Menyalakan Harapan

41 comments

“Angin nyaris tak berkesiur di dalam klenteng, namun aroma dupa tetap menjalar di udara.  Pucuk-pucuk dupa memutih. Asapnya meliuk ke angkasa, menerbangkan harapan. Hari itu, entah berapa ribu doa yang dilayangkan bersama asap dupa. Di ruang utama klenteng Jin De Yuan, lilin dan dupa kembali menyala.”

1130166-01
Umat Budha bersembahyang di wihara Dharma Bhakti. Pada perayaan tahun baru Imlek, masyarakat etnis Tionghoa mengharapkan datangnya keberuntungan dan kemakmuran pada tahun yang baru.

Penduduk sekitar mengenal wihara Dharma Bhakti dengan nama klenteng Jin De Yuan. Usianya yang mencapai 366 pada tahun ini menjadikan wihara Dharma Bhakti sebagai klenteng tertua di Jakarta. Hampir empat abad. Seorang letnan bernama Kwee Hoen membangun klenteng ini pada tahun 1650 di sisi barat daya tembok Kota Batavia.

Jauh lebih awal sebelum klenteng ini berdiri, area Glodok sudah menjadi kawasan pecinan, sebuah daerah permukiman bagi para pengusaha dan pedagang Tionghoa sejak abad ke-16. Dulu, klenteng ini diberi nama Kwan Im Teng, klenteng yang digunakan sebagai tempat penghormatan kepada Dewi Koan-Im, dewi welas asih. Letaknya tidak berubah sejak dulu, yakni di Jalan Kemenangan Raya, Petak Sembilan, Jakarta Pusat. Namun, ternyata beberapa bagian dari klenteng ini sudah berubah.

1130427-01
Seorang pria menjual lampion di sekitar wihara Dharma Bhakti.

Pagi itu adalah hari pertama saya mengunjungi wihara Dharma Bhakti. Satu hari menjelang tahun baru Imlek. Nuansa oriental begitu kental. Jalan —yang lebih mirip gang bagi saya— menuju wihara Dharma Bhakti merah merona. Pedagang kaki lima sibuk menjajakan pernak-pernik khas Imlek. Amplop kecil, kembang api, lampion, baju-baju, semua serba merah. Beberapa di antaranya bergambar monyet.

Dalam penanggalan Tiongkok, tahun ini adalah tahun monyet api. Salah seorang peramal peruntungan Tiongkok berujar di media masa online, tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagi perekonomian Indonesia. Percaya atau ragu, setidaknya saya melihat para pedagang di kawasan pecinan Glodok nampak menuai banyak rupiah pagi itu. Laris manis.

Rupa ruang utama wihara Dharma Bhakti tak serupa dengan rupa yang saya lihat di majalah. Warna merah dan emas tak lagi mendominasi. Kini, ruang utama wihara Dharma Bhakti didominasi oleh warna merah dan hitam. Kain merah memeluk tiang-tiang penyangga klenteng. Bukan sekedar pemanis agar nuansa Imlek kian semarak. Kain-kain berwarna menyala ini sengaja dililitkan untuk menutupi tiang berjelaga. Persiapan yang nampak seadanya.

Pada beberapa bagian ruangan, ada tulisan peringatan agar umat tidak menyentuh cat yang masih basah. Hampir seluruh bagian dari ruang utama wihara Dharma Bhakti menghitam. Gosong dijilati api. Tiga hari sebelum perayaan Cap Go Meh tahun lalu, ruang utama wihara Dharma Bhakti terbakar. Naas, hampir seluruh bangunan utama gosong. Enam patung berusia hampir empat abad pun ikut menghitam. Selama sekitar tiga bulan, wihara ini ditutup. Garis polisi berwarna kuning hitam sempat dibentangkan untuk melindungi umat dari sisa puing yang bisa runtuh kapan saja.

Menyalakan Harapan, guratankaki.com Selamat membaca 👲

A post shared by Guratan Kaki (@iyoskusuma) on

“Sayang, belum semua umat tahu kalau klenteng ini sudah bisa dipakai sembahyang. Masih banyak yang ngira klenteng tutup setelah kebakaran, jadi mereka pindah ke klenteng-klenteng lain,” Yu Ie mengenang perayaan Imlek tahun lalu, ketika umat lebih banyak berbondong-bondong datang ke wihara Dharma Bhakti.

1130362-01
Yu Ie, salah seorang pengurus wihara Dharma Bhakti yang saya ajak berbincang.

Saya berkenalan dengan Yu Ie, salah satu pengurus wihara Dharma Bhakti. Sudah 15 tahun Yu Ie mengabdikan dirinya di sana, melayani umat yang datang beribadat. Hampir satu tahun berselang, pemugaran belum juga sepenuhnya dilakukan. Meski tentu, semangat untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta tidak pernah padam. Umat tetap berdatangan.

Saya heran, mengapa pemugaran ruang utama wihara yang berukuran tidak terlalu besar ini tidak cukup dilakukan dalam satu tahun. Bukankah wihara ini adalah salah satu bangunan cagar budaya di Jakarta, yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah? Apakah tidak ada dana bantuan dari pemerintah daerah? “Kita pernah nolak untuk renovasi ini pake uang pemda. Ga mau pakai dana pemerintah. Jadi, ya pake uang umat. Sumbangan. Mungkin bulan depan baru mulai. Masih ngurusin masalah prosedural,” Yu Ie menjawab kebingungan saya.

1130223-01
Lilin-lilin merah sumbangan umat berjejer di ruang utama wihara Dharma Bhakti. Pada kebakaran tahun lalu, lilin serupa inilah yang diduga menjadi pemicu berkobarnya api.

Salah satu pengunjung yang datang untuk beribadah, Guntur Salim, juga berkata demikian. “Banyak umat yang kasih sumbangan. Kita percaya, rejeki ditambah terus kalau kita rajin nyumbang,” tambahnya. Sebagai bangunan cagar budaya, pemugaran wihara Dharma Bhakti tidak bisa dilakukan seperti pemugaran bangunan biasa. Pemugaran harus dilakukan tanpa mengubah bentuk dan fungsi awal bangunan.

Pengurus wihara pun nampak tak mau kecolongan lagi. Di beberapa bagian wihara, beberapa alat pemadam api saya dapatkan sudah tersedia. Upaya pencegahan kebakaran pun ditingkatkan. Petugas jaga disiagakan pada malam hari.

1130102-01
Wihara Dharma Bhakti baru bersonel untuk menyambut tahun baru Imlek. Pada beberapa bagian wihara, cat nampak masih basah.

Jika pemugaran wihara Dharma Bhakti jadi dilaksanakan pada bulan depan, maka restorasi ini akan menjadi restorasi kedua yang pernah dilakukan terhadap wihara Dharma Bhakti. Pada tahun 1890, restorasi dilakukan setelah satu abad sebelumnya, wihara ini dirusak oleh serdadu Belanda. Wihara Dharma Bhakti adalah saksi bisu dari pembantaian warga keturunan Tionghoa oleh tentara Belanda pada Oktober 1740. Setidaknya 10.000 warga keturunan Tionghoa di luar tembok Kota Batavia dibunuh.

Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai tragedi pembantaian Angke. Dua abad kemudian, serdadu Belanda angkat kaki. Namun kebiadaban terhadap warga keturunan Tionghoa di Indonesia terulang pada tahun 1998. Mungkin peristiwa pada tahun 1998 itu adalah puncak dari bentuk diskriminasi terhadap warga keturunan Tionghoa di Indonesia setelah bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaan.

Selama masa pemerintahan Orde Baru, warga keturunan Tionghoa tidak benar-benar merdeka. Instruksi Presiden nomor 14 tahun 1967 yang dikeluarkan Soeharto melarang setiap warga keturunan Tionghoa di Indonesia untuk merayakan tradisi atau peribadatan Tionghoa secara mencolok di ruang terbuka. Ada pula peraturan yang mewajibkan warga keturunan Tionghoa mengganti nama menjadi nama asli Indonesia. Senyum saya selalu menggantung jika membayangkan bahwa Soeharto menganggap bahwa Ratri, Ester, atau Akbar adalah nama asli Indonesia.

Klenteng sebagai rumah ibadat pemeluk agama Kong Hu Chu pun sempat menanggalkan identitasnya. Akibat Inpres ini, Kong Hu Chu dan Taoisme terpaksa ‘menumpang’ ke ajaran agama Buddha sebagai Tridharma. Itu sebabnya, klenteng Kwan Im Teng mengganti nama menjadi wihara Dharma Bhakti kala itu.

Nyatanya, ‘kemerdekaan’ baru benar-benar dirasakan warga keturunan Tionghoa di Indonesia setelah seorang ulama bernama Abdurrahman Wahid menjadi orang keempat yang memegang tongkat estafet kepresidenan. Tahun 2000, Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden yang mencabut inpres yang saya bahas di atas tadi. Semarak perayaan Imlek yang sudah dirayakan dunia 14 abad sebelum masehi, akhirnya bisa bergelora di Indonesia. Bahkan tidak sedikit warga non-keturunan Tionghoa yang ikut larut, berbaur di jalanan menikmati kemeriahan perayaan tahun baru Tiongkok di Indonesia. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Mpu Tantular dalam Kitab Sutasoma menyebutnya sebagai bhinneka tunggal ika.

1130339-01
Umat melepas ratusan burung emprit di pelataran wihara Dharma Bhakti. Burung-burung ini dijual di depan wihara seharga Rp 1.500,00 per ekor. Salah seorang penjual burung emprit mengaku bisa meraup satu hingga dua juta rupiah dari setiap transaksi.

Sebelum saya meninggalkan wihara Dharma Bhakti, saya melewati satu keluarga yang tengah melepaskan ratusan burung emprit di pelataran wihara. Melepas sial. Demikian harapan yang diyakini masyarakat keturunan Tionghoa dengan melepas burung. Sang Ibu, saya lihat memejamkan mata dan menggerak-gerakkan bibirnya. Seperti menitip doa untuk terbang tinggi bersama ratusan burung ke udara.

Semoga keberuntungan dan kemakmuran datang berlimpah tahun ini. Selamat tahun baru 2567!

Advertisements

41 comments on “Menyalakan Harapan”

  1. Wah cukup panjang ya sejarah Wihara Dharma Bhakti ini, bahkan tragedi pembantaian Angke tahun 1740 pun dilewati oleh bangunan peribadatan ini. Btw, kenapa ya alasannya mereka tidak ingin menggunakan bantuan dari PEMDA untuk restorasi saat ini? Apakah murni karena alasan spiritual atau karena tidak ingin terikat ‘hutang budi’ dengan pemerintah?

    Mantap banget nih artikelnya, cara berceritanya runut dan informative. Salut!

    Liked by 1 person

    1. Nah, itu dia. Lupa nanya kenapa mereka ga mau pake uang Pemda. Kalau alasan spiritual, mungkin ngga ya.. Pendapat doang loh ini. Haha. Mungkin karena uangnya udah ada, tapi masih sibuk urus perencanaan restorasi karena ini bangunan cagar budaya.

      Makasih, Kak Bart! 😁

      Liked by 1 person

    2. Apapun itu kita berharap bangunan ini bisa direstorasi dan dikembalikan keindahannya.

      Secara pribadi aku berharap di situs-situs bersejarah macam ini, di bagian depannya ada semacam papan informasi yang menceritakan tentang sejarah situs-situs tersebut. Seperti yang ada di Georgetown-Penang, atau mungkin kota-kota lain yang menghargai sejarah kotanya. Pasti menarik khan? 🙂

      Sami-sami kang Iyos 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s