Rumah Terakhir

Menyusuri keheningan rimba Kalimantan, kapal kami membelah Sungai Sekonyer yang mengalir tenang. Kami menembus Taman Nasional Tanjung Puting, menatap wajah para tuan rumah, orangutan. Meski berada di dalam benteng konservasi, orangutan kini duduk di ujung tanduk. Ancaman kepunahan mengintai setiap waktu.

33 comments

Para awak kapal melepas tambat. Perlahan kami melaju meninggalkan Pelabuhan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kesibukan masyarakat Kumai pada siang itu terlihat di kejauhan, di atas kapal-kapal besar, membongkar muatan batubara dari atas kapal. Pelabuhan Kumai memegang peran penting bagi denyut kehidupan masyarakat setempat.

Pelabuhan ini adalah penghubung antara Kumai dengan kota-kota lain di seberang Laut Jawa. Masyarakat Kumai banyak yang bekerja di ladang kelapa sawit. Sebagian hasil pengolahan kelapa sawit dikirim menyebarangi Laut Jawa melalui Pelabuhan Kumai.

Processed with VSCO with s3 preset
Klotok-klotok yang diparkirkan di Pelabuhan Kumai.

Tanah Kalimantan yang dibelah dari garis Khatulistiwa memang membawa berkah tersendiri, kelapa sawit subur merajalela di sana. Memberi janji manis kepada para investor untuk memperkaya diri, pun kepada masyarakat dari seberang pulau untuk menjadi buruh di perkebunan.

Menjanjikan. Namun pada sisi lain, alih fungsi kawasan hutan menjadi kebun kelapa sawit adalah mimpi terburuk sejumlah spesies lain. Kelangsungan hidup sejumlah hewan, seperti orangutan, terancam seiring dengan semakin lajunya deforestasi rumah mereka: hutan rimba.

Tidak semua masyarakat Kumai bekerja di ladang kelapa sawit. Sebagian di antaranya memilih menambatkan hidup di sektor pariwisata. Ary Widianto salah satunya.

Ary memimpin perjalanan kami di atas kapal bertingkat dua. Selama tiga hari ke depan, ialah yang memandu kami berkenalan dengan kehidupan liar di Taman Nasional Tanjung Puting, terutama kehidupan hewan primata berbulu kemerahan, orangutan.

“Kalau musim hujan kaya gini, lebih gampang ketemu orangutan di alam bebas. Banyak buah tumbuh. Orangutan makan buah”, Ary menghentikan lamunan saya yang tengah menikmati ketenangan perjalanan.

Processed with VSCO with s3 preset
Ary Widianto, pemandu kami selama berada di Taman Nasional Tanjung Puting.

Usianya masih muda, 22 tahun. Sejak lima tahun lalu, Ary bersama kakaknya memulai bisnis ekowisata. Membantu para pencinta wisata mengenal kehidupan satwa di Taman Nasional Tanjung Puting. Sekaligus membantu masyarakat Kumai mendapat lapangan pekerjaan di atas kapal milik Ary.

Berawal dari membeli kapal nelayan bekas, kini Ary sudah memiliki tiga kapal. Masyarakat setempat menyebutnya dengan kapal klotok. Salah satunya, ialah klotok yang menjadi alat transportasi, sekaligus tempat kami bermalam.

Klotok kami belum lama melaju, ketika sebuah papan penunjuk terlihat di depan kami di persimpangan sungai. Welcome to Tanjung Puting National Park, demikian tertera.

Processed with VSCO with s3 preset
Selamat datang di Taman Nasional Tanjung Puting.

Patung orangutan berukuran besar terlihat bertengger di sana. Sungai yang kami lalui setelah papan ini adalah Sungai Sekonyer. Bak jalan raya, Sungai Sekonyer menjadi jalur transportasi utama menuju Taman Nasional Tanjung Puting.

Jangan membayangkan perjalanan yang membosankan, karena bagi saya, Taman Nasional Tanjung Puting menawarkan pengalaman yang menakjubkan. Sangat menakjubkan.

Ketenangan Sungai Sekonyer seperti membius saya untuk duduk manis, bersabar melaju dengan kecepatan rendah membelah sungai. Pepohonan nipah membingkai Sungai Sekonyer di kedua sisi sungai, memagari kawasan konservasi. Perjalanan dengan sensasi yang menenangkan.

Tak hanya menjadi jalur transportasi, sungai ini juga menjadi benteng alami bagi kelangsungan hidup orangutan, melindungi orangutan dari predator bernama manusia.

“Tanjung Puting itu yang sebelah kanan sungai ya, yang sebelah kiri itu bukan Tanjung Puting. Sebelah kiri, perkebunan kelapa sawit”, Ary melanjutkan penjelasannya, seolah mengerti bahwa saya menyangka tengah diapit oleh dua wilayah taman nasional.

Processed with VSCO with a6 preset
Klotok kami melaju perlahan di Sungai Sekonyer.

Perkebunan kelapa sawit di sebalah kiri sungai tidak terlihat, dipisahkan juga oleh pepohonan nipah sejauh kurang lebih 300 meter. Saya pikir, sungai yang membentengi orangutan dari ancaman manusia ini sudah mumpuni. Ternyata belum.

Ary membuka kotak ingatannya akan kebakaran lahan yang terjadi di Kalimantan beberapa bulan lalu. Asap kebakaran dari sisi tanah konsesi perkebunan mengepul ke sungai dan area konservasi.

“Jarak pandang deket banget, asap di mana-mana. Mas bayangin, klotok itu bisa saling tabrakan karena pandangan kita ngga jauh”, Ary menjelaskan. Bencana asap ini sempat membuat aktivitas penerbangan ditutup di Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dampaknya, aktivitas wisata di Taman Nasional Tanjung Puting lumpuh serta selama sekitar satu bulan. Kondisi di sisi lain taman nasional lebih parah. Kebakaran menjalar hingga wilayah konservasi.

Apakah ada orangutan yang mati terbakar? “Kalau sampai mati atau sakit pernapasan, saya ngga tau ya. Tapi itu saya liat orangutan pada lari ngehindarin asap,” Ary mencoba memanggil ingatannya ketika ikut berjibaku memadamkan api di Tanjung Puting. Ary bersama beberapa penduduk setempat sempat ikut memadamkan api yang menghanguskan sebagian wilayah Taman Nasional Tanjung Puting.

Pada kesempatan lain, ia menceritakan pengalamannya dan sekitar 50 orang lainnya memadamkan sebuah kobaran api di lahan gambut, tanpa air, hanya dengan memukulkan ranting ke titik api. Ia sempat pingsan dibuatnya.

Saya melempar pandangan ke arah pepohonan, membayangkan orangutan-orangutan yang melarikan diri menjauhi api. Jika ada kebakaran, insting pasti menuntun mereka menjauhi api.

Bisa jadi mereka melarikan diri ke kawasan permukiman manusia. Lalu jika manusia melihat orangutan masuk permukiman mereka, ke mana insting akan menuntun reaksi manusia? Menangkap? Menyerang?

Riuh di haluan klotok membuyarkan lamunan saya. Teman-teman satu klotok memanggil. Saya melangkah ke haluan. Rupanya ada kawanan kera bekantan di atas pohon.

Pengalaman perdana melihat bekantan di alam lepas. Ternyata ukuran hewan endemik Kalimantan ini tidak sebesar yang saya sangka. Tentu saja, saya membandingkan dengan ukuran badut bekantan di Dunia Fantasi.

Pada siang dan sore hari, bekantan-bekantan kerap berkumpul di atas pohon di tepi sungai. Kami bisa dengan sangat jelas menyaksikan kawanan bekantan yang duduk tenang menghadap langit sore.

Bekantan jantan memiliki hidung dengan ukuran lebih besar dari hidung bekantan betina. Ukuran hidung bekantan jantan berbanding lurus dengan daya tarik seksual mereka sebagai pejantan.

Semakin besar ukuran hidung bekantan jantan, semakin besar pula citra kejantanan mereka di mata bekantan-bekantan betina. Size does matter. Saya tergelitik membayangkan bagian tubuh mana yang mereka gunakan untuk bercinta. Semoga bukan hidung.

picsart_12-28-09.49.49-01.jpeg
Kawanan bekantan di Taman Nasional Tanjung Puting.

Lain bekantan, lain orangutan. Orangutan jantan tidak menarik lawan jenisnya dengan hidung. Orangutan betina tertarik pada pejantan yang memiliki bantalan pipi lebar. Bagian tubuh ini yang membedakan orangutan jantan dan betina, tentunya, selain alat kelamin. Pipi orangutan jantan akan mulai melebar ketika mereka menginjak usia sekitar delapan tahun. Seperti pipi Roger.

Roger adalah orangutan yang kami temui di Tanjung Harapan, salah satu tempat penelitian yang masuk dalam Taman Nasional Tanjung Puting. Usianya 35 tahun.

Ketika kami tiba, Roger berada tak jauh dari dermaga. Rupanya Roger sedang berusaha mencari makan di dekat gudang tempat penyimpanan makanan orangutan. Kami terlalu bersemangat untuk hanya berdiam diri.

Dengan panduan Ary, kami mendekati Roger dari jarak teraman. Kini, jarak saya dan Roger hanya terpaut jarak tak sampai 10 meter, di habitat liar mereka.

Processed with VSCO with 4 preset
Roger, salah satu orangutan jantan di Tanjung Harapan.

Saya kagum dengan ukuran Roger yang menurut saya besar. Namun ternyata, Roger bukanlah yang terbesar di Tanjung Harapan. Ada yang lebih besar, yang berarti, lebih berkuasa di sana. Orangutan ini disebut raja. Berkuasa atas wilayah, berkuasa atas makanan, dan tentu saja berkuasa atas para orangutan betina. Ia dikenal dengan nama Si Gundul.

Kami menemukan Si Gundul di feeding point Tanjung Harapan, titik tujuan kami. Beberapa kali Si Gundul nampak menunjukkan dominasinya atas orangutan lain di depan hamparan pisang.

Si Gundul datang, orangutan lain pun menjauh. Orangutan di Tanjung Harapan diberi makan sekali dalam sehari, pukul tiga sore. Selebihnya, mereka harus mencari makan sendiri. Insting dan keahlian mereka dalam mencari makan secara mandiri harus tetap dijaga. Buah bukan hal yang sulit ditemukan di sini. Ada sekitar 600 jenis tumbuhan, dan sekitar 200 di antaranya bisa menghasilkan buah yang dapat dimakan orangutan.

1120035.jpg
Waktu makan orangutan disesuaikan dengan waktu kedatangan klotok-klotok yang membawa wisatawan.

Setiap wilayah di Tanjung Puting ‘dikuasasi’ oleh raja yang berbeda. Wilayah penelitian lain yang kami kunjungi pada keesokan harinya, Pondok Tanggui, berada di bawah ‘kekuasaan’ Doyok.

Kami tidak cukup beruntung untuk dapat bertemu dengan Doyok di Pondok Tanggui. Doyok yang dikenal sebagai salah satu orangutan yang agresif di Pondok Tanggui tak menampakkan diri. Tapi kami sangat beruntung, karena langit tak menurunkan hujan. Awan mendung tak berlama-lama menaungi perjalanan kami menembus hutan di Pondok Tanggui.

Ketika kami berjalan menuju feeding point Pondok Tanggui, kami melintasi sekelompok orang yang bersiap menanam bibit-bibit pohon untuk menghijaukan Pondok Tanggui. Bibit-bibit pohon yang mungkin akan menghasilkan makanan, atau menjadi tempat para orangutan membangun sarang kelak.

1120296.jpg
Zidane dan Gara, pasangan induk dan anak orangutan di Pondok Tanggui. Di sini saya baru sadar, orangutan bisa dikenali dan dibedakan dari wajahnya, seperti manusia.

Orangutan adalah hewan yang dilindungi oleh pemerintah, setidaknya, demikian yang menjadi warta. Namun, melindungi orangutan bukanlah perkara melindungi mereka dari serangan langsung manusia semata. Melindungi orangutan dari bahaya kepunahan berarti juga melindungi rumah mereka. Rumah orangutan adalah hutan. Rimba.

Orangutan tanpa rimba, adalah sebuah lelucon. Salah satu usaha pemerintah ialah membentengi kehidupan orangutan di area konservasi, Taman Nasional Tanjung Puting. Ini pun sebenarnya merupakan cagar alam warisan pemerintah Hindia Belanda yang didirikan pada tahun 1937.

1110942
Penghijauan yang dilakukan setelah tragedi kebakaran hutan terjadi pada akhir tahun 2015.

Lantas, apakah kelangsungan hidup orangutan terjamin aman di dalam benteng konservasi? Orangutan Foundation International menulis angka 91.000 hektar sebagai luas hutan yang terdampak kebakaran lahan di area Taman Nasional Tanjung Puting pada tahun 2015.

Luas keseluruhan Taman Nasional Tanjung Puting adalah sekitar 300.000 hektar. Berarti, setidaknya 30 persen wilayahnya terbakar pada tahun ini. Ini artinya, luas habitat orangutan berkurang. Ini pula berarti, wilayah mereka untuk mencari makan juga berkurang.

Orangutan dipaksa untuk mencari makan di area lain untuk dapat mempertahankan nyawa. Ada di antaranya yang tersasar hingga permukiman warga. Beruntung, jika mereka “hanya ditangkap” dan diserahkan ke balai konservasi.

Sejak 1 September lalu, setidaknya enam orangutan terusir dari rumah mereka akibat api dan asap. Di Desa Tumbang Nusa, Pulang Pisau, juga ada dua orangutan yang ditangkap warga desa karena masuk ke permukiman manusia.

Processed with VSCO with a6 preset
Bayi orangutan kerap diperdagangkan setelah induk orangutan dibunuh.

Mimpi buruk, jika mereka tersasar ke area perkebunan kelapa sawit dan mencari makan di perkebunan. Tidak peduli ukurannya sekecil ulat atau sebesar orangutan, merusak tanaman perkebunan berarti dianggap hama.

Camp Leakey

Kami tak lama berada di Pondok Tanggui. Selanjutnya Ary membawa kami ke Camp Leakey, tempat penelitian dan rehabilitasi orangutan lainnya di taman nasional. Camp Leakey sudah beroperasi lebih dari 40 tahun, sejak seorang wanita berdarah Jerman datang dari Kanada ke Indonesia untuk mendirikan dan mengembangkan penelitian orangutan. Ialah Biruté Galdikas.

Hingga kini, Galdikas masih menghabiskan hari-harinya bersama orangutan di Kalimantan. Sayang, saya tidak dapat menemui Galdikas ketika mengunjungi Camp Leakey. Saya pun berusaha menggali cerita lampau dari sebuah pondok yang difungsikan sebagai pusat informasi di Camp Leakey. Berbagai informasi mengenai ekosistem di taman nasional disajikan kepada para pengunjung.

Camp Leakey nampak selalu ramai oleh pengunjung. Buku tamu yang diletakkan di atas meja pusat informasi menunjukkan tanggal yang tidak terlalu lama ketika saya membalik beberapa halaman buku tamu. Salah satu dinding di pusat informasi dijadikan bagan silsilah keluarga orangutan.

Processed with VSCO with a6 preset
Silsilah keluarga orangutan.

Bagan ini menjelaskan garis-garis keturunan beberapa orangutan yang hidup di Camp Leakey. Berdasarkan bagan, satu orangutan betina bisa melahirkan tiga sampai lima anak sepanjang hidupnya.

Namun menurut Ary, ada orangutan yang bisa sampai tujuh kali melahirkan. Orangutan adalah hewan yang hidup secara semi-soliter. Orangutan betina akan hidup bersama dengan anaknya hingga waktu tertentu. Mereka ada bersama anaknya ke mana pun mereka pergi, mulai dari makan, hingga bergelantungan di dari satu pohon ke pohon lain.

Anak orangutan jantan hidup bersama induknya hingga berusia tujuh sampai sembilan tahun. Sedangkan orangutan betina bisa lebih lama, delapan hingga 10 tahun. Bersama induknya, mereka belajar mencengkram dahan, belajar mencari makanan, belajar membuat sarang di atas pohon, dan hal lainnya. Lalu sampai usia sekitar 12 tahun, mereka akan sesekali menemui induknya.

Selepas itu, mereka akan hidup menyendiri. Salah satu fakta menarik yang saya temukan di sini, seekor orangutan betina akan mengalami masa kehamilan sekitar sembilan bulan. Setelah melahirkan, setidaknya diperlukan waktu hingga delapan tahun sebelum orangutan betina dapat mengandung dan melahirkan lagi.

Interval kehamilan paling lama untuk mamalia. Mirip dengan manusia. Mereka pun bisa melahirkan anak kembar. Salah satu orangutan beranak kembar yang saya temui bernama Siswi.

Siswi adalah orangutan pertama yang menyambut kedatangan kami di Camp Leakey. Siswi pernah melahirkan anak kembar. Sayang, keduanya tak dapat bertahan hidup. Kini, Siswi pun tak dapat lagi berkembang biak karena pengangkatan rahim.

1120347_1
Siswi, betina paling berkuasa di Camp Leakey.

Di Camp Leakey, orangutan jantan bernama Tom adalah rajanya. Tom, the alpha male. Tetapi, Siswi juga menjadi salah satu yang berkuasa di sana. Siswi, the dominant female. Bagi saya, Camp Leakey lebih menarik jika dibandingkan dengan dua tempat yang sudah saya kunjungi sebelumnya di taman nasional, yakni Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui.

1120342_1
Tom, the big boss di Camp Leakey.

Di sini, orangutan bukanlah spesies hewan semata wayang yang mau menunjukkan diri di depan para wisatawan. Babi hutan, kera jenis owa jawa, sampai semut hutan yang memiliki ukuran besar saya temui di Camp Leakey.

Berwisata ke Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu pengalaman liburan terhebat yang pernah saya lakukan. Melihat langsung beberapa spesies hewan di alam liar, itu sudah pasti. Panorama Tanjung Puting juga menjanjikan wisata penuh ketenangan kepada para wisatawan. Selama tiga hari dua malam, saya tinggal di atas klotok.

Makan, mandi, dan tidur dilakukan di sana. Saya yang datang seorang diri dari Jakarta pun mendapat teman-teman baru, teman-teman perjalanan yang mengasyikan. Kami beruntung, karena rupanya aktivitas kami di taman nasional tidak berhenti meski matahari sudah hilang di bawah garis horizon.

1110836
Saya mengikuti open trip seorang diri dan bertemu dengan teman-teman perjalanan yang menyenangkan!

Pada satu malam, Ary mengajak kami menyusuri hutan di Tanjung Harapan. Pada malam lainnya, Ary berdiri di haluan kapal yang melaju tenang, menyibak kegelapan malam dengan lampu senternya untuk memperlihatkan kami buaya-buaya di Sungai Sekonyer. Ya, buaya juga menjadi salah satu penghuni di sini. Jangan coba-coba berenang, kecuali Anda sungguh yakin buaya adalah hewan vegetarian.

Itu saja kenikmatan yang saya alami? Tunggu, saya belum memamerkan kemewahan tidur di hadapan pohon-pohon yang dihinggapi kawanan kunang-kunang, bukan? Seperti yang saya singgung di awal, ini adalah perjalanan yang sangat menakjubkan!

Pun perjalanan ini semakin memperkaya pengetahuan saya tentang kehidupan orangutan di tempat yang, seharusnya, layak. Pada kesempatan lain, ketika klotok kami membelah jantung Kalimantan, beberapa teman perjalanan saya melihat seekor orangutan di sisi kiri sungai. Di luar kawasan konservasi.

Tak jauh dari sana, ada pula kawanan bekantan yang bertengger di dahan pepohanan. Juga di luar wilayah konservasi. Saya jadi ingat pernah membaca, seorang dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman pernah menyebut bahwa sekiranya 80 persen orangutan di Kalimantan hidup di luar kawasan konservasi. Bayangkan. Ini artinya, konflik mereka dengan manusia senantiasa terbuka.

80 persen orangutan di Kalimantan hidup di luar kawasan konservasi.

Populasi otangutan di Kalimantan mencapai sekitar 36.000 ekor. Jumlah ini membuat spesies mereka dianggap terancam punah, seiring dengan semakin berkurangnya luas wilayah hutan Kalimantan yang menjadi rumah mereka.

Peneliti bernama Matthew Hansen dalam jurnalnya yang berjudul Nature pernah merilis data, deforestasi di Indonesia adalah dua juta hektar per tahun. Sekitar 80 persen di antaranya dilakukan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit. Sisanya, untuk pertambangan dan permukiman para transmigran. Kalimantan dan Sumatera adalah rumah terakhir bagi kehidupan alami orangutan.

2015-12-29-07.30.35-1.jpg.jpeg
Jumlahnya yang hanya 36.000 ekor di Kalimantan, membuat orangutan dikategorikan sebagai hewan yang terancam punah. Ditambah, interval reproduksi mereka yang tergolong lama.

Dengan laju alih fungsi hutan seluas itu, menunggu tergusurnya orangutan dari rumah mereka bukanlah hal yang mustahil. September 2015, kabar duka datang dari Malaysia: badak Sumatera punah di sana. Badak Sumatera diyakini sebagai badak tertua dan terkecil di dunia. Kini, riwayat badak Sumatera di dunia digantungkan kepada kurang dari 100 ekor badak Sumatera yang masih bertahan hidup di Sumatera dan Kalimantan.

Bisa jadi, yang akan lebih dulu lenyap dari bumi adalah spesies badak jawa yang hanya tersisa sekitar 60 ekor saat ini. Belum lagi kisah soal harimau jawa dan harimau bali yang dipercaya punah akibat penggusuran hutan secara masif oleh pemerintah Hindia Belanda di tanah air pada masa lampau.

2015-12-29-08.05.37-1.jpg.jpeg
Sampai jumpa lagi, Roger!

Ketika Hindia Belanda angkat kaki, sifat tamak menjadi warisan yang tertinggal di sini. Hutan terus dicukur demi industri. Menunggu rumah orangutan tergusur dan menunggu kepunahan orangutan adalah perkara waktu.

Baca juga: Bertamu ke Rumah Orangutan, Apa yang Disiapkan? di sini.

P.S. Jika tulisan dan foto-foto di atas menarik Anda untuk menjelajahi alam Taman Nasional Tanjung Puting, Anda bisa menghubungi Ary Widianto di nomor 081347669956.

33 comments on “Rumah Terakhir”

  1. Nasibnya tidak jauh beda dengan Orangutan di Sumatra, tepatnya di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit telah merampas habitat mereka., sungguh menyedihkan nasib hewan liar tersebut. Bahkan Badak Sumatrapun sudah jarang terlihat akibat pemburuan liar yang mau mengambil culanya. Makanya Leonardo Dicaprio datang kesana bulan Maret lalu untuk kampanye deforestasi lingkungan global., ehhh pengusaha sawit malah menuduhnya melakukan black campaign. Salam kenal.., aku Yelli dari Aceh.., mungkin abg bisa datang ke Aceh untuk nulis tentang leuser sekalian kamapanye #careleuser. http://www.yellsaints.com/2016/12/who-care-leuser_3.html

    Liked by 2 people

    1. Salam kenal, Kak Yelli 🙂

      Jadi inget, 2 hari lalu baru ngobrol sama turis asing yang baru balik dari KEL. Kagum sama alam di sana, pasti. Hal lain yang dia ceritain dan dia sayangkan adalah kebun kelapa sawit di sekitar sana. Semoga saya bisa main ke sana 🙂

      Liked by 1 person

  2. hutan tanpa orangutan pun akan terasa hampa. Secara fungsi, orangutan ternyata adalah “Petani Hutan”.. kemungkinan, kalau dia punah maka akan ada vegetasi hutan yang hilang.
    salam dari kami di Aceh yang sedang menjaga orangutan Leuser

    Liked by 1 person

    1. Betul, Bang Yudi. Kalau kawasan konservasi aja ga aman-aman betul buat orangutan, nunggu mereka punah cuma perkara waktu. Beberapa kali liat video tempat rehabilitasi anak-anak orangutan. Kagum sama relawan-relawan/pegiat lingkungan yang ngasuh anak orangutan. Semoga lestari.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.