Saya tidak melabeli diri sebagai orang yang anti-teknologi. Saya juga bukan orang yang menganggap anak muda zaman sekarang tidak bisa berkomunikasi, hanya karena terlalu sibuk dengan gawai mereka. Bukan.
Entah sudah berapa orang di sekitar saya yang melempar humor receh dengan menyebut mereka autis. Abai dengan orang-orang di sekitar mereka. Lebih memilih berkomunikasi lewat dunia maya daripada dengan orang di sebelah mereka di kereta api, misalnya.
Istilahnya: “dasar anak-anak jaman sekarang”. Istilah dari sekelompok spesies senior Zaman Jurassic yang mampu bertahan dari hujan meteor. Selamat.

Saya berpikir. Apa yang manusia lakukan sekarang—memilih untuk lebih sering berkomentar di Instagram atau Twitter daripada berbicara dengan orang di sampingnya—saya anggap sebagai cara baru berkomunikasi.
Mereka masih berkomunikasi, tentu saja, namun dengan cara yang berbeda. Anda tidak bisa disebut tidak mampu berkomunikasi dengan penjual martabak hanya karena Anda memesannya melalui GoFood, bukan?
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, perkembangan media baru atau new media telah mengubah cara kita berkomunikasi. Lebih dari itu, cara kita hidup dalam berbagai hal. Salah satunya, berlibur. Anda tetap melakukannya, dengan cara berbeda, dengan segala konsekuensinya.
Anda hanya tinggal membuka aplikasi SkyScanner untuk membeli tiket pesawat, Anda bisa mengakses Traveloka untuk melihat dan memesan kamar hotel, Anda memetik popularitas dan rupiah dari Instagram, atau Anda bisa memesan Grab yang akan mengantar Anda dari bandara ke hotel.
Bukan hanya bagi Anda, wahai para petualang. Tumbuhnya media sosial di masyarakat juga bisa membawa keuntungan bagi mereka yang menggantungkan hidup di sektor pariwisata.

Anda tentu tidak berpikir bahwa pesona wisata Tebing Keraton di Bandung diperkenalkan oleh pemerintah setempat kepada masyarakat, bukan? Atau misalnya moleknya Kalibiru di Yogyakarta. Anda, sebagai wisatawan dan pengguna media sosial lah yang mempromosikan tempat-tempat wisata itu kepada masyarakat.
Namun, perkembangan teknologi komunikasi tidak seperti seloyang besar pizza yang tidak memiliki dampak buruk bagi Anda (oke, jangan berdebat soal pizza ini). Tentunya, perubahan cara kita berlibur ini juga bisa membawa efek samping.
Begini. Pesawat Anda baru saja mendarat di Bandara Changi, Singapura. Anda sedang berlibur. Anda tidak sabar untuk mengaktifkan kembali ponsel Anda untuk mengecek WhatsApp atau check in di Path.
Landed in Singapore. Demikian tertera di Path.
Dalam perjalanan Anda dari bandara ke hotel, Anda membuka Path lagi karena ada notofikasi dari Path. Komentar dari teman. Selamat, Anda mendapat beberapa tanda love. Anda lalu membalas komentar di sana satu persatu dan melewatkan hal-hal yang mungkin seharusnya membuat Anda takjub di tengah perjalanan dari bandara ke hotel.
Beberapa jam kemudian, Anda membuka Instagram dan mengunggah video diri Anda dengan telinga anjing virtual di depan patung Merlion yang memancurkan air. Selama setengah jam berikutnya, Anda gelisah, penasaran bolak-balik membuka Instagram untuk melihat siapa saja yang sudah melihat atau mengirim pesan untuk Anda.
Ada sedikit kegirangan ketika Anda meraup puluhan like dalam beberapa menit, atau sebaliknya, ada sedikit kekecewaan ketika hanya lima teman yang menyukai foto yang Anda unggah satu jam lalu. Lalu di mana jiwa dan pikiran Anda ketika berlibur? Apakah Anda benar-benar menikmati tempat Anda sedang berada? Apakah Anda aware dengan hal-hal unik di dekat Anda ketika Anda bingung memikirkan caption foto yang akan Anda unggah?

Pertanyaan berikutnya: jika Anda tidak memiliki media sosial, apakah Anda akan tetap berlibur sesering ini?
Tenang, buat saya, apa pun alasan Anda berlibur—melarikan diri dari urusan kerja, menemui orang dan tempat baru, atau mendapat pengakuan dari orang lain—itu adalah urusan Anda. Tidak ada yang salah, selama Anda girang dan tidak menganggu urusan orang lain.
Saya juga termasuk orang yang sulit terlepas dari media sosial ketika berlibur. Entah Instagram atau blog—jika Anda menggolongkan blog sebagai media untuk bersosialisasi.
Tapi Anda tahu? Ada sedikit kerinduan pada liburan yang terbebas dari ‘tuntutan’ untuk menghasilkan foto yang ciamik, mewawancarai orang, atau memikirkan sudut pandang penulisan yang baru ketika saya berlibur.

Suatu kali, saya berlibur ke Blitar tanpa memusingkan akan menulis apa untuk dimuat di blog. Menyenangkan. Ketenangan dan kedamaian yang saya rasakan berlipat ganda, jika dibandingkan dengan liburan saya di Garut dan bingung cara mengulas Situ Bagendit dan memotretnya dari sudut pandang yang berbeda dari orang lain.
Bagi saya pribadi, lakukan apa pun yang saya suka di tempat berlibur tanpa mempedulikan tanggapan orang lain, selama tidak beririsan dengan kepentingan mereka. Terlalu sibuk memegang gawai atau tidak selama berlibur, tentu menawarkan kepuasan liburan yang berbeda.
Pada akhirnya, saya tidak memungkiri bahwa menikmati orkestra alam di tepi pantai jauh lebih menyenangkan daripada terlalu lama menyisir halaman Instagram. Bagaimana pemikiran Anda?

Sial kesentil bagian “bebas dari tuntutan”. Masalah utamanya ada di diri sendiri sih ya.
tapi masalah utama saya sekarang sih bukan soal update lagi di mana, tapi lebih ke males buat interaksi sama orang. Contoh nih ya, dua kali saya jalan ke kota asing yang bahasanya tidak saya kuasai. tapi saya bisa kemana-mana pake bus karena ada aplikasi bus tersebut di ponsel. saya tau tempat yang harus dikunjungi gara-gara internet juga.
saat perjalanan pulang dari jalan-jalan saya bikin janji sendiri kalau perjalanan berikutnya ponsel harus ada di dalam tas, gak boleh pake google maps, yang artinya sebelum berangkat saya harus catat nama dan alamat tujuan. Biar gak nyasar (penyakit akut) saya harus tanya orang setempat walau belum tentu saya bisa mengerti gara-gara kemampuan bahasa yang cetek.
lah jadi curhat. tapi ini sih yang saya rasain kemaren, sedih karena minim interaksi sama manusia.
LikeLiked by 1 person
Haha.. Sama kok. Beberapa kali juga sengaja ga mau ngobrol sama orang-orang di kereta. Alasannya: mereka ribut. Ga bisa berenti ngajak ngobrol. Akhirnya pasang earphone dan buka medsos.
Ayo wujudkan janjinya. Seru beneran 😄
LikeLiked by 1 person
Ah iya itu bener ya, males basa-basi.
Semoga suatu waktu ya bisa menjalankan janji itu.
LikeLiked by 1 person
Biasanya aku waktu liburan malah asyik mengambil stok foto banyak mas. Dan menyempatkan waktu untuk buka sosmed kalau sedang istirahat. Unggah di sosmed juga saat liburan telah usai 🙂
Tergantung kita sih sebenarnya, bagaimana cara untuk menikmati waktu liburan tersebut. Berbincang dengan teman baru kenal saat liburan bareng, atau menyapa kawan-kawan lama yang saling mengikuti dan berkomunikasi di sosmed 🙂
LikeLike
Sesekali perlu dicoba liburan gak usah bawa kamera, gak usah moto dan gak usah posting di medsos.
Aku sudah pernah coba, lalu nyesel 😂
LikeLike
Huahahahaha dikira endingnya bakal menyenangkan. Ternyata nyesel.
LikeLike
Aku lemah mas. Masih butuh like dan love dari dunia maya 😥
LikeLiked by 1 person
Hahaha ga apa2 atuh.. Anggap aja bisa jadi penyegaran timeline medsos yang suka agak2 panas belakangan ini 😁
LikeLiked by 1 person