Menghadapi Anak (Orang Lain) di Perjalanan

Apa yang Anda lakukan ketika berada di dalam kereta atau pesawat terbang bersama anak yang tidak berhenti menangis?

Advertisements
19 comments

Saya baru saja duduk di kereta api. Menyiapkan semua barang yang akan saya perlukan selama perjalanan di kantung kursi di depan saya, sebelum saya menyimpan tas di bagasi kereta.

Satu-persatu, saya perhatikan penumpang lain yang hilir mudik melalui saya. “Semoga bukan mereka, semoga bukan mereka”, begitu ulang saya dalam hati setiap melihat penumpang membawa anak kecil. Berharap bangku kosong di sisi saya tidak ditempati mereka.

Tunggu. Ada alasan saya berharap tidak duduk berdekatan dengan penumpang yang membawa anak kecil, baik di kereta atau pun di pesawat.

Screenshot_2017-07-05-12-35-15_com.miui.videoplayer
Dua anak bermain di kereta api.

Anak-anak berbeda dengan orang dewasa, tentu saja. Maksud saya, ketika mereka berada dalam perjalanan panjang dan merasa bosan, mereka bisa saja mendadak rewel, menangis, atau meronta-ronta.

Mungkin saya pun seperti itu waktu kecil. Tidak ada yang salah. Kita memang ‘diajarkan’ untuk menangis untuk mendapat apa pun yang kita mau sewaktu bayi.

Kereta baru saja melesat selama dua jam menuju Semarang dari Jakarta. Saya sudah hampir terlelap ketika kursi saya terhentak beberapa kali dari belakang.

Saya biarkan. Mungkin tidak sengaja, pikir saya. Tidak lama kemudian, hentakan terjadi lagi. Berulang terus. “Okay, ini pasti anak kecil yang duduk di belakang saya, “saya menerka.

Saya bangkit dari duduk. Memutar badan ke belakang. Benar saja, seorang anak perempuan sedang asik memainkan gawainya sambil menyandarkan kakinya di belakang kursi saya. Ibunya duduk di sisinya.

Apa yang bisa saya lakukan? Apa juga yang akan Anda lakukan jika berada di posisi saya?

Pertama, saya mengira ia berusia sekitar lima tahun. Sudah bisa diajak berkompromi, saya pikir.

Maka hal yang saya lakukan ialah langsung berbicara kepadanya. “Hei, jangan ditendang-tendang ya kursinya,” saya langsung menegurnya dengan ekspresi semanis mungkin, lalu melempar senyum ke ibunya, dan kembali duduk.

Saya pikir hal yang saya lakukan sudah tepat. Ditegur langsung oleh orang lain akan membuat anak kecil lebih takut, jika dibanding dengan ditegur orang tua sendiri.

Jika saya menemui bayi yang terus menangis, tentu itu perkara lain. Saya tidak mungkin menegur bayi itu, atau bahkan orang tuanya untuk meminta mendiamkan bayinya.

Efektif. Sepanjang perjalanan selama lima jam berikutnya, ia berhenti menghentak-hentakkan kakinya di belakang kursi.

Saya pikir, jika cara pertama tidak berhasil, saya baru akan berbicara pada orang tuanya dan meminta untuk menjaga anaknya tetap tenang di perjalanan.

Saya juga pernah mengalami hal serupa di pesawat terbang. Seorang anak merengek pada orang tuanya, karena ingin cepat mendarat.

Lalu saya berkata padanya, “coba kau merengek pada pilot di depan”. Tidak, saya bercanda.

Saat itu, awak kabin bertindak cekatan. Seorang pramugari segera mendatangi anak yang menangis dan memberinya mainan. Mainan berukuran mini yang saya pikir tidak sulit untuk dibawa oleh orang tua sebelum bepergian. Entahlah.

Mungkin Anda mau berbagi pemikiran? Apa yang biasanya Anda lakukan untuk menenangkan anak di perjalanan?

19 comments on “Menghadapi Anak (Orang Lain) di Perjalanan”

  1. Ya memang tipikal anak2 sih mudah bosen ya, apalagi kalo perjalanan panjang.
    Pernah nemuin anak2 umur sekitar 7-8 tahunan, ngobrolnya intelek banget sm sodaranya yg sepantaran. Tapi yg diobrolin adl beraneka rupa game online. Sampe cheat2nya apal diluar kepala.

    Daku merasa ketinggalan jaman😭

    Like

  2. Dulu saya seringnya berada dalam posisi mas. Saat lagi enak-enak mau tidur di kendaraan mendadak bocah di sebelah saya rewel. Berhubung saya suka anak-anak biasanya sih saya ajakin main. Makanya kalau untuk perjalanan jauh dan lama, saya kerap bawa permen dan buku cerita buat modal “menenangkan” bocah yang rewel andaikata duduk sebelahan sama saya. Tapi pernah juga sih kejadian yang rewel bangkunya di bekang saya dan emak bapaknya cuek, malesin banget.

    Sekarang posisinya udah berubah. Gantian saya yang pergi kemana-mana bawa bocah. Ternyata itu lebih menantang. Kalau anak orang lain yg nangis kita bisa cuek, tapi kalo anak sendiri yang nangis terus dan susah berhenti bikin emaknya panik n keringat dingin euy. Takut kalau ganggu penumpang lain. Makanya sebelum pergi saya selalu siap “peralatan tempur” buat nenangin bocah nangis. Mulai dari makanan, minuman, buku bacaan, mainan, dan stock sabar hehe.

    Duh jadi pengen bikin tulisan macam gini versi mamak πŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Hahaha.. Menarik, Mba! Tapi anak gampang bosen ngga sih kalo udah dikasih mainan gitu di perjalanan? Atau misalnya mereka ‘gengsi’ ga mau ambil mainan, maunya tetep cepet sampe?

      Ayo bikin, Mba. Hehe.. Pasti seru baca pandangan dari orang yang udah ngalamain dua peran di atas 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s