari. Di gunung. Despacito. Versi house. Gusti nu agung!

Saya berusaha tidak menggerutu apalagi menegur, tidak sudi liburan saya tercemar emosi. Sabar saja dulu. Toh tujuan saya berkemah sendirian adalah bersenang-senang.

Apa yang saya lakukan sendirian ke gunung? Istirahat total dari interaksi dengan manusia. Ya, membatasi komunikasi dengan orang lain, seminimal mungkin.

Saya bukan pemburu sunrise di puncak gunung, sebenarnya. Saya juga agak tidak nyaman kalau ada teman atau rekan yang menempel label anak gunung buat saya. Bukan. Rakata anak gunung, saya bukan.

Saya cuma suka berlibur ke tempat yang menenangkan dan berudara sejuk. Maka pilihan paling menyenangkan adalah mendaki gunung, saya pikir.

2016-09-07-05.14.53-2.jpg.jpg
Suasana yang tenang adalah daya tarik utama gunung buat saya.

Oke, kita kembali ke dalam tenda. Malam itu, niat saya untuk melanjutkan tidur malah buyar. Rasio tidak mau diajak santai. Malah berpikir, sadarkah para tetangga ini bahwa gunung adalah tempat para pendaki mencari kesunyian, melipir sekejap dari hiruk pikuk?

Ah, tujuan orang kan berlainan. Mungkin ada yang mendaki gunung untuk ziarah, olah raga, memotret, atau gagah-gagahan.

Apa pun tujuan pendaki datang ke gunung , bukan urusan saya sebenarnya. Bebas-bebas saja selama kebebasan diri mereka tidak beririsan apalagi menyinggung kebebasan orang lain.

Namun satu hal yang menjadi rambu perilaku saya—di gunung atau bukan—adalah agar jangan sampai hal yang saya lakukan mengusik apalagi merugikan orang lain. Bersuara lantang—sekali lagi, di gunung atau bukan—bisa mengganggu orang lain. Berilah pendaki lain ruang untuk menikmati suara alam, meresapi keheningan, atau istirahat sebelum melanjutkan pendakian.

1060883
Kita tidak sendirian di lahan perkemahan, aturlah volume suara agar tidak mengganggu pendaki lain yang sedang beristirahat.

Tidak sulit rasanya mengatur volume suara kita sesuai dengan jumlah, jarak, dan daya dengar pendengar kita. Jangan, jangan salahkan suku atau daerah asal kita. Kawan saya yang berasal dari berbagai daerah bisa mengecilkan volume suara mereka ketika mereka membicarakan orang lain atau meminjam uang.

Artinya, mereka sadar akan dua hal. Pertama, suara mereka bisa terdengar orang lain. Kedua, sebenarnya mereka bisa mengatur volume suara mereka.

Baca juga: Zero Waste Adventure, Mendobrak Budaya Pendakian dengan Buku di sini.

Itu baru urusan kegaduhan. Pada hari yang sama, dan pada hari-hari pendakian sebelumnya, urusan lampu senter menjadi cerita lain.

Kerap saya merasa terganggu dengan lampu senter yang disorotkan ke tenda pada malam hari. Ketika saya sedang berada di tenda, ini mengganggu. Mau satu lapis atau dua lapis tenda saya, sorotan lampu pasti tembus.

Bahkan pada kemah terakhir, lampu senter disorotkan beberapa kali ke tenda saya. Sesekali mereka saling bertanya apakah tenda saya sedang diisi orang atau tidak, sendirian atau berduaan, seperti apa rupanya, dan seterusnya.

Entah apa tujuannya. Jika tujuan mereka memastikan saya dalam kondisi baik—karena sejak petang saya tidak muncul keluar tenda—mereka bisa menghampiri tenda dan mengucapkan permisi dan menyapa, bukan menyibak-nyibak tenda dengan sorot lampu.

2016-09-07-05.14.57-1.jpg.jpg
Mendaki bersama teman-teman cenderung menyenangkan. Namun, hormati pendaki lain dengan tidak terlalu gaduh adalah pilihan yang baik, saya pikir.

Bicara soal menyapa pendaki lain, saya juga jadi ingat percakapan saya dengan seorang teman di jalur pendakian, beberapa tahun lalu.

Topik pembicaraan kami saat itu, “kalau kita ngelewatin pendaki lain yang lagi duduk istirahat di jalur pendakian, gimana kita menyapa mereka?”. Teman saya menjawab, “permisi”.

Lalu saya tanya lagi, “kenapa kita yang harus minta permisi ke orang yang duduk ngehalangin jalan? Padahal beberapa pendaki yang kita lewatin sedang istirahat di tanah yang cukup lapang, jadi seharusnya mereka bisa menepi dari jalur pendakian”.

Jawaban teman saya sederhana: kesopanan dan kesantunan. Ah, ini perkara kebiasaan dan kebebasan setiap orang memaknai “sopan”.

Baca juga: Summit Attack sebelum atau setelah Sunrise di sini.

Menurut saya, sopan itu tidak beristirahat di jalur pendakian ketika tempat pendaki rehat adalah tanah yang cukup lapang. Apalagi ketika para pendaki lain sedang ramai lalu lalang. Keadaan darurat tidak masuk dalam hitungan, oke? Akan tetapi, saya biasanya tetap sapa mereka dengan ucapan selamat siang atau selamat pagi.

2016-09-07-05.14.55-2.jpg.jpg
Para pendaki memanfaatkan tempat peristirahatan untuk rehat.

Sejujurnya, saya bukan orang yang senang berkenalan atau berbasa-basi dengan orang lain. Namun, entahlah, hal ini jadi terjungkir balik ketika saya berada di gunung.

Saya selalu menyapa pendaki di jalur pendakian. Mereka yang beristirahat, mereka yang berpapasan, atau mereka yang saya persilakan untuk mendahului ketika saya ingin berjalan santai di jalur sempit.

Buat saya, menyapa pendaki lain yang saya temui di jalur pendakian atau di tempat kemah itu perlu. Pertama, senyum membuat saya senang dan melupakan letih, disadari atau tidak. Kedua, bertegur sapa dengan orang baru membuat saya merasa aman berada di alam bebas.

View this post on Instagram

Rinjani, 2015.

A post shared by Guratan Kaki (@iyoskusuma) on

Maka saya anggap, etika pendakian sangat perlu untuk diindahkan oleh saya sebagai pendaki. Bagaimana menurut Anda? Seberapa penting etika pendakian menjadi rambu untuk menuntun para pendaki berperilaku di gunung?

27 comments on “Etika Pendakian, Perlukah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.