Backpacking. Mengesampingkan Kenyamanan?

9 comments
Bagi sebagian orang, melakukan low-budget traveling dengan membawa tas punggung atau backpack mungkin menjadi hal yang sangat nyaman. Bisa karena sudah mendarah daging, bisa karena alasan biaya. Bagi saya, keduanya.
Backpacking berasal dari kata backpack, atau tas punggung. Backpacking adalah gaya berwisata dengan membawa tas punggung, bukan dengan membawa koper. Berbeda dengan berlibur membawa koper, berlibur membawa tas punggung identik dengan berlibur dengan budget lebih kecil.
Backpacking berasal dari kata backpack, atau tas punggung. Backpacking adalah gaya berwisata dengan membawa tas punggung, bukan dengan membawa koper. Berbeda dengan berlibur membawa koper, berlibur membawa tas punggung cenderung identik dengan berlibur dengan budget lebih kecil.
Beberapa teman menyebut, backpacking adalah gaya berwisata yang mementingkan kecilnya pengeluaran dan mengesampingkan kenyamanan. Benar? Bisa besar. Tergantung bagaimana cara kita membuat diri merasa nyaman di tengah segala keterbatasan. Nyaman atau tidak nyaman bisa disiasati dengan persiapan yang matang, atau cara saya menyikapi suatu perjalanan.  Saya akan ceritakan cara-cara saya memaksimalkan perjalanan liburan saya, agar tetap murah dan nyaman.

Kumpulkan informasi

Seorang wanita bersemangat mengumpulkan remah gunungan dalam acara Gerebeg Syawal di depan Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah. Acara ini menjadi salah satu acara yang diminati wisatawan setiap tahun.
Seorang wanita bersemangat mengumpulkan remah gunungan dalam acara Gerebeg Syawal di depan Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah. Acara ini menjadi salah satu acara yang diminati wisatawan setiap tahun.

Gawai (gadget) yang sedang kamu pegang adalah perkakas mahacanggih untuk menggali informasi. Saya selalu membekali diri dengan informasi tempat tujuan berlibur, serinci mungkin. Ada teman yang berpendapat, liburan yang disiapkan secara terperinci akan menjemukan. Tidak juga. Saya suka kejutan, tapi ada beberapa kejutan yang tidak saya suka, seperti pembengkakan biaya besar-besaran. Saya membagi informasi ke dalam dua kategori, sangat penting dan penting. Informasi yang sangat penting misalnya informasi-informasi yang berkaitan dengan transportasi dan akomodasi. Contohnya rute, jadwal, dan tarif angkutan umum, serta lokasi, akses, dan tarif penginapan. Semakin akurat informasi yang saya kumpulkan, semakin kecil kemungkinan saya melakukan pembengkakan pengeluaran.

Informasi yang termasuk kategori penting adalah beberapa informasi lain seperti makanan khas suatu daerah, tempat membeli oleh-oleh, atau kalender acara. Kalender acara adalah kalender yang memuat daftar acara-acara wisata sepanjang tahun, bisa berupa acara adat, atau festival budaya. Semua informasi ini akan memaksimalkan keseruan liburan saya. Saya bisa menyesuaikan waktu liburan dengan acara seru yang akan digelar di daerah tertentu (jika memang ingin berlibur pada saat high season). Anda juga bisa memanfaatkan libur panjang untuk memaksimalkan lama liburan Anda. Hari-hari libur nasional tahun 2016 bisa dilihat di sini.

Kementerian Pariwisata menyediakan kalender acara (event calendar) yang bisa jadi referensi waktu dan tempat berlibur.
Kementerian Pariwisata menyediakan kalender acara (event calendar) yang bisa jadi referensi waktu dan tempat berlibur.

Saya juga sering memanfaatkan berbagai media sosial untuk mencari informasi, atau lebih tepatnya, bertanya kepada orang lain. Saya bergabung dengan beberapa group di Facebook untuk bertukar informasi mengenai tempat tujuan saya. Saya juga beberapa kali mencari kata kunci tertentu di Instagram, mencari foto yang sesuai, lalu menanyakan informasi yang saya perlukan kepada pemilik foto. Satu lagi yang sering saya manfaatkan, jejaring sosial Couchsurfing, jejaring sosial khusus traveller. Saya bisa mencari pengguna Couchsurfing di lokasi yang akan saya datangi, dan menanyakan informasi-informasi yang saya butuhkan. Para pengguna Couchsurfing tidak hanya dapat bertukar informasi, namun juga kebaikan-kebaikan lain. Tempat menginap misalnya.

Backpack dan isinya

Bepergian dengan low-cost carrier atau maskapai penerbangan bertarif rendah membuat saya bisa berhemat. Namun, maskapai-maskapai penerbangan ini pun membatasi berat barang bawaan penumpang. Ada batasan berat maksimal yang diizinkan untuk dibawa ke bagasi pesawat secara cuma-cuma. Selebihnya, ada tarif tambahan. Beban berlebihan pada barang bawaan juga sebenarnya mengurangi kenyamanan saya melakukan perjalanan. Saya selalu memastikan untuk melakukan packing secara efisien dan efektif. Efisien berarti membawa barang seperlunya dan memanfaatkan setiap celah dalam tas. Efektif berarti membawa barang sesuai dengan fungsinya. Setiap tempat wisata memiliki karakter masing-masing. Sesuaikan barang bawaan dengan tempat tujuan.

Perhatikan cara mengemas barang-barang di dalam tas. Cara mengemas yang benar bisa membuat setiap ruang di dalam tas menjadi bermanfaat.
Perhatikan cara mengemas barang-barang di dalam tas. Cara mengemas yang benar bisa membuat setiap ruang di dalam tas menjadi bermanfaat.
Membawa tentengan adalah salah satu hal yang sangat saya hindari. Saya selalu mengusahakan agar semua barang masuk ke dalam satu tas. Lebih mudah bergerak, tanpa khawatir ada tentengan yang tertinggal. Oh iya, ini cara saya mengemas baju agar mudah dirapikan dan tidak menyisakan banyak ruang kosong di tas. Buatlah diri merasa nyaman saat berlibur dengan membawa barang dalam jumlah dan fungsi yang sewajarnya.
Malu Bertanya, Digetok di Jalan
Tidak semua tempat makan mencantumkan harga makanan di daftar menu. Biasanya, tempat-tempat makan semacam ini dapat ditemui di pusat tempat-tempat wisata. Jangan malu atau gengsi untuk menanyakan harga makanan atau barang yang akan dibeli. Percayalah, ‘digetok’ pedagang yang jahil tidak seenak gengsi untuk tidak menanyakan harga makanan. Saya tidak mau menerima tagihan sebesar Rp 30.000,00 untuk seporsi nasi soto di kaki lima.
Untuk mengetahui tarif angkutan umum, memilih untuk bertanya pada sesama penumpang.
Untuk mengetahui tarif angkutan umum, memilih untuk bertanya pada sesama penumpang.
Untuk menanyakan tarif kendaraan umum, saya menghindari bertanya kepada orang-orang yang bekerja di lingkungan transportasi umum (misalnya supir, kernet, pedagang di terminal, dan lain-lain). Berdasarkan pengalaman saya, orang-orang yang bekerja di lingkungan tersebut biasanya terhubung sebagai calo satu dengan yang lainnya. Kalau pun terpaksa, cobalah bertanya pada penumpang atau calon penumpang lain. Untuk itu, saya selalu berusaha membekali diri dengan banyak informasi sebelum saya melangkahkan kaki dari rumah.
Bergaul! 
Berinteraksi dengan sesama manusia adalah kodrat kita sebagai makhluk sosial. Jangan sungkan untuk menyapa masyarakat sekitar. Misalnya, untuk sekedar belajar satu dua patah kata bahasa daerah setempat. Jangan malu pula untuk menari bersama masyarakat setempat dalam suatu pesta adat. Kenali kebiasaan setempat. Berbaur dengan lingkungan dan masyarakat sekitar membuat liburan saya menjadi memiliki nilai lebih dari sekedar menikmati alam. Tapi, mawas diri juga perlu, kawan. Cara membatasi pergaulan dengan orang-orang yang baru dikenal sepertinya tidak perlu saya jelaskan di sini.
Jangan Sekedar Berlibur
Saya mencoba kebiasaan baru. Memotret dan menulis. Sebenarnya bukan kebiasaan baru juga. Melainkan, baru mencoba serius melakukan dua hal ini. Saya pikir, ini adalah dua hal yang dapat menambah kualitas liburan saya. Apalagi, keduanya adalah hal-hal yang menyenangkan.
Menulis membuat liburan saya memiliki nilai lebih.
Menulis membuat liburan saya memiliki nilai lebih.
Menulis membuat saya —mau tidak mau— mencari informasi lebih untuk saya tuang ke laman blog saya. Mengapa? Agar tulisan yang saya buat tidak hanya menjadi laporan pandangan mata, namun ada cerita lain yang bisa saya tulis. Informasi ini bisa saya peroleh dengan membaca, atau bertanya. Hasilnya, secara tidak disadari, saya akan memiliki informasi lebih banyak mengenai tempat liburan yang akan saya datangi.
Jadi intinya, saya percaya bahwa berlibur dengan gaya backpacking adalah seni. Seni untuk melihat dan memaknai setiap hal, baik itu manusia, tempat, atau peristiwa. Seni untuk menjadi kreatif, menambah nilai dari liburan saya dengan kreativitas.
Bagaimana menurut kalian?

9 comments on “Backpacking. Mengesampingkan Kenyamanan?”

  1. Istilah “malu bertanya, digetok di jalan” ini valid banget ya. Dan saya juga termasuk yang selalu mempersiapkan perjalanan saya dengan detail, setidaknya saya mempunyai referensi yang bisa saya jadikan pegangan selain memang menurut saya -pribadi- membiasakan diri mencari info detail adalah hal yang baik. Keren artikelmu mas 🙂

    Like

    1. Iya, Mas Bart. Sebenernya di luar ‘digetok atau ngga’, riset soal liburan juga udah seru. Ada kenikmatan sendiri ketika plan A dst udah rapi disusun. Detail sampe ke masalah duit. Hahaha.

      Makasih, Mas Bart, tempat saya nyolong ilmu dll *salim

      Liked by 1 person

    2. Nah itu setuju lagi pake banget. Menurut saya keseruan suatu perjalanan itu sudah dimulai sejak ‘masa riset’ nya. Baru risetnya aja udah seru, apalagi waktu jalan beneran khan?

      Sama-sama mas, aku juga banyak belajar lah darimu 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s