Tips dan Inspirasi

Menghadapi Anak (Orang Lain) di Perjalanan

Saya baru saja duduk di kereta api. Menyiapkan semua barang yang akan saya perlukan selama perjalanan di kantung kursi di depan saya, sebelum saya menyimpan tas di bagasi kereta.

Satu-persatu, saya perhatikan penumpang lain yang hilir mudik melalui saya. “Semoga bukan mereka, semoga bukan mereka”, begitu ulang saya dalam hati setiap melihat penumpang membawa anak kecil. Berharap bangku kosong di sisi saya tidak ditempati mereka.

Tunggu. Ada alasan saya berharap tidak duduk berdekatan dengan penumpang yang membawa anak kecil, baik di kereta atau pun di pesawat.

Screenshot_2017-07-05-12-35-15_com.miui.videoplayer
Dua anak bermain di kereta api.

Anak-anak berbeda dengan orang dewasa, tentu saja. Maksud saya, ketika mereka berada dalam perjalanan panjang dan merasa bosan, mereka bisa saja mendadak rewel, menangis, atau meronta-ronta.

Mungkin saya pun seperti itu waktu kecil. Tidak ada yang salah. Kita memang ‘diajarkan’ untuk menangis untuk mendapat apa pun yang kita mau sewaktu bayi.

Kereta baru saja melesat selama dua jam menuju Semarang dari Jakarta. Saya sudah hampir terlelap ketika kursi saya terhentak beberapa kali dari belakang.

Saya biarkan. Mungkin tidak sengaja, pikir saya. Tidak lama kemudian, hentakan terjadi lagi. Berulang terus. “Okay, ini pasti anak kecil yang duduk di belakang saya, “saya menerka.

Saya bangkit dari duduk. Memutar badan ke belakang. Benar saja, seorang anak perempuan sedang asik memainkan gawainya sambil menyandarkan kakinya di belakang kursi saya. Ibunya duduk di sisinya.

Apa yang bisa saya lakukan? Apa juga yang akan Anda lakukan jika berada di posisi saya?

Pertama, saya mengira ia berusia sekitar lima tahun. Sudah bisa diajak berkompromi, saya pikir.

Maka hal yang saya lakukan ialah langsung berbicara kepadanya. “Hei, jangan ditendang-tendang ya kursinya,” saya langsung menegurnya dengan ekspresi semanis mungkin, lalu melempar senyum ke ibunya, dan kembali duduk.

Saya pikir hal yang saya lakukan sudah tepat. Ditegur langsung oleh orang lain akan membuat anak kecil lebih takut, jika dibanding dengan ditegur orang tua sendiri.

Jika saya menemui bayi yang terus menangis, tentu itu perkara lain. Saya tidak mungkin menegur bayi itu, atau bahkan orang tuanya untuk meminta mendiamkan bayinya.

Efektif. Sepanjang perjalanan selama lima jam berikutnya, ia berhenti menghentak-hentakkan kakinya di belakang kursi.

Saya pikir, jika cara pertama tidak berhasil, saya baru akan berbicara pada orang tuanya dan meminta untuk menjaga anaknya tetap tenang di perjalanan.

Saya juga pernah mengalami hal serupa di pesawat terbang. Seorang anak merengek pada orang tuanya, karena ingin cepat mendarat.

Lalu saya berkata padanya, “coba kau merengek pada pilot di depan”. Tidak, saya bercanda.

Saat itu, awak kabin bertindak cekatan. Seorang pramugari segera mendatangi anak yang menangis dan memberinya mainan. Mainan berukuran mini yang saya pikir tidak sulit untuk dibawa oleh orang tua sebelum bepergian. Entahlah.

Mungkin Anda mau berbagi pemikiran? Apa yang biasanya Anda lakukan untuk menenangkan anak di perjalanan?

20 thoughts on “Menghadapi Anak (Orang Lain) di Perjalanan”

  1. Setiap melakukan perjalanan jauh dengan kereta saya berharap menemui kisah yang sama seperti Jesse dan Celine “before sunrise” 😀

    Pernah nemu anak kecil yang usianya sekitar satu tahun an gituh yang sepanjang perjalanan dengan pesawat nangis mulu… tadinya mo saya ajak main. Karena berjarak beberapa bangku di belakang plus lagi kelelahan saya mah bobok pulas. Sempat kasihan sih sama sang ibuk yang menenangkan sang anak… tapi yah nggak tahu napa lebih milih bobok waktu itu.

    🙂

    Liked by 1 person

    1. Iya, Uni Eka. Pernah sekereta sama keluarga yang bawa anak kecil, mungkin umur 1-2 tahun. Karena anaknya nangis terus, akhirnya bapaknya gendong si anak mondar-mandir kereta. Lalu gantian sama emaknya. Kasian sama anak dan ga enak sama penumpang lain, mungkin. Hehe

      Like

  2. Pada dasarnya sih anak kecil yang masih lama dewasanya suka cari perhatian. Kalau dewasa cari perhatian itu namanya baper, ehh haahaha. Kalo diriku sih suka anak kecil, jadinya nyantai ketika mereka cari perhatian pake nendang bangku di depannya. Misal udah kelewatan biasanya kusenyumin. Kalo ditegur, si bocah justru minta perhatian lebih yang diluapkan lewat tingkah berisiknya itu. Kadang heran jg sih sikap ortu yang malah bentak, jewer, bahkan pukul si bocah kalo sedang cari perhatian. Itu justru memicu lebih banyak tindakan yang tak disadari si bocah juga. Kesimpulannya kudu sabar, ingat mereka masih anak-anak. Yang terlalu justru dewasanya yang dikasih kode mo diajak ngobrol kok malah fokus ke gawainya masing-masing kayak gak ada waktu buat dunia nyata aja. 😉

    Liked by 1 person

    1. Yap. Cari perhatian ya.. Saya suka anak kecil kalo emaknya oke sih, Mas.. *lah.. Nemu beberapa kali, justru orang tuanya operin henpon mereka ke anaknya, biar ga rewel. Ya, semacam mainan.

      Tapi pernah juga nemu anak yang ribut banget, saya ga ngapa-ngapain, cuma liatin lekat-lekat. Anaknya diem 😂

      Liked by 1 person

    2. Nahh ituu… gawai bukan solusi sbenarnya. Tapi ortu milenial apa mau dikata lagi. Lupa kalo si anak masih tahap ingin tahu dan banyak tanya. Kepingin tau pemandangan apa di balik jendela. Pingin tahu nomer telponnya mbak pramugari, ehm kalo yg ini modus bapaknya sih buahaha.

      Liked by 1 person

    3. Bahahahaha endingnya asik 😂

      Nah ini ada ortu dan anak lain, anaknya aktif banget.. Nanya aneh-aneh. Bapaknya sabar amat ditanyain susah-susah 😂

      Liked by 1 person

  3. kejadian mirip2 sih tapi ini di bioskop hahaha, rombongan sekeluarga dengan anak2nya yg ganggu banget, nendang2 bangku di depannya, terus brisik terus dan bentar2 minta ke toilet. tapi yang bikin senyum sendiri adalah keingintahuan si anak tiap lihat adgan film yang sedang diputar pada ortu mereka, lucu, kalimat2nya polos

    Liked by 1 person

    1. Hahaha.. Sama.. Ini aja si anak nanya-nanya mulu ke bapaknya soal hal yang dia liat dari jendela..

      “Pak, kalo mau bikin gedung sampe awan, harus berapa lantai ya?”

      “500 lantai”

      😂😂😂

      Like

Leave a reply to Halim Santoso Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.