Hal yang paling saya hindari ketika keluar dari pintu kedatangan bandara adalah tawaran dari para penyedia jasa transportasi. Saya tidak mengatakan tidak memerlukan jasa mereka. Namun ketika beberapa di antara mereka terus menawarkan, bahkan seperti memaksa, saya merasa tidak nyaman. Ketika saya menjawab “tidak, terima kasih”, saya berharap kami sama-sama mengerti Bahasa Indonesia.
Mengapa mereka melakukan hal itu kepada saya? Karena saya terlihat seperti pendatang, karena saya terlihat seperti turis atau wisatawan. Turis diyakini belum tahu betul soal pilihan-pilihan transportasi lokal di dalam kota, sehingga lebih mudah dirayu untuk menggunakan jasa mereka.
Ketika saya datang di bandara dengan muka kebingungan—apalagi sambil menyeret koper—mungkin saya terlihat seperti memakai baju bertulisan “Hey, I’m Traveler. I’m New in Here!“.

Setiap orang memiliki gaya masing-masing ketika berlibur. Misalnya untuk terlihat seperti turis atau tidak, baik itu sengaja atau tidak sengaja terlihat seperti turis.
Saya percaya, mereka yang sengaja ingin menunjukkan identitasnya sebagai wisatawan memiliki tujuan tertentu. Apa pun itu.
Sama halnya dengan saya yang tidak ingin terlihat seperti wisatawan ketika berlibur. Ini adalah alasan-alasan saya menghindari tampil sebagai wisatawan.
1. Menghindari Godaan
Bukan. Ini bukan godaan untuk tidur bersama seseorang di kamar hotel. Itu tidak perlu dihindari. Maksud saya, karena tawaran itu tidak akan datang kepada saya.
Ah, oke. Cerita yang saya tulis pada bagian pembukaan adalah salah satu contoh godaan yang saya maksud. Godaan untuk menghabiskan banyak uang dari para pelaku industri pariwisata.
Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya selalu membatasi pengeluaran saya selama berlibur. Kedua, saya hampir tidak pernah mencantumkan beberapa kotak bakpia, Dagadu, atau oleh-oleh lainnya dalam daftar pengeluaran liburan. Jadi, ini adalah masalah penghematan uang. Bukan soal menghargai atau tidak menghargai usaha para pelaku industri pariwisata setempat.

Saya berani bertaruh, jika Anda menyusuri Jalan Malioboro dengan mengenakan celana pendek, kaos dengan tulisan “I Love Bali”, sepatu Converse, dan kacamata hitam, setidaknya akan ada tiga tawaran dari pengayuh becak untuk berkeliling membeli oleh-oleh.
Jika Anda memang tidak keberatan, silakan. Jika Anda tidak nyaman atau tidak tega menolak tawaran-tawaran itu, berpakaianlah seperti masyarakat lokal, atau setidaknya tidak berpenampilan mencolok.
2. Mencegah Kriminal
Mengalungkan kamera di leher ketika menyusuri jalan sepi pada malam hari adalah cara terbaik untuk tampil sebagai turis (sekaligus mengundang seseorang untuk merampok Anda).
Apa lagi alasannya? Mereka percaya, turis datang ke tempat liburan tidak hanya dengan pakaian. Turis datang dengan uang. Uang untuk menyewa kamar hotel, untuk untuk makan di pinggir pantai, untuk untuk berbelanja, dan untuk kebutuhan lainnya. Itu pertimbangan pertama.

Pertimbangan kedua. Jika Anda hendak merampok seseorang di suatu tempat wisata, siapa yang Anda pilih sebagai target: turis atau warga setempat? Turis?
Cerdas! Karena mental orang yang berada di tempat baru cenderung lebih mudah ditekan. Di sisi lain, warga setempat cenderung lebih kenal dengan masyarakat dan kondisi lokasi setempat.
3. Mendapat Harga Lokal
Beberapa kali saya harus menanggung harga barang atau tarif kendaraan yang lebih mahal di tempat liburan. Anda benar, tidak ada yang salah dengan menetapkan harga atau tarif yang lebih mahal untuk wisatawan. Ini bisnis. Jika tidak suka, silakan cari pedagang atau penyedia jasa lain.
Perbedaan tarif untuk wisatawan dalam negeri biasanya tidak berlaku di tempat wisata yang sudah dikelola pemerintah daerah. Misalnya Candi Prambanan. Tarif biasanya dibedakan menjadi dua: wisatawan domestik dan wisatawan asing.
Artinya, Teuku dari Aceh dan Yohana dari Papua akan membayar retribusi masuk dengan tarif sama. Sementara Sora Aoi dari Tokyo akan membayar tarif berbeda.
Namun untuk beberapa jenis pengeluaran, perbedaan harga antarsesama wisatawan domestik dapat berlaku. Besar perbedaannya terserah yang mengelola. Contohnya, tarif ojek.
Jika saya adalah tukang ojek, saya akan mematok ongkos lebih mahal untuk mengantar wisatawan. They have money, and I need it. Mereka kapok? Tidak masalah. Ratusan atau ribuan orang lainnya akan datang ke tempat wisata yang sama pekan depan.
Lantas, apa yang saya lakukan ketika saya benar-benar tidak ingin terdeteksi sebagai wisatawan ketika saya memang sedang berwisata?
Berbaur.
Berbaur dengan Masyarakat Setempat
Berbaurlah dengan masyarakat setempat. Belalang, kupu-kupu, atau katak sudah melakukannya, dan manusia menyebutnya sebagai kamuflase.
Kesan Pertama: Busana Anda
Visual memainkan peran penting dalam menyusun kesan pertama. Cara Anda berpenampilan adalah hal paling sederhana yang menentukan kesan yang orang lain bangun terhadap Anda.
Mengenakan kemeja Hawaii, kaos singlet, celana pendek, sendal jepit, dan kacamata hitam di Kuta sangat mencirikan Anda sebagai wisatawan. Tidak ada yang aneh dengan itu, jika Anda mengenakannya di pinggir pantai. Namun ketika Anda mengenakan busana itu hanya untuk mencari makan keluar penginapan, ya, Anda turis seutuhnya.
Kenakanlah pakaian sewajar penduduk setempat melakukannya. Atau setidaknya, tidak tampil mencolok.
Baca juga: “Malas Melipat Baju saat Berkemas? Ikuti Cara Saya” di sini.
Rem Mulut
Anda sedang duduk di dalam taksi di Bandung dan berbicara di telepon, “Iya, Sayang. Ini udah sampai. Lagi di jalan ke hotel. Iya… Iya… Iya… I love you too, Mirna, I mean Vina. Bye“. Bingo! Anda sedang memperkenalkan diri ke sopir taksi yang Anda tumpangi bahwa Anda adalah pendatang.
Saya tidak mengatakan semua sopir taksi di tempat wisata selalu berlaku tidak adil kepada pendatang. Namun nyatanya, keluhan dari sejumlah wisatawan di TripAdvisor adalah keluhan soal permainan curang sopir taksi di Indonesia.
Keluhan soal taksi di Indonesia juga hampir selalu masuk dalam ulasan soal “tourist scam in Indonesia”. Modusnya bermacam-macam, seperti mengambil rute yang lebih jauh.
Amati dan Pelajari
Cermati bagaimana kebiasaan dan adat istiadat masyarakat setempat. Sekencang apa volume suara mereka ketika bertanya, seperti apa gestur tubuh mereka ketika menyapa orang lain, atau bagaimana cara mereka bersalaman.
Tidak perlu waktu yang lama. Saya hanya perlu duduk di suatu tempat yang cukup ramai, memperhatikan interaksi yang terjadi di sekitar saya, misalnya antara penjual minuman dan pembeli. Kemudian, saya akan paham perbedaan cara mengucapkan terima kasih di Solo dan di kampung saya di Jawa Barat.
https://www.instagram.com/p/85t0K0Dxa1
Mengetahui dan mengikuti kebiasaan masyarakat setempat tidak hanya membuat Anda seperti bagian dari masyarakat setempat, namun juga membuat Anda ingat untuk menghargai adat istiadat dan masyarakat setempat.
Baca juga: “Memaknai Syawal di Surakarta” di sini.
Jangan Jelalatan
Hey, saya baru tahu “jelalatan” ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia!
Oke, ketika Anda berjalan di suatu tempat, berjalanlah dengan penuh rasa percaya diri. Langkah yang mantap, pandangan lurus ke depan, seperti Anda melewati jalan itu setiap hari. Mengapa? Karena orang yang berjalan di suatu tempat yang sudah mereka kenal cenderung tidak melihat ke mana-mana, hanya lurus ke depan.
Berjalan dengan mata melihat ke kiri dan ke kanan mengesankan Anda sedang mencari sesuatu, atau berusaha mengenali suatu tempat.
“Punten, Bu. Terminal Leuwi Panjang di mana, ya?”
Ketika berada di suatu tempat liburan, kuasailah beberapa kata atau frasa. Berbicara dengan bahasa setempat akan membuat Anda dianggap sebagai warga setempat. Kata-kata yang biasanya saya pelajari adalah kata untuk menyapa, meminta permisi, dan berterima kasih.
Saya tidak perlu mempelajari bahasa lain sampai fasih, tentu saja. Cara yang saya lakukan adalah membuka percakapan dengan bahasa setempat, berbicara dengan Bahasa Indonesia dengan sedikit dialek setempat, dan menutup pembicaraan dengan bahasa setempat. Voila!
Bagaimana dengan Anda? Apakah memilih untuk dikenal sebagai wisatawan ketika sedang berlibur? Atau lebih nyaman untuk dikenal sebagai warga setempat?

Hmm, kalau jadi wisatawan enaknya menyamar saja, seperti pak Wiranto 😁
LikeLike
Waduh… Masih inget aja 😃
LikeLike
Kadang suka lupa dan malah mengesankan diri “hey….i’m tourist” padahal itu sudah menjadi poin 1 bagi para pelaku yang mengincar mereka2 ini, pun saat saya pertama kali berkunjung ke Jogjakarta saat masih SMP dan dipaksa ikut naik becak yang ujung2nya dibawa ke toko-toko yang sudah berafiliasi dengan mereka dan tentunya ada intimidasi bagi yang sudah kena jebak kalau tidak membeli sesuatu saat mampir di toko yang mereka tentukan. Padahal, harga yang ditawarkan kadang tidak masuk akal mahalnya dibanding dengan penjual-penjual lain yang benar-benar niat untuk berdagang bukan untuk “merampok”. Tulisan yang bagus sebagai pengingat untuk saya pribadi.
LikeLiked by 1 person
Sama banget, Mas. Hahahaha.. Maksud mereka juga ya mungkin baik, membantu wisatawan nyari oleh-oleh tanpa jalan kaki.
Kita bisa ga beli sih kalo udah sampe lokasi oleh-oleh dan ternyata tempat dan barangnya ga ada yang mencuri hati, tapi tetep aja udah keluar ongkos buat bayar becak. Makasih, Mas 😃
LikeLiked by 1 person
Terus kadang saat sudah niat untuk tidak membeli oleh-oleh dan menunggu teman berbelanja tapi kita karena bosan nunggu terus ikut masuk, terkadang ujung-ujungnya jadi ikut belanja. Seringnya sih harga yang dipatok lumayan mahal mungkin karena tau pangsa pasarnya untuk para pelancong yang mau menghabiskan duitnya.
LikeLiked by 1 person
Iya, Mas. Menurut pengamatan saya sih (elah pengamatan) beberapa jenis toko atau tempat makan berani kasih harga yang lebih mahal atau bahkan sangat mahal karena mereka tau, setiap hari mereka punya pelanggan baru: wisatawan baru. Kecuali mereka yang memang menjual kualitas dengan harga tinggi ya. Lain soal.
LikeLiked by 1 person
Intinya biarpun kapok nggak beli lagi toh jarang juga kembali lagi karena bakalan ada pembeli2 baru lagi hmmmm…
LikeLike
Betul. Pendapat pribadi loh ini 😃
LikeLiked by 1 person
ada benernya juga sih menurutku hehehe
LikeLike
Iyosss, saik banget bisa embed ig di blog hahahah
LikeLiked by 1 person
Oiiii Bung Acen!
Iya, diajarin temen 😃 Lumayan ngirit kuota upload-an di WordPress. Hehehe.
LikeLike