Israel: Denyut Nadi di Lautan Pasir

Penduduk Israel hidup di tengah lautan pasir, kering kerontang. Bagaimana kemudian kehidupan berdenyut di sana?

29 comments

Israel, secuil negara di Timur Tengah. Wilayahnya hanya sedikit lebih luas dari Provinsi Bengkulu.

Selama hampir sepekan saya berada di sana, berkenalan dengan kehidupan masyarakat di dua kota yang saling bertolak belakang: Yerusalem dan Tel Aviv.

Apa saja yang saya dapati?

—Iyos Kusuma

wp-image-1119161864
Israel, negara bergelimang pasir di Timur Tengah. Lebih dari 70% kawasan Israel adalah gurun pasir, terutama di bagian selatan yang berbatasan dengan Yordania dan Mesir. Teknologi pertanian adalah hal yang tumbuh berdampingan dengan bangsa Israel, mau tidak mau. Kini, Israel menjadi salah satu kiblat teknologi pertanian, khususnya pengairan, banyak negara di dunia. Bahkan negara tandus ini menjadi negara eksportir sayur mayur dan buah-buahan di kawasan.
wp-image-661796747
Suku bangsa Arab menduduki urutan kedua sebagai populasi terbanyak di Israel. Lebih dari 20% warga negara Israel ialah suku bangsa Arab. Bahasa Arab pun tidak asing digunakan di Israel. Di rambu-rambu penunjuk jalan, Bahasa Ibrani selalu berdampingan dengan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
wp-image-687614014
Yerusalem, Kota Damai dalam Bahasa Ibrani. Yerusalem adalah kota yang relijius, kota suci bagi tiga agama langit: Yahudi, Islam, dan Kristen. Predikat ini menjadi magnet wisatawan religi. Di hampir setiap relung Kota Lama Yerusalem, saya menemukan pedagang meraup Shekel atau Dolar dari wisatawan. Tidak hanya menjual cendera mata, mereka juga menjual makanan serta kebutuhan penduduk setempat, seperti buah-buahan dan sayur mayur.
wp-image--1246625504
Yahudi adalah keyakinan utama di Israel, dan Yerusalem adalah tempat saya dapat dengan mudah menjumpai kaum Yahudi ortodoks: Yahudi yang taat. Mereka umumnya mengenakan pakaian serba hitam dan membiarkan jambangnya tumbuh panjang dikepang. Di Kota Lama Yerusalem, umat Yahudi berdoa di Tembok Ratapan.
wp-image-268200197
Hampir seperlima warga negara Israel adalah Muslim. Mereka tinggal di kawasan-kawasan permukiman yang terpisah dari kawasan permukiman penganut kepercayaan lain. Kota Lama Yerusalem juga adalah tempat yang suci bagi mereka. Selain Masjid Al-Aqsa, Kubah Emas atau Kubah Shakhrah juga ada di balik benteng Kota Lama Yerusalem. Seperti kaum Yahudi, Muslim di Israel juga menduduki kursi di Knesset (parlemen Israel), pemerintahan, hingga menjadi hakim di lembaga setingkat Mahkamah Agung.
wp-image--1772344921
Dua ribu tahun lalu, gereja ini adalah Bukit Golgota, tempat Yesus Kristus disalib di Yerusalem. Kini, Gereja Makam Kudus menaungi tempat penyaliban Yesus, sekaligus juga makam Yesus. Pada hari Minggu, gereja ini menjalankan fungsinya sebagai tempat ibadah dan ditutup sementara bagi aktivitas wisata. Pemeluk agama Kristen adalah minoritas di Israel, hanya sekitar 2% dari seluruh penduduk Israel. Sangat sedikit.
wp-image--389054878
Menempuh perjalanan selama sekitar satu jam dengan mobil, saya tiba di Tel Aviv: kota antitesis Yerusalem. Yerusalem adalah pusat pemerintahan Israel, kota yang agamis dengan bangunan-bangunan yang bercorak pucat. Sedangkan Tel Aviv adalah jantung bisnis Israel, kota yang tidak pernah tertidur, tempat muda-mudi Israel mengejar sukses dan membayar apartemen dengan tarif tinggi. Meski pemerintahan Israel bercokol di Yerusalem, secara internasional, Tel Aviv adalah ibukota Israel. Kedutaan-kedutaan besar negara sahabat berkantor di sini.
wp-image-1855688025
Olahraga nampaknya telah merasuki jiwa banyak orang di Tel Aviv, menjadi sebuah tradisi dan gaya hidup masyarakat urban di sana. Hampir setiap hari saya memerhatikan, ratusan orang lalu lalang berlari, bersepeda, atau bermain bola voli di tepi Laut Tengah.  Ketika saya mengunjungi Israel pada pertengahan Juni, matahari baru terbenam pada sekitar pukul 20:00 dan mereka masih punya banyak waktu untuk berolahraga. Tel Aviv Promenade—trotoar lebar yang membentang dari Tel Aviv hingga Jaffa—adalah tempat  favorit saya menikmati angin Mediterania di Tel Aviv.
wp-image--2431784
Tel Aviv bertetangga dengan Jaffa. Suasana Jaffa lebih mirip dengan suasana Yerusalem: otentik Israel. Bangunan-bangunan berwarna pucat mendominasi tata kota. Jaffa juga menjadi salah satu kota wisata di Israel, bahkan lebih touristic dari Tel Aviv. Setidaknya, saya lebih mudah menemukan banyak wisatawan dan penjual suvenir. Anda fasih bertutur dengan Bahasa Arab? Cobalah praktikkan di sini. Mayoritas penduduk Jaffa adalah suku bangsa Arab.
wp-image--1542085374
Jaffa bukan cuma jadi tempat para turis berbelanja cendera mata, namun juga lapak bagi penduduk Israel berburu barang murah. Salah satu lapak yang saya temui adalah lapak barang-barang loak. Sepatu, baju, hingga perkakas rumah tangga bekas dijual di sini.
wp-image-857498191
Favorit saya di Jaffa: Abulafia Bakery, toko roti yang tidak pernah tertidur di Jaffa. Lihatlah corak bangunannya, sangat klasik. Toko ini sudah memanggang roti hingga lebih dari 130 tahun. Saya suka ketika aroma roti pita yang baru dikeluarkan dari pemanggangan menjalar di udara pada pagi hari.
wp-image-455107364
Serupa dengan meja-meja makan di Timur Tengah lainnya, meja makan di Israel selalu menyediakan roti pita. Di semua restoran yang saya sambangi, saya selalu disambut dengan roti pita hangat dan empuk. Inilah tradisi orang Israel membuka waktu makan mereka, memadukan roti pita dengan berbagai jenis sayur mayur dan olesan humus. Rasa hidangan pembuka di Israel cenderung asam. Sulit menemukan rasa pedas di Israel. Daging babi diharamkan bagi Yahudi dan Muslim. Sedangkan daging sapi, kambing, ayam, atau bebek umumnya menjadi hidangan utama di Israel.
wp-image--987346922
Kota Tel Aviv tidak semegah Jakarta. Pencakar langit tumbuh jauh lebih rimbun di Jakarta. Jauh sekali. Namun di Tel Aviv, taman-taman kota adalah hal yang jamak ditemui. Pada malam hari, tidak sulit menemukan taman-taman kota di Tel Aviv dipadati manusia. Salah satu taman kota yang saya datangi di Tel Aviv sedang dijadikan tempat mereka berdansa. Ada acara khusus? Seorang teman berkewarganegaraan Israel yang mendampingi saya menjawab, “Tidak. Mereka hanya berdansa”.

 

29 comments on “Israel: Denyut Nadi di Lautan Pasir”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.