Nyomie & Max: Another 3.000 mdpl Story

Seperti apa cerita di balik pendakian 30 gunung yang dilakukan Nyomie bersama anaknya, Max? Apa pula yang sebenarnya membawa keduanya selalu kembali ke jalur-jalur pendakian?

7 comments

Hampir semua penulis cerita pendakian yang saya tahu adalah penikmat kabut pegunungan, sunrise yang cerah, atau mencintai keduanya. Tak ayal, kisah-kisah yang mereka ceritakan melalui tulisannya adalah cerita yang fokus pada pengalaman menikmati keindahan di jalur pendakian.

Namun Nyoman Syakarsih adalah sebuah anomali. Ia adalah seorang dokter hewan di Jakarta yang gemar menapaki jalur-jalur pendakian sejak ia masih mengenakan rok abu-abu di sekolah. Nyomie, panggilannya.

Mengapa saya sebut Nyomie sebagai anomali di lautan penulis cerita pendakian? Ketika sebagian besar penulis terjebak di dalam rel yang menuntun mereka untuk hanya mengekspos keindahan alam pegunungan, Nyomie berjalan di luar rel.

Nyomie menyelami zona yang lebih dalam. Ia banyak menulis soal pengalaman batin yang ia dapatkan dalam pendakian, lalu kemudian pengalaman fisik, baru terakhir, sepercik cerita-cerita soal keindahan alam—sebagai pemanis.

Semua cerita di atas, Nyomie rangkum dalam 163 halaman bukunya yang berjudul Nyomie & Max: Another 3.000 mdpl Story di bawah naungan Penerbit Mizan. Saya merasa sungguh beruntung, mendapat kehormatan untuk diminta menulis testimoni pendek di dalam buku ini.

Pada Sabtu, 15 September 2018, Nyomie merilis bukunya dalam acara Indonesia International Book Fair 2018 di Jakarta Convention Center. Bersamaan dengan peluncuran buku, ada pula sesi bincang-bincang yang diikuti sesi tanya jawab bersama para pengunjung pameran.

IMG-20180915-WA0006-02.jpeg
Nyomie dan saya sebagai pembicara dalam peluncuran buku Nyomie & Max: Another 3.000 mdpl Story.

30 Puncak, 5 Tahun, 1 Kasih Sepanjang Masa

“..dan berlibur juga bukan bagian dari memamerkan kekayaan. Aku hanya ingin Max tidak membenci pekerjaanku kelak karena aku yang terlalu sibuk berjuang sendirian untuk hidup kami”—Nyomie.

Kekuatan cerita Nyomie ada pada anak semata wayangnya, Max. Ia adalah seorang anak istimewa yang dibesarkan Nyomie untuk dekat dan bersahabat dengan alam.

Sejak usia lima bulan (ya, Anda tidak salah membaca), Max sudah dibawa Nyomie ke Gunung Bromo di Jawa Timur. Mungkin Anda berpikir ini sebagai hal yang tidak biasa.

Tunggu dulu, hal yang lebih membuat saya tercengang adalah fakta bahwa pada usianya yang belum genap enam tahun, Max sudah pergi ke 30 gunung! Saya membandingkan dengan pengalaman pendakian saya yang berusia 30 tahun dan bahkan belum mencapai setengah pengalaman pendakian Max.

Dalam bukunya, Nyomie menepis semua godaan untuk tampil sebagai seorang Wonder Woman yang tangguh membesarkan anaknya sendirian, atau tangguh karena sudah mendaki 30 gunung bersama anaknya.

Jauh dari itu, Nyomie tampil sangat jujur. Secara tidak langsung, Nyomie melabeli dirinya sebagai pendaki yang sangat manusiawi: bisa merasa takut, sedih, letih, bahkan terpuruk dalam beberapa situasi. Dalam halaman testimoni, saya menulis buku ini sebagai jurnal kelana sentimental: buku yang memaknai setiap partikel pendakian secara utuh, secara manusiawi.

Namun Nyomie tidak terperangkap pada drama yang syahdu dan melankolis. Ia adalah batu karang yang tangguh pada dasarnya. Wanita yang sibuk dengan kesehariannya sebagai dokter hewan—bahkan terlalu sibuk untuk mengeluh barang sebentar saja—juga sebagai seorang ibu.

Pendidikan Max di alam adalah hal yang juga menjadi nafas dari buku ini. Saya suka sekali dengan bagian ketika Nyomie bercerita bahwa ia tidak takut ketika Max lecet karena terjatuh, atau kedinginan karena nyemplung ke air di Gunung Argopuro. Nyomie yakin, lecet yang Max alami karena terjatuh akan membuatnya lebih berhati-hati dalam melangkah.

“Jatuh itu diizinkan selama masih bisa bangkit lagi” —Nyomie.

Melalui pendakian, Nyomie juga membiasakan Max untuk tidak mengesampingkan ‘proses’ sebagai hal yang harus dilewati untuk mendapat ‘hasil’. Nyomie mengajarkan Max bahwa keindahan Ranu Kumbolo tidak dinikmati secara instan, namun harus dinikmati setelah melalui jalur pendakian yang sulit dan meletihkan.

Pendidikan Max pun tidak berhenti di luar jalur pendakian. Rumah tentunya menjadi pusat pendidikan Max. Hal-hal seperti kesetaraan peran pria dan wanita dalam tugas rumah tangga, atau soal tidak membanding-bandingkan diri dengan teman sebaya adalah hal yang Nyomie ceritakan dalam bukunya.

Hingga pada bagian akhir buku ini, Nyomie menulis tips pendakian bersama anak balita, mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan, hingga masalah-masalah yang biasanya dihadapi bersama anak di jalur pendakian.

Pengalamannya sebagai seorang dokter yang pernah membawa anak ke pucuk-pucuk gunung seharusnya cukup kredibel untuk menulis tips ini, meski setiap anak pasti memiliki cara penanganan yang berbeda.

Apa Hubungannya dengan Saya?

Saya pernah mewawancarai Nyomie untuk blog ini pada Januari 2016. Nyomie sekaligus menjadi orang pertama yang saya wawancarai dalam rubrik wawancara di Guratan Kaki. Selain Nyomie, beberapa orang yang berhubungan dengan kegiatan traveling dan saya anggap inspiratif juga saya wawancarai.

Wawancara Nyomie yang saya tulis di sini sempat cukup viral kala itu. Artikelnya dibagikan ribuan kali, itu pun baru yang dibagikan langsung dari tombol share di blog saya.

Ketika berbincang dengan Nyomie kemarin, ia mengadu, “Waktu itu sampai  banyak yang share di Facebook. Notifikasinya banyak banget. HP saya sampai hang dan saya ganti HP”.

Tak lama, beberapa situs juga mulai mengutip hasil wawancara saya dengan Nyomie. Baru kemudian, beberapa media massa seperti media online dan stasiun televisi, secara bergantian mewawancarai Nyomie.

Buku Nyomie Max.jpeg

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, buku Nyomie & Max bukanlah tulisan pendakian yang menceritakan detail perjalanan secara runut mulai dari basecamp hingga puncak gunung. Buku ini adalah kumpulan tulisan Nyomie soal pengalaman batin yang ia dan Max geluti di jalur-jalur pendakian.

Tulisannya ringan. Gaya bahasa yang digunakan juga gaya bahasa yang biasa kita gunakan sehari-hari, sehingga yang mudah dicerna dan dinikmati.

Hal lain yang membuat buku ini menarik adalah ukurannya yang mungil dan halamannya yang penuh warna, membuat foto-foto perjalanan Nyomie dan Max menarik untuk dilihat.

Selamat membaca!

Anda bisa memesan buku Nyomie & Max: Another 3.000 mdpl Story di sini.

 

7 comments on “Nyomie & Max: Another 3.000 mdpl Story”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.