Mencicipi Gonggong di Atas Laut

Adakah yang lebih nikmat dari semangkuk sup ikan selepas hujan? Ada! Beberapa mangkuk sup ikan dan sepiring gonggong.

Advertisements
18 comments

Hujan berangsur reda ketika saya melaju di atas aspal, tak jauh dari Jembatan Balerang. Baju yang saya kenakan sedikit basah. Dingin. Jalanan naik turun. Saya sedang berada di Pulau Batam, Kepulauan Riau, tepatnya dalam perjalanan mencari santap siang.

wp-image--1629140870
Jembatan Balerang 1 di selatan Pulau Batam, salah satu ikon Pulau Batam (foto diambil di tengah perjalanan, bukan dari tempat saya makan).

Pemandangan di sepanjang perjalanan cenderung homogen: lahan kosong bertanah merah. Sisanya, ruko-ruko kosong dan hutan bakau. Pemandangan yang lebih mirip pemandangan menuju pantai tersembunyi atau semacamnya, sebenarnya.

Namun, rasanya tidak berlebihan ketika sekarang—setelah menjajal habis hidangan laut di sana—saya menyebut Kelong Restaurant 188 Citra Utama sebagai permata tersembunyi di Batam. A hidden gem (and I really thanked the chef for this!)

Jika Anda mengharapkan sebuah restoran mewah dengan pendingin suhu ruangan dan pojok-pojok ruang yang Instagramable di Batam, lupakan tulisan ini.

Namun jika Anda mencari restoran hidangan laut yang menjual rasa dan pengalaman, selamat, Anda berada di halaman yang benar. Restoran ini menyuguhkan keduanya.

Citra Utama adalah rumah makan yang berdiri—separuh lainnya mengapung—di atas laut. Letaknya tak jauh dari Jembatan Balerang 1. Sekitar 1,5 kilometer dari Jalan Trans Balerang.

wp-image-1183136815
Sebagian rumah makan berupa panggung yang ditopang kayu di atas laut, separuh lainnya mengambang di atas drum-drum di permukaan laut.

Saya sengaja memilih duduk di bagian restoran yang mengambang. Orang Batam menyebutnya kelong (jika melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, kelong adalah bilah-bilah bambu yang dipasang sekat/kurung untuk menangkap ikan).

Saya berjalan melewati kelong-kelong berisi kepiting dan udang ketika saya menuju meja makan. Seru. Ada sensasi seperti naik perahu ketika saya berada di atas kelong. Bergoyang. Sedikit bergoyang. Termasuk ketika saya makan.

Saya juga melihat beberapa kelompok wisatawan asing, yang nampaknya berasal dari Singapura, di rumah makan ini. Nampaknya mayoritas dari pengunjung yang datang pada siang itu.

wp-image-1490760123
Pengunjung restoran bisa memilih kepiting yang akan dihidangkan. Ini yang membuat hidangan laut di sini lebih segar daripada hidangan laut yang sudah dibekukan.

Saya memesan seporsi ikan krapu hitam asam pedas. Nampaknya menu ini memenuhi semua kriteria sebagai pilihan jitu setelah saya basah-basahan menerabas hujan: berkuah, hangat, asam, dan pedas. Awalnya, saya membayangkan ikan asam pedas ini serupa pindang patin yang pernah saya cicip di Palembang. Namun, ternyata ini berbeda.

wp-image--216895836

Kuah pada ikan asam pedas di Batam cenderung kental, tidak seencer yang saya perkirakan. Warna merah mungkin datang dari tomat, meski saya percaya rasa asam pada kuahnya datang dari potongan nanas. Sama sekali tidak berbau amis. Bumbu pelengkap lainnya, ada pula irisan bawang bombay, bawang putih, dan daun sereh sebagai embel-embel pemanja lidah.

wp-image-1493702546

Untuk pelengkap, saya juga memesan sotong goreng tepung dan kangkung terasi. Tidak lupa, seporsi gonggong yang menjadi aksen khas kuliner di Pulau Batam.

Bukan, gonggong bukan daging anjing. Gonggong adalah nama spesies hewan laut. Bukan, bukan anjing laut juga. Gonggong adalah sejenis siput laut.

Seporsi gonggong. Anda lihat kaki yang keluar dari cangkang? Bagian itu keras, bukan untuk dimakan. Setidaknya, saya tidak melakukannya.

Gonggong dihidangkan bersama dua jenis sambal. Sambal hijau dan sambal merah. Sambal apa, saya tidak yakin. Lidah saya terlalu liar untuk sabar meraba bahan-bahan yang mereka gunakan untuk membuat kedua sambal ini. Namun yang jelas, sambal ini membantu mengurangi aroma amis dari gonggong.

Daging gonggong berbentuk seperti spiral dan sedikit kenyal.

Cara memakan gonggong adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Saya diberi tusuk gigi untuk menusuk bagian tubuh gonggong yang keluar dari cangkang, lalu sedikit menariknya, dan membuat gerakan memutar.

Diputar? Ya, diputar agar bagian tubuh gonggong yang melingkar di dalam cangkang tidak terputus dan tertinggal di dalam. Pengalaman yang menyenangkan setiap saya berhasil mengeluarkan gonggong dari cangkangnya tanpa terputus. Dasar amatir.

Restoran Citra Utama bukanlah satu-satunya rumah makan yang menyajikan hidangan serupa di Pulau Batam. Setahu saya, ada juga beberapa rumah makan apung lainnya yang menjual ikan asam pedas dan hidangan laut lainnya.

Saya belum berkesempatan membandingkan rasa atau pemandangan di rumah makan apung lain. Namun, saya berani merekomendasikan rumah makan ini sebagai tempat yang layak Anda kunjungi. Selamat mencoba!

18 comments on “Mencicipi Gonggong di Atas Laut”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s