Budaya Ngemis Oleh-oleh

Ketika kesenangan untuk berbagi menjadi sebuah beban, maka saya memilih untuk mengatakan tidak.

28 comments

Saya menuai cukup banyak tanggapan di salah satu foto Instagram saya. Ini adalah foto liburan yang saya unggah beberapa waktu lalu. Sebagian besar orang menjawab pertanyaan yang saya tik di kolom caption. Sisanya? Meminta oleh-oleh.

Ada yang sekedar berbasa-basi, saya tahu. Namun, ternyata ada juga yang serius! Iya, beberapa di antaranya menunjukkan kekecewaan ketika saya menolak mewujudkan cita-cita mereka.

1070467-01.jpeg
Seorang wanita menjual cinderamata di salah satu kios di Desa Sade, Lombok.

Sesungguhnya, saya tidak terkejut. Meminta sesuatu dari orang yang sedang atau telah bepergian adalah tabiat yang sudah mendarah daging di lingkungan sekitar saya. Saya tidak tahu di daerah lain di Indonesia atau di luar negeri.

Mungkin sudah dianggap lumrah, maka perangai meminta-minta ini hampir selalu dilakukan. Pada sisi lain, ada juga kebiasaan untuk membeli oleh-oleh untuk orang lain, terpaksa atau pun sukarela.

Saya pernah bertanya pada beberapa orang yang hampir tak pernah absen membawakan rekan kerjanya oleh-oleh. Alasan mereka membawa oleh-oleh mudah ditebak: tidak enak kalau tidak bawa apa-apa, tidak enak karena sudah diizinkan cuti, tidak enak karena orang lain pun melakukan itu, dan sebagainya.

1110693.jpg
Gantungan kunci atau magnet kulkas biasanya jadi oleh-oleh yang mudah dan murah untuk dibeli dalam jumlah banyak.

Sebenarnya saya tidak merasa terlalu terganggu jika orang yang meminta dibawakan sesuatu adalah teman dekat atau anggota keluarga saya. Namun, sering kali permintaan oleh-oleh ini bukan datang dari teman saya, melainkan dari rekan kerja. Ya, mereka yang mengenal saya hanya karena kebetulan kami bekerja di perusahaan yang sama.

Jika ada yang menilai saya kikir karena hal ini, itu urusan antara mereka dan tafsir mereka. Saya tidak ambil pusing. Namun untuk membuatnya adil, saya juga bisa menilai mereka bermental pemalak atau pengemis.

Lalu mengapa saya memilih untuk tidak membelikan buah tangan untuk orang lain? Karena belum tentu ada alasannya. Saya tidak termasuk dalam daftar nama orang yang gemar berbasa-basi dengan membelikan oleh-oleh. Saya juga bukan tipe orang yang “ngga enakan” kalau datang ke kantor dengan tangan hampa setelah cuti. Bermanis-manis dengan oleh-oleh agar jadi kolega favorit di ruang kerja? Bukan saya.

Saya lebih suka pertanyaan: mengapa saya membelikan sesuatu untuk orang lain ketika saya bepergian? Lalu apa saya benar-benar tidak pernah membawa sesuatu untuk orang lain ketika berlibur? Tidak juga.

P1270226-01.jpeg
Toko bebas pajak di bandara juga menjadi salah satu tempat orang mencari oleh-oleh, biasanya berupa makanan atau minuman beralkohol.

Ada beberapa pertimbangan yang biasanya menggiring saya mau berbelanja oleh-oleh. Pertama, barang ini memiliki nilai khusus. Misalnya, seorang rekan kerja meminta saya membawakan bendera negara Israel ketika saya berada di Tel Aviv. Ya, saya belikan meski kami tidak begitu akrab.

Atau ketika saya ingin membuat seorang teman bisa merasakan suasana tempat saya berlibur, saya biasanya membawa makanan kecil khas yang saya bungkus sebagai oleh-oleh.

Hal yang membuat saya kehilangan rasa kesal adalah ketika seseorang meminta saya membelikan oleh-oleh apa pun. Terserah saya. Barang apa saja yang penting dibelikan. Pada titik ini, rasa kesal saya berubah menjadi rasa iba. Sungguh.

1390756-01.jpeg
Makanan khas suatu daerah juga kerap dijual sebagai oleh-oleh.

Pertimbangan kedua, saya ingin membuat seseorang merasa senang, secara khusus. Untuk alasan ini, barang yang saya beli biasanya bukan gantungan kunci atau magnet kulkas, melainkan sesuatu yang lebih personal, sesuatu untuk menunjukkan bahwa saya mengenal kesukaan mereka. Untuk alasan ini pula, biasanya saya melakukannya secara sukarela tanpa permintaan.

Apa saya anti oleh-oleh? Jelas tidak. Saya senang kalau ada rekan kerja yang membawa oleh-oleh keripik yang digelar di atas meja rapat. Pasti saya cicipi. Namun, saya tidak pernah meminta dibawakan oleh-oleh.

Mengapa? Pertama, merepotkan orang lain. Malu. Belum tentu orang yang saya titipi oleh-oleh punya waktu, tenaga, jatah bagasi, atau uang untuk membeli barang titipan saya. Apalagi, orang-orang di sekitar saya adalah orang yang “ngga enakan”. Saya tidak mau mereka membelikan saya barang hanya karena “ngga enak”.

Kedua, ada jasa titip, bukan? Saya rasa dan saya pikir tidak sulit untuk mencari barang yang kita inginkan dari berbagai tempat, kecuali kita memang sedang sangat mengirit pengeluaran untuk membayar ongkos kirim.

Pada akhirnya, saya tetap menganggap membawa oleh-oleh sebagai hal baik. Berbagi itu menyenangkan, bukan? Dengan membawa kopi dari Aceh misalnya, saya bisa membuat orang lain merasakan sedikit suasana kedai kopi di Tanah Rencong, mungkin.

Namun, jika hal ini dilakukan karena merasa terpaksa atau ngga enak, itu lain soal. Saya lebih memilih untuk tidak membelikan sama sekali, daripada saya berlibur dengan gondok menggantuk di leher.

28 comments on “Budaya Ngemis Oleh-oleh”

  1. dulu saya juga begitu. merasa terpaksa kalau bepergian wajib beli oleh2. tapi kemudian, saya melihat di lingkungan saya, memang seperti itu. orang kalau bepergian selalu bawa oleh2. itulah budaya kita. budaya kekeluargaan (bukan individualis). gak selalu buruk, tp juga gak selalu baik. akhirnya sayapun ikuti budaya ini, meski gak ada yg maksa bawain oleh2. cuma sekarang tujuan saya membawakan oleh2 sudah berubah. saya hanya ingin memberi. udah itu aja. lagian seperti bunyi hukum kekekalan energi: energi itu gak akan hilang. ia hanya akan berubah bentuknya, mungkin bentuknya akan menjadi kemudahan ketika saya traveling di tempat lain. who knows? lagian klo saya males beli oleh2 karena udah bawa bawaan yg berat, saya beli oleh2nya di kota sndiri. atau bisa juga dikirim pake jasa pengiriman dr tempat saya traveling. 😀

    Liked by 1 person

    1. Wah, kalau sampai ngirim oleh-oleh pakai jasa pengiriman sih udah sangat niat ya. Selama dilakuin dengan ikhlas sih ngga masalah, malah sangat positif. Berbagi (atau membuat orang lain senang) memang menyenangkan 🙂

      Saya rasa budaya memberi oleh-oleh bagus-bagus aja selama ikhlas. Sebaliknya, budaya minta oleh-oleh ini yang bikin gemes. Kasihan sama beberapa temen yang suka ngga enakan untuk nolak.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.