Gawai dan Media Sosial, Mempermudah Sekaligus Mendikte Liburan Anda?

Perkembangan teknologi komunikasi seperti media sosial telah mengubah cara kita berlibur. Mengubah ke arah yang lebih baik, atau sebaliknya?

40 comments

Saya tidak melabeli diri sebagai orang yang anti-teknologi. Saya juga bukan orang yang menganggap anak muda zaman sekarang tidak bisa berkomunikasi, hanya karena terlalu sibuk dengan gawai mereka. Bukan.

Entah sudah berapa orang di sekitar saya yang melempar humor receh dengan menyebut mereka autis. Abai dengan orang-orang di sekitar mereka. Lebih memilih berkomunikasi lewat dunia maya daripada dengan orang di sebelah mereka di kereta api, misalnya.

Istilahnya: “dasar anak-anak jaman sekarang”. Istilah dari sekelompok spesies senior Zaman Jurassic yang mampu bertahan dari hujan meteor. Selamat.

p1180793-01.jpeg
Sibuk dengan gawai, atau dengan kuda-kudaan. Pilihan Anda.

Saya berpikir. Apa yang manusia lakukan sekarang—memilih untuk lebih sering berkomentar di Instagram atau Twitter daripada berbicara dengan orang di sampingnya—saya anggap sebagai cara baru berkomunikasi.

Mereka masih berkomunikasi, tentu saja, namun dengan cara yang berbeda. Anda tidak bisa disebut tidak mampu berkomunikasi dengan penjual martabak hanya karena Anda memesannya melalui GoFood, bukan?

Disadari atau tidak, diakui atau tidak, perkembangan media baru atau new media telah mengubah cara kita berkomunikasi. Lebih dari itu, cara kita hidup dalam berbagai hal. Salah satunya, berlibur. Anda tetap melakukannya, dengan cara berbeda, dengan segala konsekuensinya.

Anda hanya tinggal membuka aplikasi SkyScanner untuk membeli tiket pesawat, Anda bisa mengakses Traveloka untuk melihat dan memesan kamar hotel, Anda memetik popularitas  dan rupiah dari Instagram, atau Anda bisa memesan Grab yang akan mengantar Anda dari bandara ke hotel.

Bukan hanya bagi Anda, wahai para petualang. Tumbuhnya media sosial di masyarakat juga bisa membawa keuntungan bagi mereka yang menggantungkan hidup di sektor pariwisata.

img_20170318_145345-01.jpeg
Gunung Lembu, contoh daerah wisata di Purwakarta yang banyak dipromosikan oleh pengguna media sosial.

Anda tentu tidak berpikir bahwa pesona wisata Tebing Keraton di Bandung diperkenalkan oleh pemerintah setempat kepada masyarakat, bukan? Atau misalnya moleknya Kalibiru di Yogyakarta. Anda, sebagai wisatawan dan pengguna media sosial lah yang mempromosikan tempat-tempat wisata itu kepada masyarakat.

Namun, perkembangan teknologi komunikasi tidak seperti seloyang besar pizza yang tidak memiliki dampak buruk bagi Anda (oke, jangan berdebat soal pizza ini). Tentunya, perubahan cara kita berlibur ini juga bisa membawa efek samping.

Begini. Pesawat Anda baru saja mendarat di Bandara Changi, Singapura. Anda sedang berlibur. Anda tidak sabar untuk mengaktifkan kembali ponsel Anda untuk mengecek WhatsApp atau check in di Path.

Landed in Singapore. Demikian tertera di Path.

Dalam perjalanan Anda dari bandara ke hotel, Anda membuka Path lagi karena ada notofikasi dari Path. Komentar dari teman. Selamat, Anda mendapat beberapa tanda love. Anda lalu membalas komentar di sana satu persatu dan melewatkan hal-hal yang mungkin seharusnya membuat Anda takjub di tengah perjalanan dari bandara ke hotel.

Beberapa jam kemudian, Anda membuka Instagram dan mengunggah video diri Anda dengan telinga anjing virtual di depan patung Merlion yang memancurkan air. Selama setengah jam berikutnya, Anda gelisah, penasaran bolak-balik membuka Instagram untuk melihat siapa saja yang sudah melihat atau mengirim pesan untuk Anda.

Ada sedikit kegirangan ketika Anda meraup puluhan like dalam beberapa menit, atau sebaliknya, ada sedikit kekecewaan ketika hanya lima teman yang menyukai foto yang Anda unggah satu jam lalu. Lalu di mana jiwa dan pikiran Anda ketika berlibur? Apakah Anda benar-benar menikmati tempat Anda sedang berada? Apakah Anda aware dengan hal-hal unik di dekat Anda ketika Anda bingung memikirkan caption foto yang akan Anda unggah?

1110434
Berinteraksi dengan orang di sekitar kerap dianggap sulit dilakukan bagi orang yang tidak bisa lepas dari gawai mereka. Anda setuju?

Pertanyaan berikutnya: jika Anda tidak memiliki media sosial, apakah Anda akan tetap berlibur sesering ini?

Tenang, buat saya, apa pun alasan Anda berlibur—melarikan diri dari urusan kerja, menemui orang dan tempat baru, atau mendapat pengakuan dari orang lain—itu adalah urusan Anda. Tidak ada yang salah, selama Anda girang dan tidak menganggu urusan orang lain.

Saya juga termasuk orang yang sulit terlepas dari media sosial ketika berlibur. Entah Instagram atau blog—jika Anda menggolongkan blog sebagai media untuk bersosialisasi.

Tapi Anda tahu? Ada sedikit kerinduan pada liburan yang terbebas dari ‘tuntutan’ untuk menghasilkan foto yang ciamik, mewawancarai orang, atau memikirkan sudut pandang penulisan yang baru ketika saya berlibur.

P1160058
Mengapa tidak sesekali menggunakan gawai Anda untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat?

Suatu kali, saya berlibur ke Blitar tanpa memusingkan akan menulis apa untuk dimuat di blog. Menyenangkan. Ketenangan dan kedamaian yang saya rasakan berlipat ganda, jika dibandingkan dengan liburan saya di Garut dan bingung cara mengulas Situ Bagendit dan memotretnya dari sudut pandang yang berbeda dari orang lain.

Bagi saya pribadi, lakukan apa pun yang saya suka di tempat berlibur tanpa mempedulikan tanggapan orang lain, selama tidak beririsan dengan kepentingan mereka. Terlalu sibuk memegang gawai atau tidak selama berlibur, tentu menawarkan kepuasan liburan yang berbeda.

Pada akhirnya, saya tidak memungkiri bahwa menikmati orkestra alam di tepi pantai jauh lebih menyenangkan daripada terlalu lama menyisir halaman Instagram. Bagaimana pemikiran Anda?

 

40 comments on “Gawai dan Media Sosial, Mempermudah Sekaligus Mendikte Liburan Anda?”

  1. Awalnya saya menjauhkan gawai demi lebih menikmati suasana sekitar sambil bermain ukulele (kalau pas bawa). Memang susah melepas gawai, tapi setelahnya? Nikmat, tentu saja.

    Dan saya sepakat dengan kalimat penutupnya, “menikmati orkestra alam lebih menyenangkan daripada terlalu lama menyisir halaman Instagram” .

    Like

  2. Aku pernah nyoba liburan tanpa megang handphone selama tiga hari kak. Liburan lebih tentraaaam! eeeeh kelar liburan, banyak chat masuk dari orang kantooor tentang kerjaaan . Nasib 😦 .

    Like

  3. Setujuu Iyos.

    Kalau aku, tergantung dengan siapa aku pergi.

    Kalau sendiri, mungkin akan lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang di dunia maya, tapi kalau dengan teman terdekat, mungkin akan lebih banyak berinteraksi dengan mereka yang nyata di depan mata, haha. Semuanya masih mungkin, karena tergantung mood.

    Tapi sebenarnya kalau ditanya lebih menyenangkan dan berkesan yang mana, ternyata lebih menyenangkan berinteraksi dengan orang yang nyata di depan mata. Pasti ada aja cerita menyenangkan, lucu, konyol atau miris kalau lebih banyak berinteraksi dengan yang nyata tersebut.

    Tapi ya tidak dipungkiri jg yang Iyos tulis, manusia sepertinya memang butuh pengakuan, yang sekarang banyak muncul dari “love” dan komentar di instagram. Hahahaa.

    Tulisan yang menarik Yos!

    Like

    1. Halo, Nana!

      Bener kan, saya juga ga bohong, seneng kok kalo ada yang like foto di instagram. Hahaha.

      Kemarin kebetulan baru liburan sendirian lagi. Alhamdulillah, main hapenya diminimalisasi banget. Sinyal sekarat juga sih. Hehe. Tapi tetep, kalo lepasin kamera dari tangan ya susah, Na 🙂

      Like

Leave a Reply to Astari Ratnadya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.