Boutique Hostel: Menggebrak Batas Kemewahan dan Kesederhanaan

27 comments

Ketika backpacking telah meresap menjadi sebuah gaya hidup bagi generasi millennial, para penyedia jasa penginapan ikut bergerak dinamis. Perkembangan hostel tengah bergeliat, menciptakan tren wisata baru: menawarkan pengalaman menginap yang berbeda untuk memenuhi tuntutan generasi millennial yang energik. Hostel modern berusaha menafikan sekat antara kemewahan menginap di hotel dan keterbatasan fasilitas menginap di hostel konvensional.

Generasi millennial, atau yang disebut sebagai generasi Y adalah mereka yang masuk dalam rentang usia 18-35 tahun. Mereka dikenal sebagai generasi yang tumbuh pada era 1990-2000-an. Generasi yang dinamis: selalu haus akan pengalaman-pengalaman baru yang berkembang cepat, mengikuti tren yang melintasi batas negara.

Tren berwisata misalnya. Dulu, mungkin backpacking di dalam negeri lekat dengan gaya berwisata bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana. Penginapan murah adalah salah satu elemen yang kuat menjadi citra dari gaya berwisata ala backpacker.

Tapi kini, backpacking bagi masyarakat Indonesia mulai tumbuh menjadi sebuah gaya hidup: gaya berwisata yang ditekuni oleh para traveler yang selalu menuntut pengalaman berwisata yang penuh kejutan, dan mungkin tantangan.

Burung-burung besi dari maskapai penerbangan murah terus hilir mudik di udara. Hal ini seakan menjadi sebuah hujan yang membuat penginapan-penginapan kelas bawah tumbuh subur seperti jamur. Katakanlah budget hotel, boutique hotel, hingga hostel —yang menyediakan barisan ranjang bersusun bagi para pelancong dalam satu kamar.

roomtypes2_resize_1000_600_rel_center_middle
Ranjang bersusun yang disewakan kepada para traveler di hostel The Packer Lodge. Sumber foto: The Packer Lodge.

Ketika sebagian besar pemilik hostel masih tetap menekan biaya penginapan dengan menyediakan fasilitas seadanya, beberapa konseptor lainnya nekat mencoba hal baru: menggebrak tembok yang memisahkan konsep kemewahan hotel dan kesederhanaan hostel.

Benua yang memelopori konsep ini adalah Eropa. Beberapa pegiat industri pariwisata menyebutnya dengan istilah poshtel (posh hostel), boutique hostel, atau luxury hostel. Sebuah konsep hibrida dari kemewahan menginap di hotel dan keterbatasan fasilitas bermalam di hostel. Mereka percaya, kota London adalah cikal bakal munculnya hostel-hostel mewah di berbagai kota besar di dunia, termasuk di Jakarta.

Saya berkenalan dengan Ardy Wiraputra, pemilik The Packer Lodge, sebuah hostel yang berdiri di Jalan Kemurnian IV, Jakarta Barat. “Kami tidak hanya menawarkan tempat untuk bermalam di sini”, katanya saat kami berbincang di salah satu sudut hostel. Saya menyebutnya sebagai sebuah hostel modern yang menjual pengalaman menginap baru, baik secara fisik maupun non-fisik.

Kami menghabiskan segelas kopi hitam selama lebih dari satu jam di salah satu ruangan yang didesain bagi para tamu untuk bersosialisasi. Sebuah ruangan terbuka dengan deretan bangku dari bahan daur ulang. Kesempatan dan fasilitas untuk berinteraksi dengan sesama traveler adalah salah satu pengalaman yang ditawarkan oleh hostel modern semacam The Packer Lodge.

Ketika kami berbincang, sepasang tamu asing juga tengah mengobrol di ruang lain yang disekat kaca. Selama hampir dua tahun mengembangkan usaha, sekitar 80 persen tamu The Packer Lodge adalah wisatawan asing. Tamu-tamu dari Jerman mendominasi buku tamu dari Eropa, sedangkan tamu-tamu Jepang adalah tamu terbanyak yang datang dari Asia.

“20 persen sisanya tamu lokal. Orang sini belum terlalu akrab dengan konsep hostel”, Ardy menganalisis persentase negara asal para tamunya.

1160904-01
Mayoritas tamu hostel The Packer Lodge adalah wisatawan asing. Mereka dipercaya lebih akrab dengan konsep hostel, dibandingkan dengan wisatawan lokal.

Konsep hotel tentu berbeda dengan konsep hostel. Meski kini hostel modern seperti The Hostel Lodge mencoba memberi sedikit kemewahan menginap berupa kenyamanan dan keamanan menginap, fasilitas yang diberikan kepada para tamu tetaplah fasilitas dengan standar hostel —secara garis besar.

“Tantangan kami adalah mengedukasi masyarakat lokal agar paham dengan konsep hostel”, Ardy lalu menceritakan pengalamannya harus berhadapan dengan seorang wanita yang bersikeras membawa anaknya menginap di sana. Ada lagi pengalaman melayani tamu hostel yang protes untuk mendapatkan menu sarapan yang biasanya terhidang di hotel setiap pagi.

Dengan biaya menginap di bawah Rp 150.000,00 per kasur setiap malam di kawasan wisata yang sangat strategis, mereka tidak memberi air mineral gratis atau nasi goreng gratis sebagai compliment. Sekali lagi, ini adalah hostel modern yang menawarkan pengalaman untuk saling berinteraksi antarsesama tamu. Sebuah ruangan untuk bersosialisasi dilengkapi dengan barisan komputer dengan jaringan internet, televisi, dan rak buku yang dipenuhi bahan-bahan bacaan menghadap sebuah sofa putih.

1160860-01
Salah satu ruangan yang disediakan hostel untuk para tamu.

Kenyamanan yang dijanjikan The Packer Lodge juga datang dengan janji menawarkan keamanan bagi para tamunya. Para tamu memerlukan privasi ketika menginap, tentu saja. Saya ingat harus menekan sebuah bel agar dibukakan pintu untuk masuk. Kunci pintu depan hanya dapat dibuka dari luar dengan menggunakan kartu kunci yang dibagikan kepada setiap tamu. Para pengunjung tamu hotel hanya boleh menunggu di ruang yang telah disediakan.

Promosi Jakarta

Semua kamar di The Packer Lodge dilengkapi pendingin ruangan dan sebuah kamar mandi untuk dipakai bersama. Para tamu dapat memilih untuk tidur di single room, double room, twin room, dan tentu saja dorm room. Desain kamar bernuansa minimalis dan artistik, tembok berwarna putih berbatasan dengan lantai kayu berwarna cokelat terang. Menghadirkan kesan homy. Ruangan-ruangan lain di The Packer Lodge juga bernuansa serupa, dengan tambahan batu-batu bata pada beberapa sisi dinding atau meja.

Hal yang menarik mengenai desain hostel ini adalah seni mural yang memenuhi hampir seluruh dinding hostel, bahkan hingga dinding kamar. Guratan seni mural di The Packer Lodge bercerita tentang Jakarta, dimulai dari bangunan-bangunan bersejarah Jakarta di lantai dasar hostel, hingga tradisi atau kebiasaan harian masyarakat Jakarta di lantai-lantai berikutnya.

1160876-01
Sebuah seni mural yang menceritakan kebiasaan masyarakat lokal.

“Kita mau memperkenalkan Jakarta”, Ardy lalu menceritakan pengalamannya membawa para tamu hotel dalam sebuah city tour di sekitar hostel, mulai dari kawasan China Town hingga kawasan Kota Tua. Para tamu diajak berkenalan dengan kehidupan lokal Jakarta, seperti arsitektur bangunan-bangunan tua yang memiliki catatan historis, adat istiadat lokal, hingga kuliner setempat.

1160906-01
Kartu pos ini menjadi ‘tiket’ bagi para tamu The Packer Lodge yang ingin ikut dalam city tour. Seluruh hasil penjualan kartu pos disalurkan bagi wanita dan anak di Indonesia melalui sebuah LSM.

Ardy nampak berantusias terhadap sejarah Jakarta. Pada kesempatan lain, kami berdiri cukup lama di hadapan beberapa foto bangunan tua yang terpampang di salah satu dinding hostel. Saya cukup takjub mendengar cerita-cerita lawas soal Jakarta darinya. “Tamu-tamu di sini juga kadang ngobrol, minta dibuatin itinerary. Kalau udah gini, kita bisa ngobrol satu jam juga ga cukup”, tutup Ardy.

***

Pada Sabtu pekan ini, The Packer Lodge akan membuka hostel baru di Yogyakarta. Hostel kedua The Packer Lodge ini akan mengusung konsep ramah lingkungan, dengan menggunakan energi matahari sebagai sumber energi utamanya.

Jika Anda tertarik untuk mencoba pengalaman menginap di The Packer Lodge, Anda bisa memesan langsung sebuah kasur atau kamar di situs resmi mereka di sini. Selamat berpetualang dan bersosialisasi dengan sesama traveler!

Advertisements

27 comments on “Boutique Hostel: Menggebrak Batas Kemewahan dan Kesederhanaan”

  1. Semoga makin banyak nih penginapan-penginapan macam ini di Indonesia. Soalnya kadang kalau datang ke kota kecil atau di luar Jawa, pilihan untuk yang budget ekonomis tapi bagus itu terbatas banget, bahkan kadang gak ada. Kalaupun ada, suka deg-degan, soalnya hotel ‘remang-remang’ ,,, khan gak lucu kalau misalnya tiba-tiba masuk tivi pas lagi nginep di hotel yang lagi digerebek hahahaha.

    Jadi pengen nyobain The Packer Lodge nih.

    Makasih udah berbagi cerita ya, aku juga jadi punya referensi nih kalau misalnya ada teman dari luar kota/negeri pengen nginep di Jakarta. Jadinya gak harus selalu merekomendasikan Jalan Jaksa 🙂

    Like

  2. Iya ya, konsep hostel emang belum terlalu familiar. Aku pun belom pernah pergi pergi nginep di hostel. Padahal kalo ngemper mah malah pernah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s