Surakarta merayakan datangnya Syawal dengan cara berbeda. Hasil alam dibagikan sebagai berkah dari keraton untuk masyarakat. Tradisi yang disebut Grebeg Syawal ini menjadi perekat antara keraton dan masyarakat Surakarta. Saya beruntung, bisa berbaur di antara keduanya.

Matahari menyengat tajam Kota Surakarta. Sebenarnya, hari belum tinggi. Pintu depan Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta pun masih tertutup rapat.
Namun masyarakat Kota Surakarta sudah memadati pelataran keraton sejak pagi hari, selepas menunaikan salat ied, seperti yang dilakukan para wisatawan.
Di balik tembok keraton, para pemuka agama berkumpul di hadapan beraneka jenis hasil bumi berupa beras, ketan, sayur mayur, telur, dan rengginang.
Seluruh hasil bumi ini sudah disusun membentuk dua buah kerucut setinggi sekitar dua meter, yang disebut gunungan. Gunungan jaler dan gunungan estri. Kedua gunungan didoakan oleh para pemuka agama keraton dan disaksikan oleh para abdi dalem, dan sebagian wisatawan.
Tak lama berselang, prosesi yang ditunggu-tunggu pun dimulai. Para abdi dalem memboyong kedua gunungan ke arah luar lingkungan keraton. Di atas dua bilah bambu yang digotong para abdi dalem, kedua gunungan itu diusung, menyerupai petinggi kesultanan Surakarta yang berkeliling kota di atas tandu kehormatan.

Akhirnya pintu depan keraton dibuka. Puluhan, mungkin ratusan abdi dalem berarak-arak membentuk tiga barisan. Barisan yang paling pertama keluar keraton adalah para pemain alat musik. Genderang, seruling, dan terompet dimainkan menyulam sebuah harmoni untuk memipin parade baris-berbaris.
Di belakang barisan para pemain musik, para prajurit keraton baris-berbaris lengkap dengan seragam dan senjata masing-masing. Barisan para prajurit keraton ini memimpin para pengusung gunungan. Serentak, kehadiran mereka langsung disambut oleh kesigapan para wisatawan yang berbekal kamera masing-masing.
Lensa para wisatawan pun langsung memberondong para prajurit keraton dengan jepretan lensa, seperti mereka tengah mengarahkan moncong senjata.
Dengan langkah yang lamban dan berirama, dua gunungan akhirnya diarak keluar pintu gerbang keraton. Kedatangan dua gunungan ini tidak hanya merenggut perhatian dari para wisatawan, namun ternyata masyarakat Surakarta juga menyambut kedatangan kedua gunungan dengan antusias.

Para abdi dalem yang membawa gunungan tak mau kalah. Mereka nampak bersemangat, menikmati peran serta mereka dalam acara yang rutin digelar di Surakarta setiap tahun ini.

Ngalap Berkah
Tradisi grebeg dirayakan tak hanya di Surakarta, namun juga di beberapa daerah lainnya di Pulau Jawa, sebut saja Yogyakarta. Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta menggelar setidaknya tiga kali upacara grebeg setiap tahun: Grebeg Syawal pada hari Idul Fitri, Grebeg Besar pada hari Idul Adha, dan Grebeg Mulud para peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Tidak mengherankan kedua wilayah ini memiliki tradisi serupa, mengingat keduanya berakar dari kesultanan yang sama: Kesultanan Mataram.
Jika saja Kesultanan Mataram tidak pecah pada abad ke-18, mungkin acara grebeg hanya akan dilakukan oleh satu keraton. Namun nyatanya, meski kedua pewaris Kesultanan Mataram telah memisahkan diri dan membentuk wilayah Surakarta dan Yogyakarta, keduanya masih mempertahankan tradisi kearifan lokal selama lebih dari dua abad.

Grebeg Syawal adalah ungkapan syukur dari pihak keraton. Rasa syukur atas kemenangan melawan segala godaan selama menjalankan ibadah puasa. Rasa syukur inilah yang kemudian dinyatakan dengan berbagi berkah kepada rakyat.

Bagi masyarakat di luar keraton, menerima berkah dari keraton adalah suatu yang sakral. Mereka mengenalnya dengan istilah ngalap berkah, yang berarti mencari berkah.
Mereka memiliki keyakinan sendiri, bahwa keinginan mereka akan terkabul jika berhasil memperoleh hasil bumi yang dibagikan oleh pihak keraton. Tak ayal, acara grebeg selalu merebut antusias masyarakat setempat.
Ketan-ketan yang diperebutkan oleh masayarakat Surakarta di pelataran Masjid Agung, seperti menyimpan makna khusus. Rekat. Lengket.
Semangat berbagi yang diungkapkan pihak keraton melalui acara Grebeg Syawal secara turun-menurun sekan sebuah perekat yang membuat masyarakat dan keraton hidup rekat berdampingan.
Seperti lengketnya kue keranjang yang disusun membentuk gunungan pada acara Grebeg Sudiro setiap menyambut Tahun Baru Imlek di Surakarta ―sebuah tradisi di Surakarta yang membuat masyarakat keturunan etnis Tionghoa dan masyarakat pribumi tumpah ruah berkumpul di jalanan, tanpa sekat perbedaan.

selalu suka dengan budaya solo dan jogja. Terlebih lagi di bulan2 tertentu yang sakral dan akbar. Udah dari dulu pengin liputan grebeg kaya gini tapi g pernah kesampaian
LikeLike
Setuju. Liburan ke Jogja atau Solo, selalu dapet suasana budaya yang kental ya.
LikeLike
Suka dengan nuansa syawal yang diiringi nuansa budaya yang kental. Yang menandakan Agama dan budaya bisa beriringan…
Pengen deh kapan kapan melihat langsung perayaan ini. Tapi kapannya itu, hahah entah kapan.
LikeLike
Hahaha. Kalau pa Grebeg Syawal mungkin susah ya karena lagi Lebaran, keculai memang tinggal di sana. Mungkin bisa Grebeg Suro pas malam Suro, atau Grebeg Sudiro pas Imlek?
LikeLike
Aku selalu antusias setiap kali nonton liputan soal acara grebegan ini di tivi, cuma belum sekalipun punya kesempatan untuk nonton langsung. Dan kayanya dari tiga acara yang diadakan setiap tahun, cuma Grebeg Mulud aja yang paling mungkin aku hadiri, soalnya dua lainnya itu pasti pas acara wajib bareng keluarga. Btw, itu para abdi dalemnya kuat ya telapak kakinya, siang-siang gitu ngarak gunungan tanpa alas kaki di atas aspal.
LikeLiked by 1 person
Iya juga ya, kebayang itu panasnya jalanan aspal kaya gimana.. Ga kepikir.. Grebeg Mulud belum pernah nih.. Malah sangat penasaran untuk liat Grebeg Sudiro. Yang jadi gunungan kue keranjang :)) Seru abis pasti. Haha.
LikeLiked by 1 person
Grebeg Sudiro itu siapanya Tora Sudiro? Hehehehe …. Hmmm tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya banyak acara yang mirip-mirip seperti ini, dimana rakyat berduyun-duyun datang untuk memperebutkan sesuatu yang dibagikan oleh penguasa/institusi tertentu yang dianggap penuh berkah.
Kalau di Kudus, setiap tanggal 1 Suro ada acara yang namanya Bukak Luwur, dimana peziarah datang ke Kompleks Masjid Makam Sunan Kudus, untuk memperebutkan kelambu penutup makam Sunan -yang diganti tiap tahun pada tanggal tersebut- dan juga nasi berkat yang dibagikan. Sobekan kain kelambu dan nasi tersebut diperebutkan karena dianggap membawa berkah. Konon bagi beberapa orang sobekan kain dan nasi tersebut ditanamkan ke dalam sawah atau ladang agar menjadi lebih subur dalam waktu satu tahun ke depan.
Kebetulan dulu rumahku di samping kompleks masjid dan makam tersebut, jadi tiap tahun menjadi saksi acara tersebut. Sesak abiiiis … 😀
LikeLiked by 1 person
Wow! Seru amat! Baru tau ini! Hahaha. Menarik ya, banyak banget tradisi2 kita yang kental banget sisi kepercayaan adatnya. Terlepas dari cap yang dikasih manusia modern bahwa itu takhayul atau bukan —toh konsep surga dan neraka pun ga bisa dibuktikan— tradisi gitu pasti mengandung nilai kearifan lokal sendiri.. Suka. Thanks infonya! 🙂
LikeLiked by 1 person