Persiapan yang saya lakukan sebelum mendaki gunung bukan hanya bagaimana cara mengemas semua perlengkapan pendakian agar muat dan nyaman dibawa dalam tas. Lebih dari itu.
Hal lain yang juga saya anggap penting ialah perbekalan. Saya berpikir, ketika menikmati secangkir minuman hangat sambil memandangi pepohonan begitu menyenangkan, mengapa tidak menggandakan kenikmatan itu?
Caranya? Menghidangkan makanan yang tidak biasa. Katakanlah, spesial. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pendakian, Indomie biasanya jadi idola remaja. Ringan, mudah, dan murah. Satu lagi: lezat.

Saya tidak memungkiri kelezatan Indomie. Namun, saya juga tidak mengingkari nikmatnya spageti di Rinjani. Serius.
Menghidangkan spageti di atas gunung tentu lebih membutuhkan waktu dari sekedar merebus mi instan. Tapi, saya anggap itu sebagai harga yang harus ditebus untuk kenikmatan yang berbeda. Pengalaman yang baru.

Saya beruntung waktu itu, porter pendakian di Gunung Rinjani tahu betul cara meracik bumbu spageti dengan tomat-tomat yang kami beli di pasar sebelum mendaki.
Ia sudah terbiasa membawa tamu-tamu asing. Pelayanan pun ditingkatkan, bukan sekedar membawa barang, namun juga menyiapkan makanan yang akrab di lidah mereka.
Ketika menginginkan sarapan yang berbeda, saya pernah mencoba membuat panekuk cokelat. Panekuk instan, tentu saja.
Kami membuatnya di depan Ranu Kumbolo, sebelum mengakhiri perjalanan kami di Gunung Semeru tahun lalu.

Kudapan ini tidak memberi energi cukup untuk berjalan jauh? Benar. Tenang, makanan ini hanyalah menu pembuka sebelum saya dan teman-teman menyantap nasi goreng kornet.
Jika Anda menyukai sayur, sempatkanlah juga untuk mampir ke pasar sebelum memulai pendakian. Sebaiknya, pilih jenis sayur yang bisa bertahan cukup lama, seperti wortel.
Sayur mayur ini bisa dimasak pada hari pertama pendakian, atau Anda akan memasak sayuran yang tidak lagi segar. Sayur sop bisa jadi pilihan. Atau, mengapa tidak mengombinasikannya dengan kentang dan tuna?

Semuanya kembali pada selera makan cara masing-masing membuat pendakian semakin menyenangkan, tentu saja. Bagaimana dengan Anda? Apa makanan yang biasanya Anda siapkan ketika mendaki gunung?

Duh, aku udah lama nih gak mendaki gunung yang harus masak-masak sendiri. Dan setelah baca ini aku jadi mikir, kayanya ranselku harus diganti yang lebih besar, supaya bisa ngangkut perbekalan lebih banyak 😀
Btw kang Iyos, aku mau dong info porter atau provider yang bisa bantuin ‘mendaki’ Rinjani 😉
O iya, kapan-kapan kita nanjak bareng apa? 😀
LikeLike
Wih. Nanti ya dicari dulu kontaknya. Porter Rinjani kemarin ajib, suka kasih surprise tiba-tiba kasih masakan pas kita capek. Haha..
Belum ada rencana naik lagi nih. Kakak Bart udah ada rencana mungkin dlm waktu deket?
LikeLiked by 1 person
Aku belum ada rencana dalam waktu dekat. Tapi aku lagi bikin program untuk mendaki ‘lebih tinggi’. Jadi aku butuh rajin-rajin latihan. Dan Rinjani aku masukkan ke dalam daftarnya. So, aku nanya sama yang sudah punya pengalaman hehehehe 🙂
LikeLiked by 1 person
Program mendaki ‘lebih tinggi’ ini mau ke mana? *ingin diajak* hahaha..
Masih wacana sih, Juli habis Lebaran mungkin ke Merbabu. Belum rencanain lebih detail.
LikeLiked by 1 person
Ke Himalaya lagi sih hahaha *gak kapok2*.
Cuma yang ini mungkin aku butuh persiapan agak lama. 1-2 tahun lah, dan pengen cari sponsor juga, kalau memungkinkan. Kalau nggak ya nabung keras 😀
Ah boleh tuh, colek-colek kalau mau ke Merbabu. Kalau jadwalnya cocok dan ada rejeki, aku gabung. Sekalian belajar dari kang Iyos.
LikeLike
Belajar bikin meme, Kak? Ayo 😂
Wih. Kak Bart udah 2 kali kan ya ke Nepal? Nampaknya jatuh cinta nih. Hahaha. Semangat buat persiapannya 💪
LikeLiked by 1 person
Hahaha boleeeh, meme yang viralable 😀
Iya, jatuh cinta banget 😀
Siap kang. Ditunggu ya info porternya, gak buru-buru kok, seketemunya aja. Nuhun sateuacana 🙂
LikeLike
Ah ini.. Bisa lewat Pak Ulan (+6287763041380). Dia yang koordinir porter di Sembalun. Sediain homestay juga (dan sarapan srbelum pendakian). Tenda juga kalau mau sewa (tapi sewa tenda di sana lebih mahal daripada di Jkt). Oia. Bisa dijemput juga dari bandara Lombok ke Desa Sembalun.
LikeLiked by 1 person
Wuih, fast response. Kereeeen.
Makasih banyak kang Iyos, aku catat ya 🙂
LikeLike
Siappp, sama-sama, Kak Bart 🙏
LikeLiked by 1 person
Saya pun berprinsip demikian. Sudah susah-susah naik gunung, sayang kalau hanya menyantap mi instan. Lebih baik agak berat sedikit bawaan namun bisa nikmat makan di perjalanan 😀
LikeLiked by 1 person
Setuju banget! Maksimalin pengalaman naik gunung 😄
LikeLike
Temanku pernah meracik Spagetti sewaktu di atas bukit (tidak gunung karena lokasinya memang diperbukitan untuk kemping), dan ketika kami sarapan dengan menu tersebut. Ya Allah nikmatnya ditemani teh panas 😀
LikeLiked by 1 person
Setuju kan? 😄
Bawa rendang juga asik, Mas. Rendang waktu itu tahan sampe hari ke-3. Puas banget 😄
LikeLike