Bhumi Hostel Membuat Saya Malas

Bhumi Hostel memiliki nilai lebih yang tidak dimiliki setiap hostel: suasana seperti di rumah.

29 comments

Awalnya saya menyangka berlibur ke Yogyakarta pada libur akhir tahun adalah sebuah ide buruk. Saya akan terperangkap di tengah “cendol wisatawan”, pemilik penginapan akan menaikkan tarif sewa kamar, kemacetan terjadi dari A sampai Z. Namun saya salah.

Akhir tahun lalu, saya menjadikan Yogyakarta sebagai kota singgah selama dua malam, sebelum saya menghadiri pernikahan teman di Muntilan. Saya tidak merencanakan untuk banyak keluyuran di Yogyakarta.

Rencana saya adalah menghabiskan setengah hari bermain, lalu menikmati sisanya bermalas-malasan di tempat menginap. Beruntung, saya menemukan penginapan ini. Tempat saya bisa sangat menikmati waktu bermalas-malasan di Kotagede, Yogyakarta. Selamat datang di Bhumi Hostel.

FB_IMG_1515654855119.jpg
Teras Bhumi Hostel.

“Iyos Kusuma”, kata saya sambil mengulurkan KTP. Receptionist mencocokkan dan menyalin identitas saya. Lalu ia menawarkan saya untuk trip singkat keliling hostel. Saya mempersilakan.

Kesan pertama tentang Bhumi Hostel: homy. Tempat ini terlihat seperti rumah yang disulap menjadi hostel. Ada teras, ruang tamu, kamar-kamar di sisi koridor, ruang makan dan dapur, kamar mandi di belakang, serta tempat mencuci dan menjemur pakaian.

FB_IMG_1515654898454.jpg
Ruang makan dan dapur Bhumi Hostel, tempat para tamu bertukar cerita ketika hujan.

Serah terima kunci loker dan sehelai handuk pun mengakhiri short trip ini. “Mas, makanan yang enak dan berkuah di dekat sini apa ya?”, tanya saya. Yogyakarta tak berhenti menyiram hujan hari itu. Sejak saya tiba pada sore hari, hujan belum juga jemu mengguyur.

Ternyata, di depan Bhumi Hostel saya bisa menemukan banyak penjual makanan yang mengitari sebuah lapangan sepak bola. Hati saya langsung terpikat pada mi godog, tepat di depan hidung Bhumi Hostel. Mantap dimakan ketika hujan begini.

Pada malam lainnya, saya mengajak seorang tamu hostel dari Belanda untuk mencoba sate sapi di sisi lain lapangan. Pada pagi dan siang hari pun, lapangan ini tak ditinggalkan para penjual makanan. Mudah mencari makan di Bhumi Hostel. Ada Gofood pula yang saya gunakan sekali untuk memesan babi guling khas Bali.

Namun favorit saya, adalah suasana lapangan kala senja. Anak-anak bermain sepak bola, ibu-ibu menggendong anaknya dengan kain samping sambil menyuapi makan, beberapa orang lainnya duduk di tribun atau di atas motor menonton sepak bola. Adem sekali. Bodoh sekali saya tidak sengaja menghapus semua foto ini.

Jangan salahkan saya karena saya menjadi malas dan tidak bermain jauh selama di Yogyakarta. Satu-satunya tempat yang saya kunjungi adalah Pantai Timang, sisanya hanya di hostel dan lapangan bola. Bhumi Hostel, sekali lagi, seperti rumah (as a home and as a house).

Baca juga: Uji Nyali dengan Gondola Pantai Timang di sini.

FB_IMG_1515654895406.jpg
“Staf” berbulu di Bhumi Hostel. Mereka siapa menyambut dan bermain dengan para tamu.

Saya bisa berjam-jam berada di teras, tak peduli pagi, siang, sore, atau malam. Kecuali saat hujan, karena air menciprat masuk. Saran saya untuk pengelola, pasanglah pelindung hujan yang bisa digulung saat hari cerah.

Ada apa di teras? Saya bisa bersantai di atas hammock, memandangi halaman yang bertaburan tanaman-tanaman dapur, sambil bermain dengan anak anjing dan anak-anak kucing.

FB_IMG_1515654905476.jpg
Nah ini hammock yang membuat saya semakin betah bermalas-malasan. Salahkan hammock ini.

Jika Anda tidak bermasalah dengan hewan berbulu, apalagi mencintai mereka, datang saja ke Bhumi Hostel. Mereka punya beberapa anjing dan kucing.

Kabar terbaru, salah satu anjing mereka, Jaani, mati karena racun atau virus. Sedangkan sisanya, Scottea dan Madu si anak anjing, hilang. Semoga cepat kembali. Saran saya juga, jika mereka sudah kembali, lebih sering memandikan mereka akan membuat mereka semakin menggemaskan.

Tadi saya menyinggung soal tanaman-tanaman dapur. Iya, halaman hostel yang dipenuhi tanaman-tanaman dapur ini juga ikut diperkenalkan ketika saya tiba di Bhumi Hostel. Sayang, saya lupa meminta sebuah jahe atau beberapa helai daun mint untuk dicampur dengan teh hangat.

FB_IMG_1515654903052.jpg
Seperti di hostel-hostel kebanyakan, kopi dan teh disediakan gratis bagi tamu. Tamu dipersilakan membuat sendiri dn mencuci gelas sendiri setelahnya.

Pemilik Bhumi Hostel nampaknya cukup peduli dengan isu lingkungan. Mulai dari menanam banyak tanaman, melakukan pembusukan sampah domestik untuk pupuk, hingga hanya menyediakan menu vegetarian untuk sarapan tamu. Ah, jangan lupa, mereka juga menyediakan nasi kuning vegetarian yang bisa dipesan oleh tamu atau melalui Gofood. Patut dicoba.

FB_IMG_1515654900888.jpg
Salah satu sudut halaman Bhumi Hostel yang ditumbuhi tanaman.

Secara keseluruhan, saya sangat puas menginap di Bhumi Hostel. Tempat yang bersih dan nyaman di lingkungan yang sangat tenang, staf hostel yang sangat informatif dan berguna, dan tarif menginap yang masuk akal ini akan membawa saya kembali jika saya mengunjungi Yogyakarta di kemudian hari. Silakan mencoba!

Bhumi Hostel

Jalan Raden Ronggo 1 nomor 14

Kotagede, Yogyakarta, 55720

+62742841017

info@bhumihostel.com

29 comments on “Bhumi Hostel Membuat Saya Malas”

  1. Dari dulu udah mengincar Bhumi Hostel ini. Letaknya di Kota Gede pula. Namun kok molor aja hingga belum kesampaian menginap di sana sampai sekarang. Baiklah, akan segera saya coba hahaha. Btw harga dorm kisaran berapa?

    Liked by 1 person

  2. 2011-2012 saya sempat ngantor di Kotagede dan Lapangan Karang jadi lokasi favorit buat cari makan. Jam istirahat suka leyeh-leyeh di tribun. Tapi kok nggak ngeh ada Bhumi Hostel ya? Atau hostel ini termasuk baru? Duh jadi kangen blusukan di Kotagede lagi.

    Like

  3. Lama nggak mampir di guratan kakinya Mas.Iyos, ternyata banyak tulisan yang baru. Semalam berapa ribu Mas di Bhuni Hostel, kalau bangunan hotelnya apa juga bangunan tua khas Kota Gede ?

    Like

    1. Wah.. Apa kabar, Mas Ari? Bhumi Hostel ini murah banget, mungkin termasuk yang paling murah di Jogja. Semalamnya ga sampai 100.000 kok. Bangunannya juga antik-antik kaya rumah jaman dulu. Asik.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.