Gunung Lembu Si Cabe Rawit

Kecil-kecil Cabe Rawit. Kesan ini yang saya rasakan ketika mencicipi jalur pendakian Gunung Lembu, Purwakarta. Katika sampai puncak, keletihan tunai terbayar! Panorama Waduk Jatiluhur benar-benar memesona.

Advertisements
41 comments

PurSepeda motor Kang Rudi meliuk lincah menghindari tanah basah yang berserakan di jalanan. Jalanan berliku. Terkadang, kami melewati kawasan permukiman di desa, terkadang pula kami melewati jalan di sisi tebing. “Beberapa hari yang lalu mah longsor di sini, A. Ini tanahnya masih belum bersih di jalan”, tukasnya.

Kang Rudi adalah pengendara ojek yang mengantar saya dari Pasar Anyar Sukatani ke Desa Panyindangan, tempat pos pendaftaran Gunung Lembu di Purwakarta. Ia nampak sudah hafal betul setiap belokan dan tanjakan curam menuju pos pendaftaran pendakian. Kami menempuh waktu sekitar 40 menit sebelum akhirnya tiba di pos pendaftaran.

Titik awal pendakian Gunung Lembu.

Saya melirik buku tamu. Menyampu nama-nama yang sudah tertera pada hari itu. Tidak terlalu banyak. Petugas di pos pendaftaran mengaku Gunung lembu sedang tak banyak disambangi pendaki siang itu. Karena sedang sering hujan, katanya. Namun pada hari Minggu, jumlah pendaki bisa mecapai 100 orang. Setelah mendaftar dan membayar retribusi sebesar Rp10.000,00, saya segera membeli bekal nasi bungkus dan memulai pendakian.

Menu pembuka pada jalur pendakian Gunung Lembu: tanjakan. Sejak awal pendakian, saya sudah dihadapkan pada jalur menanjak. Jalan yang saya pijak adalah tanah yang agak basah. Hujan yang turun pada malam sebelumnya masih meninggalkan jejak di sini. Wajar, jalur pendakian ini tertutup oleh kanopi pepohonan. Saya berjalan menaiki tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga oleh penduduk.

Tanjakan pertama di Gunung Lembu. Tanjakan seperti ini ditemui di hampir seluruh jalur pendakian.

Tak dikira, baru berjalan lima menit, nafas saya sudah terengah. Sial, saya lupa pemanasan. Buff yang saya gunakan untuk menahan peluh di dahi sudah sangat basah. Saya beristirahat sejenak. Mengatur nafas. Gunung Lembu kecil-kecil cabe rawit.

Pendakian saya lanjutkan menuju pos pertama. Waktu tempuh dari pos pendaftaran adalah sekitar 15 menit. “Ini baru seperempat pendakian, A,” kata salah seorang pemilik warung di pos pertama. Kabar yang tidak terlalu menyenangkan. Namun  kabar baiknya, pemandangan dari pos pertama sudah cukup menghibur saya.

Lahan di pos pertama cukup luas. Ada beberapa warung yang menjual kudapan dan minuman dingin. Beberapa tempat duduk dari bambu juga disediakan sebagai tempat pendaki beristirahat. Tapi yang paling menarik di sini, panggung bambu yang cukup tinggi.

Beberapa pendaki tiba di pos pertama.

Dari atas panggung ini, Waduk Jatiluhur sudah terlihat! Sedikit mengalihkan letih, sekaligus menggiring para pendaki yang bersitirahat untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih tinggi. Pemandangan ke arah waduk tidak terlalu bagus di sini. Masih tertutup pucuk pepohonan. Saya masih berada di tempat yang kurang tinggi. Saya bergegas melanjutkan pendakian.

Pemandangan dari panggung bambu di pos pertama.

Perjalanan menuju pos kedua tak jauh berbeda. Sejak meninggalkan pos pertama, jalur menanjak sudah ada di depan mata. Malah kali ini lebih terjal. Beberapa kali, saya harus berpijak pada bebatuan besar yang licin. Beruntung, tangan saya bisa mencengkram seutas tambang yang sudah disiapkan sebagai pegangan, sekaligus pusat tumpuan tenaga untuk mendaki.

Saya menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk tiba di pos kedua. Kali ini, saya sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan medan jalur pendakian. Tubuh ini tak lagi terkejut dengan tanjakan yang sudah menyambut sejak pos pendaftaran pendakian.

Pos kedua berbeda dengan pos pertama. Tidak ada lahan luas di sini, apalagi warung. Pepohonan di sini semakin rimbun, tidak lagi didominasi oleh pepohonan bambu. Saya tidak beristirahat di pos kedua dan melanjutkan perjalanan.

Ah, bonus! Jalur selepas pos kedua tidak begitu curam, bahkan banyak jalur yang datar. Saya sarankan agar Anda tidak segera berhenti rehat ketika melihat tulisan pos dua. Berjalanlah sedikit, ada beberapa lahan yang cukup luas dan rata untuk duduk atau berbaring. Jika berjalan sedikit lebih jauh, Anda juga bisa menemukan dua warung.

Di warung ini, saya baru beristirahat. Saya mengeluarkan ayam kecil dari dalam tas. Hello, my little chicken. I’m so glad to meet you now. Sepotong ayam goreng sebagai bekal makan siang, maksud saya. Pilihan saya memang jitu. Segelas minuman jeruk dingin yang saya pesan di warung membuat hidangan makan siang saya makin nikmat. Lahap sekali saya makan. Saya harus mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.

Perjalanan menuju pos ketiga, atau pos terakhir, dilanjutkan. Setelah meninggalkan warung di depan pos kedua, saya seperti berjalan di punggung gunung. Pemandangan di kiri dan kanan jalur pendakian sudah terbuka, tidak lagi terhalang dataran yang lebih tinggi. Waduk Jatiluhur kian jelas terlihat di sini.

Pemandangan ke arah Waduk Jatiluhur di jalur menuju pos ketiga.

Ah, saya tidak mau berlama-lama terlena di sini. Kata pemilik warung yang saya singgahi tadi, pos ketiga dan puncak sudah dekat. Sekitar 30 menit. Menuju pos ketiga, saya menuruni bebatuan yang cukup curam. Licin pula, sisa hujan semalam. Saya kembali mencengkram kali tambang tang ditambatkan di sana.

Saya harus memastikan, batu yang saya pijak kuat betul sebelum saya memindahkan berat beban ke kaki yang menumpu. Jangan sampai lengah karena letih sudah semakin terasa. Setelah menuruni jalur menurun, saya kembali berhadapan dengan tanjakan. Semakin sepi di sini. Tidak ada pendaki lain, hingga saya tiba di pos ketiga.

Di pos ketiga, saya beberapa tempat yang cukup luas dan rata yang bisa digunakan untuk berkemah. Jika Anda ingin berkemah di sini, pastikan membawa persediaan air yang cukup, karena saya tidak menemukan ada sumber air di sekitar sini. Bawa juga lotion atau spray anti-nyamuk, karena nyamuk sepertinya ada di hampir seluruh jalur pendakian. Perjalanan menuju puncak sudah dekat. Anda bisa bermalam di sini untuk menikmati sunsrise keesokan harinya, tanpa harus berjalan lama.

Di luar dugaan. Puncak Gunung Lembu ternyata adalah sebuah lahan yang juga masih dipenuhi oleh pepohonan Saya sempat menyangka, puncak Gunung Lembu adalah lahan botak berbatu, tempat saya bisa melihat pemandangan ke arah Waduk Jatiluhur 360⁰. Saya baru ingat ulasan di beberapa blog, bahwa tempat terbaik untuk melihat waduk ada di beberapa meter setelah puncak Gunung Lembu. Batu Lembu namanya.

Untuk menuju Batu Lembu, saya kembali menuruni jalur bebatuan yang cukup curam. Saya meningkatkan kehati-hatian. Di tengah perjalanan turun, saya sudah bisa melihat atap warung. Ah, Batu Lembu sudah dekat. Sekilas, terlihat seperti ada kerumunan orang di sana. Terlihat dari celah ranting pepohonan.

Batu Lembu.

Akhirnya, tiba juga saya di Batu Lembu! Pemandangan di sini sempat membuat saya tersenyum sendiri. Saya menghela napas panjang sambil menikmati panorama Waduk Jatiluhur di sini. Tak sabar, saya segera meraih tali tambang yang tertambat untuk turun ke atas Batu Lembu.

Keramba-keramba ikan di Waduk Jatiluhur terlihat jelas dari Batu Lembu.

Dari sini, Gunung Bongkok dan Gunung Parang terlihat jelas. Sama seperti Gunung Lembu, kedua gunung ini juga bertahta di sisi Waduk Jatiluhur. Di antara ketiga gunung ini, waduk membentang. Waduk Jatilihur adalah sebuah bendungan yang menampung aliran Sungai Citarum. Tidak hanya digunakan sebagai sumber irigasi bagi lahan pesawahan di sekitarnya, waduk ini juga dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik yang disalurkan ke sejumlah daerah.

Gunung Parang dan Gunung Bongkok dilihat dari Batu Lembu.

Saya duduk cukup lama di sini. Tak lama dua kelompok pendaki baru berdatangan menyusul saya. Saya baru sadar, kerumunan yang saya kira adalah pendaki tadi ternyata adalah kawanan kera! Pendaki-pendaki lain baru tiba sesaat setelah kedatangan saya. Anda sebaiknya tidak lengah meninggalkan barang bawaan Anda di sini, sebelum kera-kera itu merampas dan membawanya pergi.

Perhatikan barang bawaan Anda. Jangan lengah, karena ada kawanan kera yang bisa merampas barang bawaan Anda.

Satu hal yang saya lupa lakukan di sana adalah menyeruput kopi panas sambil menikmati pemandangan. Padahal ada warung bertengger di ujung sana. Ah, saya harus kembali lagi ke Batu Lembu untuk menunaikan keinginan saya ini.

Para pendaki beristirahat di Batu Lembu.

41 comments on “Gunung Lembu Si Cabe Rawit”

  1. nah ini, pengalamannya hampir sama hehehehe.. awalnya ngeremehin, tapi pas nanjak beuhh di awal aja udah gak dikasih ampun pas ngelewatin hutan bambunya. Tips : banyak nyamuk disana, lebih baik bawa autan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s