Nirwana Sawarna

13 comments

Saran Pak Iyus agar saya mengunjungi sebuah makam terdengar aneh. Saya sedang berada di Desa Sawarna, desa di pesisir selatan Kabupaten Lebak, Banten. Saya lebih mengharapkan mendapat informasi lain, seperti pantai sepi berpasir lembut, tempat burung-burung camar mencari ikan.

“Makam? Kuburan?”

“Iya. Kuburan van Gogh”

“van Gogh? Makam van Gogh di sini?”

Saya berjalan kaki di bibir Pantai Ciantir, mencoba mengingat arah yang ditunjukkan Pak Iyus. Pak Iyus, pemilik penginapan yang saya singgahi, adalah seorang pendatang di Desa Sawarna. Sejak 2003, ia ditempatkan mengajar di sebuah sekolah dasar di sini. Selama di Sawarna, saya menempati sebuah kamar yang ia sewakan untuk wisatawan, tepat di depan Pantai Ciantir. Ada jejak van Gogh di Sawarna? Saya masih tidak habis pikir.

1150968
Saung-saung berjejer di tepi pantai. Penduduk menyewakan saung kepada para wisatawan dengan tarif beriksar Rp 100.000,00 per malam.

Gelombang air laut bergulung-gulung di sisi kiri saya. Ombak buas khas pantai selatan Pulau Jawa, Samudera Hindia. Pantai Ciantir pada hari Kamis itu sepi. Hanya beberapa wisatawan yang asyik bermain air di kejauhan. Peringatan tertulis agar wisatawan tidak berenang di pantai beberapa kali saya temui di sepanjang garis pantai. Sebuah peringatan serius. Manusia tidak diciptakan seperti kepiting-kepiting kecil yang berlarian di atas pasir, kegirangan menjemput ombak, lalu hilang, lalu muncul lagi. 

Tak jauh saya menyusuri pantai, saya berbelok ke arah desa. Beberapa warga terlihat sedang sibuk menyelesaikan pembangunan penginapan kecil. Di Desa Sawarna, penginapan seperti homestay jamak sekali saya temukan. Hampir semua rumah yang saya lalui di jalan desa menuju pantai adalah rumah dengan kamar-kamar yang disewakan. Saya tak menduga, masyarakat di kawasan wisata yang belum lama naik daun ini telah berbenah menyediakan fasilitas wisata secara mandiri. 

1160085.jpg
Penginapan-penginapan murah menjamur di Desa Sawarna sejak 2013. Ada puluhan penginapan jenis homestay di Desa Sawarna dengan tarif sekitar Rp 100.000,00 – Rp 500.000,00 per kamar atau per cottage.

Penjaga penginapan pada siang hari kebanyakan adalah wanita. Mayoritas kaum pria dewasa malah sering saya lihat berada di sawah atau mencari ikan di laut. Sedangkan kaum muda, lebih banyak saya lihat meraup rupiah dengan menarik ojek bagi para wisatawan. Maklum, jarak antara tempat-tempat wisata di Desa Sawarna terletak berjauhan. 

1463153239287.jpg
Letak antartempat wisata di kawasan wisata Desa Ciantir membuat bisnis ojek pun menggeliat.

Saya menyapa salah satu tukang ojek yang saya temui. “Itu, deket. Di depan lapangan,” ujarnya sambil menunjukkan saya letak makam van Gogh. Ia menunjuk ke sebuah batu berlumut yang terletak di depan lapangan sepak bola. Saya tak sabar.

1463153132937.jpg
Prasasti Jean Louis van Gogh. Masyarakat setempat memagari batu makam van Gogh dengan tembok biru setelah sempat terjadi vandalisme.

Saya mendapati sebuah batu kubur berwarna abu-abu yang dikelilingi oleh tembok biru setinggi satu meter, tembok yang jelas tidak dibangun bersamaan dengan peletakan batu kubur di sana. Terlihat baru. Di sekelilingnya hanya alang-alang. Tidak ada makam lain.

Jean Louis van Gogh. Itu nama yang terpatri di prasasti. Jadi, bukan Vincent Willem van Gogh? Seketika saya merasa bodoh berharap menemukan makam sang maestro Vincent Willem van Gogh, di sebuah desa yang terletak sekitar 200 kilometer dari Jakarta.

“Ini katanya masih saudaranya, siapa itu tadi? Pelukis tadi… Vincent van Gogh,” Pak Tukijo mencoba mengingat nama yang nampak sudah lama tidak ia sebut.

Saya berkenalan dengan Pak Tukijo, seorang pria yang tengah berada di sebuah pondok di dekat makam van Gogh.

Sejak 1975, Pak Tukijo ditugaskan oleh PT Perkebunan Negara VIII untuk mengurus perkebunan kelapa seluas 55 hektar di Desa Sawarna. Areanya juga mencakup Pantai Ciantir hingga ke Tanjung Layar, semenanjung dengan dua batu karang besar yang menjadi ikon pesisir Sawarna.

1463153370031.jpg
Dua batu karang di Tanjung Layar. Tempat ini menjadi salah satu tempat wisatawan menunggu sunset di pesisir Sawarna.

“Tanah PTPN ini kan dulunya punya Belanda. Nah, yang ngelola ini Jean Louis van Gogh. Dia tentara Belanda yang pertama punya kebun kelapa di sini,” Pak Tukijo melengkapi ceritanya.

Saya mencoba mencari hubungan sang tuan tanah ini dengan sang maestro pasca-impresionis yang termahsyur dengan karya berjudul Starry Night, Vincent van Gogh.

Penelusuran saya masih sumir. Namun, situs geneagraphie.com menyangkal pernyataan Pak Tukijo. Jean Louis van Gogh memang disebut memiliki saudara sepupu bernama Vincent Wilhelm van Gogh dan adik bernama Vincent Willem van Gogh. Namun kedua Vincent ini tidak tertulis sebagai Vincent Willem van Gogh, sang pelukis yang tewas bunuh diri di Perancis tahun 1890.

Semasa hidupnya, Jean Louis disebut pernah membangun mimpi. Sebuah mimpi untuk Sawarna. Ia ingin Sawarna dikenal oleh dunia kelak. Bagi saya, impian Jean Louis bukan mimpi yang muluk.

Saya melihat pantai di Desa Sawarna sebagai nirwana yang tersembunyi di pesisir selatan Banten. Pamornya memang masih kalah jauh jika harus bersaing dengan pantai lain di Banten, sebutsaja  Anyer atau Tanjung Lesung.

Saya mencoba menerka maksud dari Sawarna yang berarti satu warna dalam Bahasa Sunda. Apa yang disebut satu warna? Pesona pesisir Sawarna tidak monoton seperti keindahan yang ditawarkan oleh beberapa pantai lain di Banten.

11503650.jpg
Peta kawasan wisata Desa Sawarna.

Sawarna memiliki 26 goa karst yang tersebar di sepanjang pesisir, meskipun hanya tiga di antaranya yang diperkenalkan kepada wisatawan oleh warga setempat sebagai tujuan wisata. Goa Lalay, misalnya, menjadi salah satu tujuan beberapa wisatawan di Sawarna. Warga desa bahkan sudah mandiri menyewakan perlengkapan caving seadanya di mulut gua.

Karang Beureum dan Karang Taraje juga menjadi tempat di pesisir Sawarna yang menjadi ramai disambangi wisatawan. Keduanya adalah batu karang besar yang terletak di antara gugusan batu karang di bagian timur pesisir Sawarna. Pemandangan ombak yang pecah menghantam batu karang pada petang hari adalah salah satu panorama yang disajikan bagi pelancong.

1463153198921.jpg
Aktivitas penduduk mencari impun pada pagi hari menjadi salah satu obyek foto bagi pencinta fotografi.

Belum lagi dua batu karang yang beridiri menjulang berbentuk layar perahu di Tanjung Layar. Tempat ini menjadi tempat para wisatawan menyaksikan terbenamnya matahari sambil berfoto di depan kedua batu karang.

1463153166756.jpg
Menjelang sore, penduduk Desa Sawarna pergi ke pantai untuk memancing ikan. Debur ombak yang menghantam gugusan karang membuat para pemancing berhati-hati berdiri di gugusan

Suatu ketika, saya sengaja mengisi hari di Sawarna dengan berjalan kaki menyusuri bibir pantai ke hampir semua tempat wisata di sana. Ah, saya masih terbius oleh biru samudera dan putih pasir di sana. Sungguh, membawa ketenangan. Saya berbaring tenang di pasir putih. Kepiting-kepiting kecil tidak takut berlarian di sekitar badan saya, seolah saya telah menyatu dengan alam. Saya juga menikmati bercengkrama dengan warga-warga desa yang asyik memancing ikan di antara gugusan batu karang.

Namun Pantai Ciantir adalah primadona di Desa Sawarna. Pantai berpasir putih yang terbentang hingga 3,5 kilometer ini menjadi tempat kesukaan para wisatawan bermain pasir atau menunggangi ombak di atas papan seluncur.

1463153087575.jpg
Beberapa wisatawan menikmati sepinya Pantai Ciantir pada hari kerja. Pada akhir pekan, pantai ini ramai dikunjungi wisatawan. Sebagian besar dari Jawa Barat dan Jakarta.

Kenyataannya, para peselancar Australia lah yang disebut oleh warga Sawarna sebagai kelompok yang pertama memajang pesona pesisir Sawarna di internet pada sekitar tahun 2002.

Sejak itu, para penantang ombak dari berbagai negara di Eropa juga berdatangan ke Sawarna. Nama Sawarna sebagai tujuan wisata, justru baru ramai diperbincangkan di dalam negeri pada tahun 2012. Indikatornya ialah menjamurnya bisnis pariwisata di Sawarna mulai tahun 2012.

“Bu Atut pernah ke sini tahun 2012. Dari situ, Sawarna mulai ramai sama turis lokal. Jalan juga mulai dibangun jadi bagus. Walau masih sempit,” ujar Pak Iyus pada suatu malam. Malam saya di Desa Sawarna banyak saya lewati sambil menyesap kretek dan menyeruput kopi bersama beberapa warga Desa Sawarna. Banyak cerita dari warga setempat yang tidak tersedia di mesin pencari Google.

Pada satu malam, saya berbincang dengan Pak Iyus dan keluarganya. Ia menceritakan sepak terjang bisnisnya menyewakan sebuah kamar dan empat saung di Sawarna sejak tahun 2013.

Menggiurkan. Pada akhir pekan, warung dan saungnya selalu menyedot uang para wisatawan. Pada masa libur panjang pertengahan Mei lalu, usaha keluarga Pak Iyus telah menghasilkan keuntungan jutaan rupiah.

“Belum lagi kalau Lebaran atau tahun baru. Panen! Bisa puluhan juta. Alhamdulillah, ini anak yang paling besar juga bayar semesteran kuliah pas habis libur tengah tahun sama libur akhir tahun”, istri Pak Iyus sedikit membeberkan keuntungannya. Istri Pak Iyus selalu bangga menceritakan putra sulungnya yang kini tengah mengenyam pendidikan sekolah keperawatan di salah satu perguruan tinggi di Sukabumi, Jawa Barat.

Tentu bukan hanya warga Sawarna yang melihat peluang wisata Sawarna sebagai kilau intan yang siap digosok.  Para pemodal di luar daerah juga mengincar lahan-lahan di Desa Sawarna.

Banyak warga Desa Sawarna yang akhirnya tergiur dengan iming-iming rupiah yang ditawarkan para investor. Tanahnya di Desa Sawarna dijual  ke investor dari kota lain, seperti Jakarta, dengan harga ribuan rupiah per meter. Murah sekali. Pak Iyus menyebut, semeter tanah di Desa Sawarna dihargai hingga Rp 400.000,00 per meter kini.

“Malah katanya, Ibu Atut rencananya mau bangun hotel di sini. Tapi keburu kena kasus kan?” tambah Pak Iyus. Saya baru sadar, tidak ada hotel besar di sini. Apa pemerintah daerah tidak berusaha menggandeng investor membangun hotel?

Pemerintah provinsi Banten bukan tidak peka akan kemilau pesisir Sawarna. Pembangunan daerah wisata Sawarna tidak bisa dilakukan semena-mena, karena tanah yang terletak di dekat Pantai Ciantir masih dimiliki PTPN VIII.

Listrik pun baru masuk ke Desa Sawarna pada sekitar tahun 2013. Fasilitas-fasilitas penunjang pariwisata seperti penginapan, pusat informasi, rumah makan, atau toilet di pinggir pantai masih terlihat hasil swadaya masyarakat setempat.

Entah bagaimana rupa Sawarna beberapa tahun ke depan. Kian melejit seperti mimpi van Gogh dengan diikuti pembangunan hotel-hotel berstandar internasional, atau malah tetap tumbuh berkembang lamban dengan upaya swadaya masyarakat setempat membangun sektor pariwisata.

Saya lebih memilih yang kedua. Meski harus rela menebus decak kagum akan pesona keheningan Sawarna —yang jauh dari ingar bingar perkotaan— dengan letih perjalanan dan fasilitas ala kadarnya di bibir pantai.

Pada tengah malam berikutnya, saya terbangun di atas sebuah perahu nelayan, di tengah laut. Angin kencang menghempas gelombang, membuat perahu bergoyang hebat. Hujan pun menikam laut. Ikuti cerita lengkapnya di sini.

13 comments on “Nirwana Sawarna”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s