Tips dan Inspirasi

Kesalahan Terbesar Naik Gunung yang Saya Lakukan

Saya selalu memberi tahu rencana pendakian pada ibu. Bukan meminta izin, hanya memberi tahu, karena saya tahu ia tidak akan melarang. “Kamu liburannya teh suka yang susah-susah,” itu saja tanggapannya. Saya hanya nyengir.

Jelas, ibu saya tidak akrab dengan dunia pendakian. Pendakian mungkin terkesan menyiksa, meletihkan, dan menyulitkan. Beliau tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar juga.

Jujur, saya juga memiliki pandangan yang senada dengan beliau—pada awalnya. Bahkan ketika saya mulai doyan mendaki, saya masih menganggap pendakian gunung itu menyiksa. Fisik dan mental. Sekaligus.

Lantas mengapa saya tidak jera? Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan sadomasokhisme atau kenikmatan seksual dengan meresapi rasa sakit. Bagaimana, ya? Ada yang bilang, capek naik gunung itu mirip kapok lombok.

Adalah keniscayaan bahwa pendakian menawarkan suasana tenang, udara sejuk, atau sunrise yang aduhai. Saya yakin, sebagian orang menyukai suasana ini karena berbeda dari apa yang mereka hadapi di tempat dan pada waktu biasanya.

Pada sisi lain, adalah kelumrahan pula bahwa segala kemewahan itu tidak ‘gratis’. Kenikmatan tadi biasanya ditebus dengan peluh yang terus menetes di sepanjang jalur pendakian. Itu baru salah satunya. Saya belum menulis soal moda transportasi yang tidak selalu mudah dan murah, dingin yang keterlaluan di dalam tenda, atau sulitnya beradaptasi buang air besar di tempat-bukan-toilet.

Processed with VSCO with g3 preset
Ranu Kumbolo, salah satu ‘imbalan’ pendakian di Gunung Semeru.

Lantas, apa hubungannya semua ini dengan kesalahan terbesar saya setiap mendaki gunung? Cara saya berkemas dan berjalan? Bukan. Ini adalah cara pandang saya terhadap pendakian.

Pada awalnya, saya terlalu ‘kaku’ pada diri sendiri. ‘Kaku’ dalam menentukan tujuan pendakian. Pukul sekian saya harus tiba di titik sana, maka kecepatan saya berjalan harus diatur, waktu saya istirahat harus dibatasi.

Beberapa tahun lalu, saya mencoba mengubah pola pikir saya. Tujuan tidaklah selalu berupa tempat. Ingat. Tujuan tidak harus selalu berupa destination, tapi bisa juga goal atau purpose.

Sering kali saya hanya memfokuskan tujuan di tempat kemah dan di puncak. Itu saja. Inilah yang membuat pendakian terasa meletihkan buat saya. Saya tidak menikmati perjalanan.

Saya lupa tujuan saya mengambil cuti adalah sebuah kesenangan. Kesenangan menjauh dari tetangga yang suka jerit-jerit di samping kamar kost (I wish the government subsidized xanax as basic needs) atau dari warga Jakarta yang tidak tertib (and condoms as well). Juga kesenangan karena berlibur, jelas saja.

Nikmati pendakian secara maksimal, asah kepekaan panca indera. Angin dingin yang menerpa kulit, udara yang bersih dan sejuk, suara daun bergesekan, pemandangan kabut di pucuk pohon, atau nikmatnya makan siang di jalur pendakian. Nikmati saja, karena semuanya belum tentu bisa Anda rasakan pada hari biasanya.

Saya sarankan, berhentilah terpaku pada kenikmatan visual saja. Pekalah untuk menikmati setiap partikel perjalanan. Nikmati proses, jangan hanya fokus pada hasil.

Setiap badan merasa letih, setiap ragu mulai ‘menyetani’, ingatlah untuk menikmati suasana di sekitar kita. Tidak ada pemandangan karena pandangan tertutup pepohonan lebat? Ya, nikmati saja pepohonan itu.

Apa hasilnya? Jelas, perjalanan jadi lebih menyenangkan. Setidaknya tidak terlalu menyiksa mental saya. Bagaimana dengan penyiksaan fisik? Ah, itu solusinya ya latihan fisik dan istirahat yang cukup sebelum mendaki.

Lantas, apakah pemikiran ini menjadikan saya manusia yang lebih baik? Apakah saya bisa sepenuhnya menerapkan kesadaran menikmati proses ini di dalam karir saya? Tidak juga. Belum sepenuhnya.

Namun paling tidak, satu hal telah berubah ke arah yang positif: saya lebih fleksibel untuk menikmati ‘sakitnya’ pendakian. Semoga ada yang tertular setelah membaca guratan ini.

27 thoughts on “Kesalahan Terbesar Naik Gunung yang Saya Lakukan”

  1. Naik gunung bagiku sesuatu yang berbeda rasanya. Jika main ke luar kota bisa sendiri, memancing di laut naik sampan sendiri biarpun ombak besar, kalau naik gunung saya belum pernah berani sendiri. Mesti ikut teman yang sudah pengalaman.
    Entah, rasanya belum berani saja jalan sendiri. Masih belum bisa mengatur ritme langkah, tenaga, dan mengendalikan nafsu (nafsu tergesa-gesa sampai ke atas).

    Like

  2. Begitupun saat ada teman yg kurang asyik atau cedera, kita harus bisa menikmatinya. Jangan malah menggerutu karena puncak tidak tercapai akibat ulah teman tersebut đŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Betul itu. Konsekuensi ngedaki bareng temen itu mah. Jangan cuma mikir “kalo gw ada apa-apa kan ada temen ini”. Puncak mah bisa kapan-kapan lagi kan đŸ˜€

      Like

  3. Setiap kali menawarkan liburan yang di isi dengan pendakian menuju sebuah puncak, ada beberapa teman yang bilang, muncak itu bikin capek, dingin dan nggak asyik… Padahal Jika di fikir-fikir di dalam sebuah pendakian ada rasa yang tidak bisa diungkapkan. Bagiku mendaki gunung adalah cara lain untk berlibur menikmati alam. Ada kebersamaan, tanggung jawab, mengalahkan ego dan pastinya ada kebahagiaan tersendri.
    Bagiku mendaki gunung adalah sebuah perjalanan yang melelahkan namun nagih…

    Liked by 1 person

    1. Hehe. Betul, temen saya juga banyak kok yang kaya gitu. Bahkan, sampai bikin dikotomi anak gunung-anak pantai—biar apa ga jelas.

      Wajar sih, kalau memang ga terlalu suka sama gunung, ya sulitnya perjalanan kan jadi sia-sia belaka. Beda kalau memang pengen naik gunung, sulitnya pendakian ya ‘konsekuensi’ buat nikmatin suasana pegunungan đŸ˜ƒ

      Liked by 1 person

Leave a reply to Yasir Yafiat Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.