Persiapan Pendakian Gunung

Mengapa melakukan persiapan pendakian begitu menarik buat saya?

10 comments

Alasan utama saya memilih menyiapkan perjalanan secara mandiri adalah kebebasan mengatur setiap detail perjalanan. Saya bebas menyusun strategi menciptakan kesenangan dan kenyamanan, dengan mengutak-atik anggaran, estimasi waktu, jarak tempuh, dan sebagainya.

Mengatur rencana perjalanan adalah seni. Setiap orang mempunyai selera dan cara sendiri.

Tidak ada formula baku untuk menentukan cara mana yang benar dan salah ketika menyusun persiapan liburan. Prinsip saya, rencanakan saja selama tidak mengancam keselamatan sendiri dan merugikan (apalagi mengancam keselamatan) orang lain.

Saya tidak mengatakan bahwa saya anti terhadap penyedia jasa perjalanan wisata. Pada beberapa kasus, seperti ketika berlibur di Taman Nasional Tanjung Puting, saya menggunakan jasa trip organizer—karena saya tidak punya pilihan.

Lalu liburan seperti apa yang menuntut persiapan paling kompleks versi saya?

Buat saya, persiapan perjalanan pendakian lebih kompleks dari persiapan perjalanan ke kota atau ke pantai pada umumnya. Alasannya, saya menyiapkan akomodasi dan konsumsi sendiri. Secara umum, tidak ada penginapan atau penjual makanan (kecuali di beberapa lokasi di beberapa gunung), sehingga semua harus disiapkan sendiri.

Berikut ini adalah tiga persiapan pendakian yang saya anggap vital untuk dilakukan. Ketiganya tidak diurutkan berdasarkan skala prioritas—karena sama pentingnya—, tetapi berdasarkan urutan kronologis.

1. Riset

Ini adalah tahap awal saya mempersiapkan pendakian: memilih, mengenal, dan memutuskan tempat tujuan pendakian.

Baik bagi pendaki yang belum memiliki banyak pengalaman (atau yang biasa disebut pemula), atau pun bagi pendaki yang sudah memiliki lebih banyak pengalaman, saya pikir perlu melakukan riset sebelum mendaki.

Mengapa? Tahap ini menjadi begitu penting karena saya merasa harus mengetahui karakteristik jalur pendakian yang akan dilalui.

Dengan mengetahui karakteristik jalur pendakian, saya bisa membayangkan seberapa sulit perjalanan saya, sekaligus menyesuaikan perlengkapan dan bekal pendakian.

Dengan riset pula, saya bisa membayangkan tempat dan waktu saya akan berhadapan dengan tanjakan terjal, jalur licin, jalan berdebu, dan estimasi waktu tempuh menuju tempat mendirikan kemah.

LRM_EXPORT_20180824_115259.jpg
Peta pendakian serta rincian estimasi waktu tempuh antarpos di jalur pendakian.

Setiap gunung biasanya memiliki karakteristik berbeda. Persiapan pendakian ke Semeru, bisa jadi berbeda dengan persiapan pendakian ke Rinjani. Jangankan setiap gunung, setiap jalur pendakian di gunung yang sama pun tak jarang memiliki perbedaan karakteristik yang signifikan.

Mengenal jalur pendakian juga memengaruhi perlengkapan dan perbekalan yang saya bawa. Misalnya, jika jalur pendakian tidak berkerikil atau tidak berlumpur, saya lebih memilih menggunakan sepatu berpotongan rendah (di bawah mata kaki) yang cenderung lebih ringan dan memudahkan pergerakan cepat.

Tidak hanya itu, saya juga perlu mengetahui ketersediaan sumber air. Ini akan berpengaruh pada seberapa banyak air yang akan saya bawa dalam ransel, dan tentunya pada manajemen penggunan air selama pendakian.

img_20180709_013934.jpg
Memelajari peta pendakian adalah hal yang wajib saya lakukan. Saya harus mengetahui estimasi jarak antarpos dan lokasi sumber air.

Saya juga terbiasa memastikan informasi sumber air kepada petugas pos pendakian. Anda tahu, pada waktu tertentu sumber air di beberapa gunung bisa kering sama sekali. Misalnya di jalur pendakian Senaru di Gunung Rinjani.

Kepada petugas pos pendakian, saya juga bisa menanyakan hal-hal lain, misalnya memastikan jalur pendakian sedang tidak ditutup, memastikan kembali syarat-syarat pendakian (tarif dan dokumen), juga memperoleh informasi cuaca terkini.

2. Manajemen peralatan

Mengatur peralatan pendakian yang akan dibawa saya lakukan berdasarkan dua hal: riset dan pengalaman. Penjelasan mengenai riset bisa Anda baca pada bagian pertama di atas.

Mereka mengatakan, pengalaman adalah guru terbaik. Saya setuju. Pengalaman saya menjajal beberapa jalur pendakian membuat saya mampu mengenali kebutuhan saya akan perlengkapan pendakian. Barang mana saja yang benar-benar saya perlukan, barang mana saja yang tidak terlalu saya perlukan, dan barang mana saja yang benar-benar tidak saya perlukan selama pendakian.

img_20180607_175944_953882078326.jpg
Untuk mendaki di beberapa jalur pendakian, mengenakan celana pendek dan sepatu berpotongan rendah (di bawah mata kaki) memungkinkan saya lakukan.

Adalah sebuah keniscayaan: semakin banyak barang yang saya bawa, akan semakin berat pula beban yang saya pikul, semakin lambat juga saya berjalan, dan semakin cepat pula energi saya tercecer di perjalanan.

Maka intinya, saya harus sangat tegas, saya ulangi, sangat tegas memilah dan memilih barang-barang yang akan masuk ke dalam ransel saya.

p1170962-01.jpeg

Sebisa mungkin, barang yang saya gunakan memiliki fungsi ganda. Misalnya, tumpukan baju bisa digunakan sebagai bantal dalam tenda, wadah memasak bisa digunakan sebagai wadah makan sekaligus, hanya perlu membawa 1 dari 3 rangkap wadah memasak, atau menggunakan celana panjang yang bisa ‘disulap’ menjadi celana pendek.

Saya katakan, tidak ada pakem standar yang saya gunakan untuk memilih barang-barang bawaan saya. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kebiasaan berbeda, bukan?

3. Manajemen logistik

Ini adalah tahapan paling menyenangkan dari persiapan pendakian—karena saya senang makan dan tidak mau makan yang ‘biasa-biasa saja’ ketika mendaki. Maksud saya, hey, ini liburan saya. Saya ingin kesenangan maksimal. Jadi, mengapa tidak memaksimalkannya melalui makanan?

Untuk urusan ini, saya terbiasa membuat rincian menu makan selama pendakian. Saya mencatat jumlah hari pendakian dan jumlah peserta pendakian, lalu merincinya lebih detail: menu apa untuk makan pagi, makan siang, makan malam, dan tentunya snack selama di perjalanan dan di kemah.

Dengan membuat rincian ini, saya bisa menghitung seberapa banyak perbekalan yang harus saya bawa, sehingga saya tidak kekurangan atau bahkan terlalu kelebihan logistik di pendakian.

Satu tips untuk menghemat waktu dan energi dalam pendakian: saya membiasakan diri membeli dan membungkus makan siang hari pertama di sekitar pos masuk pendakian. Keuntungannya, saya tidak perlu membuang waktu untuk memasak makan siang di tengah perjalanan.

 

Kebiasaan saya lainnya adalah membawa cadangan bekal makanan untuk satu hari tambahan, hanya untuk berjaga-jaga kalau saya kekurangan makanan karena alasan apa pun, karena terlalu lapar atau karena keadaan genting.

Di beberapa jalur pendakian, air bisa menjadi barang langka. Pertimbangkan untuk memasak makanan yang tidak terlalu membutuhkan banyak air.

Nasi adalah salah satu makanan yang membutuhkan banyak air untuk dimasak. Saya selalu menghindari memasak nasi ketika berkemah di tempat yang tidak memiliki banyak sumber air.

Sebagai substitusi karbohidrat, kentang tumbuk (mashed potato) instan bisa jadi pilihan. Saya biasa membelinya di mini market. Cara menyajikannya jauh lebih mudah, jauh lebih cepat, dan jauh lebih hemat air daripada meyajikan nasi. Sosis atau kornet bisa menjadi pelengkap kentang tumbuk sebagai asupan protein.

Belum makan kalau belum makan nasi? Ya, tinggal masak nasi dan nikmati konsekuensinya untuk membawa air lebih banyak di jalur pendakian.

IMG_20180602_172320-01.jpeg
Perbekalan pendakian saya selama dua hari: kentang tumbuk instan, kornet, spageti, dan oatmeal, madu, dan keju.

Bagaimana menurut Anda? Apakah ada persiapan lain yang Anda pikir penting untuk dilakukan sebelum mendaki gunung? Ayo berbagi!

10 comments on “Persiapan Pendakian Gunung”

  1. Prinsip “belum makan kalau belum makan nasi” itu menurutku prinsip yang harus dilonggarkan, khususnya buat traveler. Aku udah biasa sarapan sama roti atau kue-kue basah, lalu makan malam sama mie. Bahkan pernah makan malem sama roti panggang karena seharian udah banyak ngemil. Seharian nggak ketemu nasi juga pernah, and I’m totally fine 🙂

    Like

    1. Setuju. Selama kebutuhan kalori dan gizinya cukup (dan rasanya aman) sih, ga masalah kok. Tapi entah ya kalau periode waktu yang lama. Mungkin lebih berdmpak ke psikis daripada ke fisik. Hehe.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.