Hikayat Pelaut Sawarna

35 comments

Saya terdiam di atas perahu. Duduk diombang-ambing gelombang. Ini adalah hari ketiga saya di Desa Sawarna. Kalau saja kulit wajah ini belum terpanggang terik matahari, pasti saya sudah terlihat seperti tuyul yang kedapatan mencuri. Pucat pasi.

1463316905737.jpg
Saya menumpangi perahu salah satu nelayan di Desa Sawarna, perahu kecil yang biasanya dinaiki oleh satu hingga tiga orang setiap melaut.

Saya melempar pandangan sejauh mungkin, berusaha melekatkan tatapan pada pucuk tebing-tebing karst di garis pantai. Saya berusaha tidak melihat apa pun yang ikut borgoyang di atas gelombang laut. Seperti isi perut ini dikocok-kocok.

Sudah satu jam. Otak kecil di belakang kepala masih berusaha keras untuk beradaptasi dengan kapal yang bergoyang liar. Saya masih merasa mual. Obat antimual berkhianat.

Saya membenahi kain slayer kecil yang melingkar di leher, berupaya menahan angin yang bertiup kencang dari arah selatan, Samudera Hindia. Rupanya Pak Rengga melihat saya.

“Bawa jaket atau sarung kan?”, Pak Rengga bertanya sembari sibuk di buritan perahu. Suaranya tak jelas terdengar, seperti ikut terbawa angin ke tengah samudera.

Saya tidak menjawab. Tidak berani menatap apa pun yang ikut bergerak terbuai ombak, termasuk Pak Rengga. Baru sekitar dua jam lalu, kami masih berbincang-bincang di atas pasir putih yang menghampar di Pantai Ciantir, Desa Sawarna. Pak Rengga adalah nama samaran dari seorang nelayan yang saya tumpangi perahunya.

1463317030151.jpg
Perahu-perahu nelayan di Pantai Ciantir, Desa Sawarna. Sekitar pukul empat sore, ratusan perahu di Desa Sawarna melaut hingga sebelum hari terang.

“Siap-siap melaut, Pak?”

“Iya, A. Engke tabuh opat lah

Sabaraha jalmi ieu di kapal?”

“Sekarang mah sendirian. Teman lagi di luar kota. Mau ikut?”

“Jam berapa sampai di sini lagi, Pak?”

“Jam 5 pagi juga udah di pantai lagi”

Lalu sekali lagi saya membenci diri saya petang itu. Apa yang kamu perbuat terhadap dirimu, Yos? Nekat menebus rasa penasaran akan suatu hal yang baru dengan bermalam di atas sebuah kapal kecil. Tanpa jaket. Tanpa sarung. Baju yang melekat di badan saya adalah kaus tipis yang saya gunakan bermain d pantai sepanjang hari.

“Bawa jaket atau sarung kan, A?”, Pak Rengga mengulangi pertanyaannya. Saya hanya membalas dengan senyum nyengir.

“Jam berapa ini jaringnya dilempar, Pak?”. 

“Habis maghrib”.

Saya kembali melempar jauh pandangan ke arah jauh. Kali ini ke bibir pantai. Terlihat orang-orang seperti titik-titik kecil di kejauhan. Saya semakin jauh dari daratan.

Dari laut, terlihat jelas bangunan-bangunan semi-permanen berjejer di pesisir Pantai Ciantir, yang menjadi pembatas Desa Sawarna dengan Samudera Hindia. Kebanyakan adalah pondok yang disewakan untuk para pelancong.

Berbeda dengan kondisi di Desa Sawarna, penginapan di Pantai Ciantir adalah bangunan semi-permanen. Pantai berpasir putih di selatan Kabupaten Lebak, Banten, ini dikuasai oleh PT Perkebunan Negara VIII. Warga yang mencari peluang bisnis penginapan di sana tentu harus siap akan penggusuran bangunan mereka. Tanpa menuntut ganti rugi.

Pamor Sawarna sebagai tempat wisata belum apa-apa jika dibandingkan dengan pantai lain di Banten, seperti Anyer atau Tanjung Lesung. Namun, saya tak menduga akan mendapati puluhan homestay di Desa Sawarna.

Mencari Impun #sawarna

A post shared by Guratan Kaki (@iyoskusuma) on

Sektor perikanan tentu tak dicampakkan warga di tengah manjurnya bisnis wisata yang tumbuh bak jamur sejak 2012. Tak selalu perlu perahu untuk menangkap hewan-hewan laut. Beberapa penduduk desa berbaris di bibir pantai pada pagi hari, menangkap impun dengan alat seadanya. Pada sore hari, warga asyik memancing ikan di antara gugusan batu karang.

1463317001609.jpg
Aktivitas memancing ikan ramai terlihat di gugusan batu karang pesisir Sawarna pada sore hari.

Namun yang ditangkap para nelayan yang menunggangi perahu bukanlah ikan. Saya salah menduga. Pak Rengga bersama ratusan nelayan lain di Desa Sawarna lebih memilih menangkap anak-anak lobster. Benur, mereka menyebutnya.

“Harga benur jauh lebih mahal, kalau lagi tinggi, harganya bisa sampai Rp 40.000,00 seekor,” Pak Rengga menjelaskan. Saya kira saya salah mendengar, atau Pak Rengga salah bicara. Namun, ternyata tidak. Bibit-bibit lobster itu dijual hingga Rp 40.000,00 per ekor!

Dalam semalam, satu kapal nelayan bisa menjaring puluhan hingga ratusan ekor benur. Hitung saja berapa rupiah yang mereka kumpulkan.

Pak Rengga mematikan mesin perahu. Hening kini. Hanya ada kesiur angin dan suara air yang menampar badan perahu setiap gelombang datang.

Di kejauhan, sayup suara adzan terdengar dari surau. Sudah hampir gelap. Pak Rengga cekatan melempar jangkar di kedalaman sekitar 20 meter. Jangkar sederhana. Hanya sebongkah batu yang diikat dengan tambang dan sebatang kayu.

Tak lama, selusin jaring hijau yang diikat pada bongkahan-bongkahan batu pun dilempar ke laut. Masing-masing ujung jaring diikat di berbagai penjuru perahu. Pak Rengga bergerak cepat. Seolah ingin memamerkan kepiawaiannya mendulang uang di laut.

Semua pekerjaan sudah dilakukan. Pak Rengga duduk menyesap rokok filternya. Sesekali, ia melahap biskuit cokelat yang ia bawa sebagai bekal bermalam. Kami saling berbagi makanan.

1463316772208.jpg
Lampu-lampu neon yang dipasang untuk memancing berkumpul si bawah perahu.

Saya merebahkan badan di tengah perahu. Gelap sudah menggerayangi langit. Mendung pula. Ratusan lampu neon dari perahu-perahu lain berjejer, seperti mutiara yang ditata rapi di lingkaran garis cakrawala. Menjadi pembatas antara langit dan laut yang sama-sama hitam malam itu. Nyaris tak terlihat batas keduanya.

Goyangan gelombang laut membuai saya dalam lamunan. Saya kembali ke masa lima tahun silam, ketika saya terombang-ambing hebat bersama para anggota TNI Angkatan Laut dan kadet-kadet Akademi Angkatan Laut di Laut Tiongkok Selatan. Muhibah kapal yang kami naiki, KRI Dewaruci, menuju Guangzhou terhambat topan setelah bertolak dari Manila. Hampir 24 jam lamanya, saya mengurung diri di kamar. Sejak itu, saya belum pernah berniat mengarungi laut luas dengan kapal kecil lagi. Saya masih tidak percaya akan keputusan saya bermalam di perahu ini sekarang. Perahu yang berukuran puluhan, atau mungkin ratusan kali lebih kecil dari KRI Dewaruci.

Saya terbangun. Angin di lautan yang dikenal sebagai ‘angin yang jahat’ menerpa kencang. Perahu kami makin tak karuan bergoyang seperti wahana di taman hiburan. Ah, Kora-kora tak ada apa-apanya kalau sudah begini.

Firasat saya tak luput. Hujan lebat datang menghujam laut seketika. Pak Rengga terbangun, nampak terperanjat. Ia langsung meminta saya membantunya menggelar terpal sebagai atap perahu.

Pakaian kami sedikit basah. Membuat angin darat terasa semakin jahat. Saya menggigil. Pak Rengga menyelipkan sebatang rokok lagi di bibirnya. Seraya menyesap rokok, ia mulai menarik jaring yang ia lempar petang tadi. Matanya begitu awas mencari sesuatu yang terjaring.

Saya menunggu. Penasaran melihat rupa bibit lobster yang sempat ramai hinggap di halaman utama beberapa harian nasional pada awal tahun 2015 silam. Ini soal Susi Pudjiastuti.

Awal tahun lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, melahirkan peraturan yang dianggap kontroversial: melarang penangkapan bibit tiga jenis hewan laut: lobster, kepiting, dan rajungan. Suatu peraturan yang telah mengusik zona nyaman sebagian orang. Katakanlah eksportir besar, dan tentunya para nelayan.

Susi mengawali karirnya sebagai pengepul ikan di Pangandaran. Jauh sebelum ia menjadi menteri paling polpuler karena gaya, penampilan, dan kebijakannya yang kontroversial. Penenggelaman kapal-kapal asing pencuri ikan dan larangan penangkapan benur, misalnya. Belakangan ini, Susi melunak. Larangan penangkapan lobster akan dilonggarkan dengan sejumlah persyaratan dan pengecualian.

“Kita pernah demo di Jakarta, A. Kita minta supaya ekspor benur ini jadi legal. Kan bisa jadi devisa negara. Besar pasti!”, Pak Rengga terlihat bersemangat, seperti siap mengeluarkan argumen-argumen untuk meruntuhkan legalitas peraturan sang menteri.

Selama ini, Pak Rengga dan rekan-rekan nelayannya menjual benur tangkapan mereka ke seorang pengepul benur. Hasilnya, untuk diekspor. Ekspor ilegal. Beberapa bulan kemudian, mungkin benur-benur tangkapan Pak Rengga sudah tergolek pasrah di bawah ayunan pisau seorang koki di Jepang. 

Lobster dihargai tinggi sebagai santapan. Di rumah-rumah makan di Jakarta, harga setengah kilogram lobster bisa mencapai lebih dari Rp 250.000,00. Ya, seperempat juta rupiah.

1463316963749.jpg
Benur, istilah yang digunakan untuk menyebut bibit udang, termasuk lobster.

Pak Rengga menyodorkan suatu benda transparan pada saya,”Ini benur, A”. Kecil sekali. Panjangnya mungkin hanya 1 sentimeter. Seperdelapan kali ukuran lobster yang diperbolehkan untuk ditangkap, sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 1 tahun 2015.

Malam itu, tiga kali Pak Rengga melempar dan menarik keduabelas jaringnya. Hampir seratus benur ia peroleh. Semuanya ia kumpulkan dalam wadah styrofoam seukuran kotak sepatu.

Pak Rengga akan pulang ke rumah membawa uang. Uang yang akan ia timbun untuk mengubah taraf hidup keluarganya, katanya. Anaknya tiga. Ia masih ingin tiga anak lagi dari istrinya. “Anak saya harus sekolah tinggi, biar kayak orang. Kerja bener,” tutur Pak Rengga. 

Di kejauhan, langit mulai meradang kemerahan dari balik tebing-tebing karst. Cahaya matahari pagi mulai merambat merenggut galap. Mesin perahu meraung memecah hening subuh. Perahu kami melaju menuju daratan.

Pagi itu, saya bergegas kembali ke Jakarta. Satu malam yang berbeda saya lalui di Sawarna. Menutup lawatan tiga malam saya di sana.

Suatu petang, saya berdiri di depan pusara van Gogh di Sawarna. Batu nisannya sedikit berlumut. Tunggu! Siapa van Gogh yang dimakamkan di sini? Bukankah van Gogh….? Temukan jawabannya di sini

Advertisements

35 comments on “Hikayat Pelaut Sawarna”

  1. wah, kapalnya kecil sekali
    kapal yang pernah saya tumpangi buat nangkap ikan jauh jauh lebih besar, tapi berhasil bikin muntah
    gimana dengan kapal yang sekecil itu
    saya ga bisa bayangin gimana perasaanmu diombang-ambing laut mas, 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s