Solo Hiking: Keuntungan, Konsekuensi, dan Persiapan

Mendaki sendirian menjanjikan kemewahan tersendiri. Tapi tidak ada makan siang gratis di sini. Kenali konsekuensi dan tips mendaki sendirian.

10 comments

Percayalah, mendaki sendirian atau solo hiking tidak segetir atau seseram yang Anda bayangkan. Buat sebagian orang, mendaki sendirian mungkin adalah keterpaksaan. Namun bagi saya, mendaki sendirian adalah pilihan.

Mengapa mendaki sendirian adalah pilihan? Karena mendaki sendirian menawarkan kemewahan-kemewahan yang tidak saya dapatkan ketika mendaki bersama orang lain. Tapi niscaya, ada ‘harga’ yang harus saya bayar untuk membeli kemewahan itu. Itulah alasan saya terkadang memilih mendaki sendirian, atau terkadang bersama teman.

Tidak ada yang absolut. Meski sedang ketagihan mendaki sendirian, saya tidak menutup mata bahwa ada beberapa pertimbangan yang membuat saya lebih memilih mendaki bersama teman. Di guratan ini, saya merangkum keuntungan, konsekuensi, juga tips melakukan pendakian solo.

Keuntungan

  • Hal terpenting, saya bebas menyusun rencana perjalanan hingga ke bagian terkecil. Saya menentukan semuanya: mulai dari tempat tujuan pendakian, tanggal pendakian, moda transportasi, jalur atau rute pendakian, hingga menu makan selama berada di jalur pendakian.
  • Saya bisa fleksibel mengubah rencana pendakian. Beberapa kali saya membuat rencana pendakian yang sangat cair, ‘berakrobat’ mengubah itinerary di tengah perjalanan. Misalnya, saya pernah memutuskan untuk menginap dulu semalam di basecamp, supaya bisa memulai pendakian pada pagi hari. Saya juga pernah mengganti rencana lokasi nge-camp ke pos yang lebih jauh, karena masih bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Jika saya mendaki bersama orang lain, apalagi dalam jumlah besar, mengubah rencana pendakian tidak akan sesimpel ini.
Merapi via Selo.JPG
Mendaki sendirian memberi kebebasan menyusun dan mengubah rencana perjalanan.
  • Ketika mendaki bersama orang lain, kecepatan berjalan saya disesuaikan dengan kecepatan terendah anggota kelompok pendakian. Jelas, saya tidak mungkin meninggalkan anggota kelompok lain. Kecuali untuk kasus tertentu, misalnya saya harus nge-take tempat untuk mendirikan tenda atau ketika saya membawa beban barang kelompok terberat. Namun, mendaki sendirian memungkinkan saya berjalan sesuai kecepatan dan ritme sendiri. Saya bisa tancap gas dari awal, beristirahat lebih lama untuk memotret atau beristirahat, atau turun berlari.

    Gunung Lawu via Cetho.jpeg
    Berjalan santai atau mengebut tanpa harus menyesuaikan kecepatan berjalan orang lain adalah salah satu ekuntungan solo hiking.
  • Sepi dan tenang adalah kemwahan yang juga saya nikmati ketika mendaki sendirian. Saya lebih sering merasa nyaman ketika sendirian. Tidak selalu, jelas. Namun, mendaki sendirian benar-benar memberi saya ruang privat untuk menikmati waktu dan suasana. Saya punya banyak kesempatan untuk menikmati ketenangan.

Konsekuensi

  • Semua persiapan dilakukan secara mandiri. Saya harus merencanakan, mencari informasi, menyiapkan logistik dan perlengkapan pendakian, membawa beban pendakian, membangun tenda, dan memasak—juga yang tidak kalah penting, memotret diri sendiri seperti pada foto di bawah ini—seorang diri.
gunung bongkok purwakarta.jpg
Saya menjajal solo hiking di Gunung Bongkok, Purwakarta.
  • Resiko bahaya lebih besar. Kemungkinan sakit atau cidera bisa menghampiri saya kapan pun, baik ketika saya mendaki sendiri atau sekampung. Namun, ketika saya sendirian, orang yang bisa membantu saya adalah saya sendiri.
  • Merasa bosan dan kesepian. Tidak, saya tidak setegar itu berada sendirian di jalur pendakian. Awalnya, saya pikir saya tidak akan benar-benar sendirian di jalur pendakian. Ternyata saya salah. Di Lawu, saya benar-benar sendirian ketika berada di tempat kemah di Gupakan Menjangan. 

    lrm_export_20180611_214032-01-2032788377.jpeg
    Saya sengaja membawa hammock ini untuk mengusir jenuh sendirian di Gunung Lawu.
  • Pengeluaran saya semakin besar, karena tidak ada kawan untuk berbagi biaya. Beberapa pos pengeluaran yang bersifat individu, misalnya tiket kereta api, tentu tidak akan terpengaruh. Namun, jika saya harus menyambung perjalanan dengan menyewa kendaraan, pendakian seorang diri akan menjadi beban tersendiri.

Persiapan

Bekali diri dengan informasi selengkap mungkin. Saya banyak meluangkan waktu untuk meriset seluruh bagian perjalanan, mulai dari waktu beroperasi kendaraan, karakteristik jalur pendakian, atau cuaca dan ketersediaan air yang sering berubah.

Peta gunung lawu Cetho.jpg
Mengenal jalur (karakteristik, jarak, dan perkiraan waktu tempuh) adalah hal yang wajib saya ketahui sebelum berangkat. 
  • Saya juga memastikan diri menyiapkan logistik selengkap mungkin. Pahami apa yang menjadi kelemahan diri sendiri, lalu siapkan solusinya. Saya selalu membawa balsem urut, karena kaki kiri mudah keram setiap berjalan di tempat bersuhu dingin. Saya juga selalu menyiapkan logistik cadangan (biasanya untuk persediaan makanan selama sehari) untuk keadaan darurat.
  • Tegas untuk memilih barang yang benar-benar dibutuhkan dapat meringankan beban bawaan. Pilah dan pilih barang yang akan dibawa. Ingat, satu barang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Misalnya, tempat memasak bisa digunakan juga sebagai tempat makan. Saya masih menggunakan nesting pabrikan TNI AD untuk memasak. Dari satu set nesting, saya hanya membawa satu bagian.
  • Pastikan pendakian solo diperbolehkan di tempat tujuan. Sebenarnya caranya mudah, saya bisa googling dengan kata kunci tertentu semisal ‘solo hiking Gunung Merapi’. Namun untuk memastikan dan mendapat informasi valid, kontaklah pos pendakian (bisa sekalian memastikan kondisi cuaca dan sebagainya). Beberapa pengelola taman nasional melarang pendakian solo, misalnya pengurus Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
  • Beri tahu keluarga atau orang terdekat mengenai rencana perjalanan, juga berikan nomor kontak pos pendakian. Di pos pendakian, berikan juga nomor kontak anggota keluarga sebagai nomor kontak darurat.
  • Terakhir, ingat bahwa ada kemungkinan Anda akan kesepian di jalur pendakian atau tempat kemah. Bawalah juga barang yang dapat mengusir jenuh, misalnya earphone, komik, novel, atau apa pun. Saya menyarankan hindari membawa portable speaker yang bisa mengganggu tenda tetangga atau apa pun yang ada di atas pohon.

10 comments on “Solo Hiking: Keuntungan, Konsekuensi, dan Persiapan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.