Menapak Mahameru

6 comments
 “Hampir dua bulan saya menunggu. Menunggu untuk melesat ke sisi timur Pulau Jawa. Memenuhi gairah, bercumbu dengan awan-awan.  Ini adalah perjalanan kami ke titik tertinggi di Pulau Jawa”.

Hari Pertama
Meninggalkan Jakarta

Suara rel besi yang beradu dengan roda kereta membangunkan saya pagi itu, Selasa, 15 Oktober 2013. Hampir pukul tujuh pagi, kereta kelas ekonomi AC yang kami tumpangi dari Stasiun Senen Jakarta akan segera berhenti berhenti di Malang.
Untuk ketiga kalinya saya menyambangi stasiun ini. Tidak ada yang berubah sejak saya kunjungi stasiun ini pertengahan tahun lalu. Semuanya masih sama, stasiun yang bersih, tertata rapi, dengan para petugas stasiun yang ramah. Hari ini saya bersama teman-teman menginjak kaki kami di Kota Apel. Sebagian adalah teman waktu saya kuliah di FISIP UNPAR Bandung, yaitu Adoy, Pipin, dan Amel. Sebagian lagi adalah Yessie (teman Pipin di MAHITALA UNPAR), Bob (teman saya di kantor), dan Cenie (teman kerja dari perusahaan kompetitor, hahaha). Ya, jumlah kami bertujuh. Kami bertujuh bertekad menantang diri kami menaklukkan rasa takut. Rasa takut untuk menggapai Mahameru.
Seperti biasa, hal pertama yang wajib saya lakukan ketika tiba di stasiun ini adalah membersihkan diri. Ya, membersihkan diri sekadarnya di toilet stasiun kereta. Mencuci muka dan menggosok gigi sebelum kami keluar dari pintu gerbang Kota Apel, walaupun saya tahu, beberapa menit kemudian saya akan segera ‘mengotori’ mulut dengan soto ayam yang dijual di depan stasiun. Soal rasa, tidak ada yang istimewa dari soto ayam ini. Tapi ini adalah pilihan tepat dan cepat untuk mengisi perut sebelum bergegas meninggalkan stasiun.

 

 Inilah kami bertujuh! Bob, Adoy, Yessie, Pipin, Amel, Cenie, dan saya.
Tujuan pertama kami adalah Tumpang. Untuk menuju Tumpang, setahu saya, kita harus menuju ke Terminal Arjosari dengan menggunakan angkot AMD atau AT dari stasiun. Di Terminal Arjosari, akan ada kendaraan yang mengantarkan kita ke Pasar Tumpang. Namun kami lebih memilih untuk menyewa angkot dari stasiun untuk menuju Tumpang. Lebih cepat, lebih mudah, 110 ribu rupiah untuk membawa kami ke Tumpang. Sekitar 30 menit waktu tempuh angkot yang kami sewa untuk mengantar kami ke tempat kami dijemput oleh kendaraan yang sudah kami pesan sebelumnya.
Deudeutkeun!
Sebelum menuju Pos Ranu Pane, titik awal pendakian, kami mampir ke puskesmas terdekat untuk membuat surat keterangan sehat. Surat ini penting, salah satu syarat yang harus dibawa ke Pos Ranu Pane untuk ikut pendakian. Lima ribu rupiah saja biayanya, maka surat keterangan sehat sudah bisa kami dapatkan. Seperti golden ticket untuk melancong ke puncak Mahameru.
Lagi-lagi saya tertidur di tengah perjalanan menuju Pos Ranu Pane. Tidak banyak hal yang saya ingat dalam perjalanan menuju Ranu Pane. Tidur dalam perjalanan, pembalasan dendam rasa kantuk kami ketika bermalam di kereta malam tadi. Akhirnya, kami diturunkan di Bantengan. Deru mesin mesin kendaraan berhenti. Suara kerikil seperti meletup-letup digilas ban mobil. Dari sini kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, karena ada perbaikan jalan.
Di depan kami, hamparan pasir di kaldera Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS) membentang. Gradasi warna hijau bukit kecil di tengah kaldera dengan rerumputan yang mulai menguning seperti para gadis pemandu sorak yang memberi kami semangat untuk meniti jalan yang menanjak. Indah. Kami pun menyempatkan diri untuk rehat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan menuju pintu gerbang Gunung Semeru di Pas Ranu Pane.
Kaldera TNBTS.
Tak lama kemudian, kami melanjutkan perjalanan. Setelah melewati jalan yang masih dalam perbaikan, kami tiba juga di ujung jalan. Sebuah pos terlihat di depan kami, Pos Ranu Pane. Tadinya kami kira begitu, ternyata bukan. Ah, kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek. Tarifnya sekitar 10 ribu Rupiah. Ternyata jarak kami dengan Pos Ranu Pane memang masih jauh.
O iya, di sepanjang perjalanan, kami berpapasan dengan para pendaki lain yang baru turun gunung. “Badai, Mas. Kabut di puncak. Semoga besok-besok cerah”, salah satu pendaki menyapa kami. Satu pendaki, dua pendaki, tiga pendaki menceritakan hal yang sama. Tapi tim kami terlalu bersemangat, kawan! Kami optimistis, keberuntungan ada di tangan kami!
The Journey Begins
Daftar pendakian di pos Ranu Pane.
Kami meletakkan barang-barang bawaan kami di Pos Ranu Pane. Akhirnya sampai juga. Di sinilah perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai. Mulai dari sini, tidak ada lagi ojeg, tidak ada lagi kendaraan umum. Semuanya akan dititi dengan langkah. Wow! Saya begitu tidak sabar mengantre di pos pendaftaran. Saya lihat di buku pendaftaran pendakian, tidak begitu ramai yang masuk TNBTS pada hari itu. Bagus. Ya, kami sengaja mengunjungi Gunung Semeru pada hari raya Idul Adha, agar tidak terlalu ramai. Alhamdulillah, proses pendaftaran lancar dan tidak memakan waktu lama. Data semua peserta pendakian dan barang-barang bawaan sudah ditulis. Uang retribusi pendakian pun sudah diserahkan.
Sambil menunggu saya menyelesaikan proses pendaftaran, teman-teman yang lain mengurus jasa porter. Akhirnya kami sepakat untuk membawa dua orang porter, Mas Marlis dan Mas Snemo. Mereka adalah sopir ojeg yang membawa kami ke Pos Ranu Pane. Tarif mereka 150 ribu Rupiah per orang, per hari. Kecuali untuk sampai ke puncak, 200 ribu Rupiah per orang. Sepakat! Kami pun membongkar muat ulang isi tas kami. Barang-barang yang berat, seperti kompor Trangia dan beras kami pindahkan ke dalam dua tas kosong yang nantinya akan dibawa oleh para porter. Isi terus sampai penuh, selama resleting masih bisa tertutup. Hehehe.
Sebelum meninggalkan Pos Ranu Pane, mengisi perut adalah hal yang tidak kami lewatkan. Di depan pos pendaftaran, ada beberapa warung makan yang buka. Pilihan kami jatuh pada nasi rawon. Tak banyak waktu yang kami buang di sana. Rasa lapar kami membuat hidangan nasi rawon di atas piring kami lahap dengan cepat! Ya, kami sangat tidak sabar untuk mulai pendakian. Kami berdoa. Bedoa agar keselamatan ada bersama kami. Berdoa agar keberuntungan juga mengikuti kami sampai ke puncak Mahameru. And, here we go!
Inilah teman-teman saya, berpose di depan gapura TNBTS. Ya, muka kami masih ceria. Kami belum tahu, akan seperti apa rintangan-rintangan yang akan kami hadapi nanti.
Kami melewati perkebunan dan permukiman warga di sisi kiri dan kanan kami. Tak lama, tak ada lagi permukiman warga yang kami temui. Kami mulai memasuki kawasan hutan, menembus pepohonan rindang sampai akhirnya tiba di shelter pertama. Waktu tempuh sekitar satu jam. Sekitar lima belas menit kami merebahkan diri di sini, menghela napas, sambil saling betukar cemilan. Buah-buah semangka yang telah dipotong dan dijajakan oleh warga yang berjualan di sini pun berhasil merebut perhatian kami sebelum kami melanjutkan perjalanan. Segar, kawan!

 

Shelter pertama. Ada ibu-ibu penjual semangka di sini!
Masih jauh!
Shelter kedua.
Perjalanan menuju shelter kedua juga kami tempuh selama sekitar satu jam. Medan mulai banyak menanjak. Energi kami mulai terkuras. Bandingkan wajah kami di foto ini dengan foto kami ketika belum mulai pendakian 🙂 Ah, tidak peduli seperti apa penampakan kami, yang jelas, kami ingin mengabadikan setiap momen kebersamaan kami di sini.
Matahari semakin turun, seolah mengingatkan kami untuk tidak terlalu lama bermalas-malasan. Kami lanjutkan perjalanan menuju shelter berikutnya, shelter ketiga. Medan perjalanan tidak berbeda. Kadang menanjak, kadang mendatar. Dari jauh kami lihat ada tenda hijau yang berdiri di antara dedaunan. Ada tempat untuk berkemah, pikir kami. Setelah mendekat, ternyata itu adalah atap shelter ketiga yang sudah roboh. Tiba juga kami di shelter ketiga dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari shelter kedua. Tak banyak berfoto di sini. Salah satu porter sudah berjalan jauh meninggalkan kami, mungkin ingin menempati titik terbaik untuk mendirikan tenda di Ranu Kumbolo.
Shelter ketiga. Di sini, ekspresi muka semakin tak terkontrol. Ya sudah.
Hari mulai gelap, saya tak begitu ingat berapa lama waktu yang kami tempuh sampai akhirnya kami tiba di shelter terakhir, shelter keempat. Di sini, hari sudah benar-benar gelap. Head lamp sudah terpasang di kepala kami masing-masing. Sangat membantu penglihatan kami berjalan menembus jalan setapak. Di shelter ini, kami beristirahat bersama pendaki-pendaki lain. Gelap. Konon, dari shelter ini kami sudah dapat melihat Ranu Kumbolo dari ketinggian. Namun, yang dapat kami lihat hanya cahaya dari beberapa tenda di bawah sana. Kami sudah dekat! Perjalanan pun kami lanjutkan dengan menuruni jalan setapak. Sebentar saja, kami sudah tiba di hamparan rumput basah. Benar saja, sepi. Tak banyak tenda yang berdiri di sini. Sehingga kami memiliki banyak pilihan untuk mendirikan tenda. Beruntung, kami mendapatkan titik (yang menurut kami) dengan pemandangan terbaik untuk menikmati Ranu Kumbolo.
Saya, Bob, dan Adoy mendirikan dua tenda. Satu tenda untuk kami bertiga. Satu tenda lagi tenda untuk Pipin, Ceni, Amel, dan Yessie yang tengah sibuk menyiapkan makan malam. Air untuk memasak? Jangan khawatir! Di depan kami, air Ranu Kumbolo tak akan habis digunakan, bahkan untuk memasak kami seumur hidup. Hahaha. Akhirnya malam itu kami habiskan untuk melahap buas makan malam kami. Tak lupa, susu coklat, susu jahe, kopi luwak dari APEC (yang ternyata tidak enak), dan wedang saraba (yang tidak pernah ada). Sekitar jam sembilan malam, kami sudah masuk ke tenda kami. Menutup hari pertama kami dengan lelap.
Hari Kedua
Damai Ranu Kumbolo
Sesuatu membelai wajah saya pagi itu, sekitar pukul setengah empat pagi, di 16 Oktober 2013. Udara pagi yang begitu dingin. Sleeping bag saya ternyata tidak bisa melindungi tubuh saya dari dinginnya udara di Ranu Kumbolo. Saya lihat ke sebelah kiri, Adoy dan Bob masih pulas tertidur.
Tak sampai lima belas menit kemudian, saya sudah berada di luar tenda. Dua lapis baju, selapis jaket, kupluk, dan sebuah syal saya gunakan melindungi leher dari ganasnya udara di Ranu Kumbolo. Masih gelap. Satu-satunya cahaya yang saya lihat, selain cahaya dari head lamp saya sendiri, adalah api yang menyala di sisi lain Ranu Kumbolo. Para penghuni tenda di ujung sana sudah beraktivitas. Nampaknya memasak air untuk menyeduh kopi. Ah, badan ini terlalu malas untuk memasak air pada pagi itu. Tak lama berselang, semburat cahaya kekuningan mulai muncul. Tepat di tengah dua bukit di balik Ranu Kumbolo. Saya lupa dengan udara dingin yang menggerayangi sekujur tubuh saya. Pemandangan ini terlalu hangat. Maha Kuasa Ia dengan segala karya-Nya.
Ranu Kumbolo
Ia adalah biru
Diam membeku,
dingin,
dan bisu
Ialah keangkuhan yang abadi
Keanggunan yang menyimpan seribu teka-teki di balik cadar pagi
Berselubung kabut
Seperti cadarnya menutup misteri
Ranu Kumbolo, 17 Oktober 2013
Iyos Kusuma
Ranu Kumbolo menjelang terbit matahari.
Ah, saya hampir lupa punya enam orang teman yang hebat! Sayang sekali jika mereka melewatkan moment ini. “Bangun, bangun! Ayo, mataharinya nanti bangun duluan!”. Satu-persatu,
Matahari mulai terbit.
Enam teman saya keluar dari tenda. Lebih mirip beruang-beruang yang keluar gua setelah hibernasi di musim dingin. Foto-foto ciamik pun tercipta di sini, walau tanpa kamera DSLR.
 

Matahari sudah meninggi, hangat, menanggalkan kabut dingin yang menyelimuti tubuh kami pagi itu. Perut kami sudah terisi, botol-botol kosong sudah terisi air Ranu Kumbolo, isi perut sudah kami buang di antara semak belukar, dan semua barang sudah terkemas rapi. Saatnya melanjutkan perjalanan. Tanjakan Cinta sudah menanti kami, baru terlihat pagi ini.

Bu Cenie sibuk siapin sarapan, yang lain sibuk foto-foto.
Tanjakan Cinta.
Mendaki Tanjakan Cinta, meninggalkan Ranu Kumbolo.
Ranu Kumbolo dari ketinggian
Sejumlah pendaki menyebut tanjakan ini sebagai Tanjakan Cinta karena bentuknya yang, katanya, mirip simbol hati (love). Konon, para pendaki akan bisa memiliki orang yang mereka pikirkan dan sebut namanya dalam hati saat mereka mendaki Tanjakan Cinta. Syaratnya satu, tidak boleh menengok ke belakang pada saat menanjak. Hmmmm… Mitos yang bagus untuk jadi motivator para pendaki menggapai puncak Tanjakan Cinta. Capek, kawan.
Tanjakan Cinta ternyata tak hanya menimpan cerita, namun juga pemandangan yang luar biasa.  Dari atas Tanjakan Cinta, terlihat padang rumput luas membentang. Oro-oro Ombo. Tanjakan ini ternyata memisahkan dua tempat yang mengagumkan di TNBTS, Oro-oro Ombo dan Ranu Kumbolo. Adoy tiba duluan di atas tanjakan, saya menyusul, lalu teman-teman lain.
Selamat datang di oro-oro Ombo!

Dari Oro-oro Ombo menuju Cemoro Kandang.
Verbena Brasiliensis Vell
Kami menuruni jalan setapak, menembus rerumputan di Oro-oro Ombo. Sabana luas tanpa pepohonan yang dapat melindungi kami dari terik matahari. Beberapa tanaman Verbena Brasiliensis Vell yang cantik kami temui sesekali. Tanaman ini adalah sejenis bunga berwarna ungu, nampak seperti bunga Lavender yang tumbuh liar di antara sabana Oro-oro Ombo. Konon, keberadaan bunga ini menandakan kondisi sabana yang tidak sehat. Ya, keberadaan Verbena Brasiliensis Vell diyakini telah menggusur tanaman habitat asli di Oro-oro Ombo.
Medan perjalanan yang kami tempuh selanjutnya benar-benar berbeda dari Oro-oro Ombo. Kami memasuki hutan cemara. Cemoro Kandang. Di sini ada ibu-ibu yang berjualan minuman, berlindung di bawah kanopi hutan cemara. Katanya, ibu penjual minuman ini pulang pergi dari Ranu Pane, setiap hari. Masuk akal juga untuk mematok segelas minuman rasa jeruk seharga 4.000 Rupiah 🙂

 

Cemoro Kandang. Teduh di sini.

Banyak tanjakan dan turunan yang harus kami tempuh di Cemoro Kandang. Meletihkan, pasti. Tapi kami tetap bersemangat. Titik tujuan kami selanjutnya adalah Kalimati, tempat kami bermalam sebelum muncak. Waktu tempuh perjalanan kami adalah lima jam menuju Kalimati. Sebelum tiba di Kalimati, kami melewati Jambangan. Bisa dibilang, medan perjalanan di Jambangan ini bonus untuk kami. Perjalanan dengan medan mendatar untuk merelaksasikan otot kaki kami yang tegang setelah mendaki gunung dan lewati lembah seperti Hatori. Dari sini, untuk pertama kalinya sejak kami masuk ke TNBTS, kami bisa melihat Sang Mahameru menjulang tinggi. Nampak angkuh dan jauh. Berbentuk kerucut, sepeti gunung-gunung stratovulkanik lainnya. Perasaan itu datang lagi, dan ternyata bukan hanya saya yang merasakan rasa itu. Rasa takut, deg-degan, penasaran, dan antusias. Semuanya jadi satu. Tak sabar menggapai puncaknya. Pemandangan ini pun terus menemani kami, sampai kami tiba di pos Kalimati.

 

Manameru dari Jambangan
Kalimati

Sedikit terbesit di benak, asal-usul penamaan Kalimati. Tak nampak ada kali di Kalimati. Ah, tak peduli. Saya ingin segera meletakkan carrier ini dan mendirikan tenda di sini. Jarum jam di pergelangan tangan saya menujuk angka empat. Sudah sore. Matahari masih terik, namun udara dingin tak mau kalah mengigit.  Cocktail buah kaleng yang kami bawa ikut dingin, segar sekali rasanya ketika makanan berpengawet ini meluncur di kerongkongan kami. Hidangan kecil sebelum kami mendirikan tenda. Pikiran cerdas nan cemerlang kami mendadak muncul ketika segerombolan pendaki menghampiri kami. “Bro, bro, di sini aja tendanya! Biar ada temen. Tanahnya rata di sini!”, kata kami. Tujuan kami satu, ikut menikmati hangatnya kayu-kayu bakar yang mereka jinjing. Hahaha. Ternyata mereka adalah anak-anak Bina Nusantara, sama-sama warga Palmerah di Jakarta. Akhirnya, empat tenda berdiri berjejer, menghadap api unggun yang mulai menyala.

Di dekat sini, kami bisa menemui aliran air. Sebelum matahari pulang, kami harus mengisi ulang botol-botol kami dengan air. Waktu tempuhnya sekitar 20-30 menit dari tempat kami mendirikan tenda. Saya dan Bob menuruni tebing berbatu. Ternyata inilah yang disebut Kalimati, kali yang sudah mati. Tak ada air mengalir di sini, sampai kami tiba di Sumbermani. Di sini saya menyempatkan untuk membersihkan diri, sambil menunggu Bob selesai beribadah.
Mecari sumber air di Kalimati.
Sumbermani, aliran air di Kalimati.
Kami habiskan makan malam, saling betukar cerita, sampai akhirnya satu-persatu dari kami mulai masuk ke tenda masing-masing. Saat itu pukul tujuh malam. Kami harus bangun pukul sebelas malam untuk summit attackdari Kalimati. Selamat malam, kawan.
…menjelang tengah malam
Suara Pipin dan kawan-kawan dari balik tenda membangunkan saya. Sudah jam 22:30. Tiga jam saja waktu istirahat yang kami miliki. Penyakit saya kumat, deg-degan (dan deg-degan ini muncul lagi sekarang, masih ingat jelas moment ini di benak saya). Semua perlengkapan mendaki puncak sudah saya siapkan sebelum tidur, ransel berisi roti, air minum, obat-obatan, head lamp, baterai cadangan, dan ponco. Di luar tenda, Pipin, Cenie, Yessie, dan Amel sudah bersiap-siap. Tak lama kemudian, kami bertujuh bersama dua porter kami, serta para pendaki lain sudah berbaris. Tenda dan barang-barang lain kami tinggal di Kalimati. Kami berjalan dalam kegelapan dengan head lamp terpasang di kepala. Perasaan saya campur aduk.
Hari Ketiga
Selamat Berjuang!
“Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta”
Dewa 19 – Mahameru
Penggalan lirik lagu di atas seolah menjadi candu bagi saya, setiap mulai ragu menggapai Mahameru. Dari Kalimati, kami menuruni jalan setapak. Selebihnya, kaki ini harus terus mendaki, jauh sekali. Hampir satu kilometer ketinggiannya dari Kalimati. Kami tetap berbaris, menjaga formasi kami bertujuh agar tidak terpisah atau tersalip pendaki lain. Ternyata perjuangan kami sejak kemarin belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan kami malam itu. Musuh kami terlalu banyak. Jalan yang curam menanjak dan berliku, jurang di sisi jalan, rasa kantuk, udara dingin, oksigen yang semakin menipis, dan yang pasti rasa takut. Musuh terbesar kami adalah rasa takut dan keinginan untuk berhenti yang ada di pikiran kami masing-masing. Di sini, di Arcopodo, nyali kami diuji.
Di sisi kami, di sepanjang perjalanan di Arcopodo, beberapa kali kami temui batu nisan. Nama dari beberapa pendaki yang ‘tak sempat pulang’ terukir abadi di sana. Mereka pulang ke tempat lain, menghadap Sang Pencipta lewat gerbang surga di Arcopodo. Beberapa pendaki kami dapati bersimpuh di hadapan batu-batu nisan itu. Entah anggota keluarga, entah para sahabat, entah kekasih, saya terhenyak menyaksikan pemandangan itu.
arcapada
aku rindu bercumbu dengan
kabutmu / memahat tapak di pasir
berbatu / di antara dua arca yang
podo / bertahta menjaga gerbang
menuju jalur surga //
aku rindu dibelai dingin mahameru /
silir-semilir angin berbisik lirih /
membawa salam rindu dari serupa
sukma yang bersemayam / jiwa-jiwa
yang beristirahat tenang di
arcapada / jiwa-jiwa yang tak sempat
pulang / jiwa-jiwa yang menangis
mengaliri telaga kumbolo //
aku mau berbaring bersama
mereka / bercungkup awan /
berselimut kabut abadi / di
puncakmu / puncak teragung /
puncak maha agung / puncak
mahameru //
Iyos Kusuma
Salah satu teman saya, Cenie, tertahan di Arcopodo. Kondisi fisik yang tidak prima tidak memungkinkan ia melanjutkan perjalanan. Akhirnya, ia bersama salah seorang porter kami memutuskan untuk berhenti di sini. Mengistirahatkan diri di salah satu tenda pendaki sebelum kembali ke Kalimati. Jumlah kami berenam sekarang.
Kami naik semakin tinggi. Di sela pepohonan, terlihat lampu-lampu di kota Malang, jauh sekali. Di depan kami, bulan bersinar genit, seolah berjarak dekat dengan kami. Seperti menggoda kami untuk beristirahat dan menikmati cahayanya. Tapi kami berkompetisi dengan matahari. Kami harus tiba di puncak sebelum matahari terbangun.
Semakin tinggi kami mendaki, semakin jarang vegetasi yang kami temui. Sampai akhirnya, tanah yang kami pijak berubah menjadi kerikil berpasir. Tak ada lagi pepohonan yang melindungi kami dari terpaan angin malam. Kini, di depan kami, terlihat barisan cahaya kuning dan putih. Bukan lampu jalan, itu adalah senter dan head lamp dari para pendaki yang telah mendahului kami. Di ujung sana, di titik tertinggi, ada cahaya putih berkelap-kelip dengan ritme tertentu. Seperti sandi morse. Saya tak mengerti terjemahannya, tapi saya yakin, puncak Mahameru ada di sana.
Ternyata saya salah berpikir Arcopodo sebagai medan tersulit di Semeru. Selepas Arcopodo, ketika jalan adalah kerikil berpasir, kaki semakin berat melangkah. Setiap melangkah, kerikil yang kami pijak terperosok. Orang bilang, naik dua langkah, turun selangkah. Hati-hati memijakkan kaki, jangan sampai batu yang kami pijak terperosok menggelinding ke pendaki-pendaki di bawah kami. Batu-batu di kiri dan kanan kami rapuh ketika kami pegang. Kami berenam mulai berpisah satu sama lain. Adoy paling depan, saya di belakangnya, di belakang saya tak jelas siapa. Gelap. Jarak pandang kami terbatas. Penglihatan mulai kabur. Setiap sepuluh-dua puluh langkah, saya rehat sejenak. Kadang berjalan, kadang merangkak. Rasa kantuk seperti menggelayut di kaki kami, menarik kami untuk tidur di Kalimati.
Di sisi kiri, jauh di sisi kiri, matahari mulai terbit. Pemandangan di belakang kami mulai terlihat jelas. Barisan perbukitan hijau seolah masih tidur berselimutkan hamparan awan. Entah bukit, entah gunung yang kami lihat itu. Satu yang pasti, kami baru saja melintasi medan itu sebelum kami naik ke atas sini. Kami sejajar dengan awan. Saya beristirahat agak lama di sini, mengunyah coklat batangan sambil berbagi air dengan seorang pendaki ber-sweaterputih yang sejak tadi susul-menyusul dengan saya dan Adoy. Hari kian terang. Saya sudah tak peduli dengan cita-cita berkompetisi dengan matahari. Lain kali saja jika ingin melihat sunrise di Mahameru.
Saya tengok arloji. Pukul setengah tujuh pagi. Teman-teman saya mulai terlihat mendekat. Pipin, Cenie, dan Amel. Belakangan, saya baru tahu, Bob memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Jumlah kami berlima sekarang. Kami melanjutkan perjalanan. Medan semakin curam, udara semakin tipis. Kami tak saling bicara,  terus melangkah, sampai akhirnya Adoy hilang dari pandangan mata. Adoy?
Di atas awan, di bawah Mahameru
Mahameru
Traveling- it leaves you speechless, then turns you into a storyteller”- Ibn Battuta
Saya tak dapat berkata apa-apa ketika tiba di sana, di atap Pulau Jawa, di ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut. Pukul tujuh pagi. Sekitar delapan jam perjalanan dari Kalimati. Adoy tiba di puncak terlebih dahulu. Panorama dari atas Mahameru seperti membungkam halus mulut saya untuk berteriak kegirangan. Lautan awan membentang tak berujung. Kami ada di atas awan. Doa kami terkabul, letih ini terbayar lunas. Langit begitu cerah, tak berkabut. Terima kasih, Tuhan.

Satu-persatu, Pipin, Yessie, dan Amel berdatangan. Bahagia sekali melihat wajah teman-teman saya di atas sana. Kami berpelukan. Di atas Mahameru, udara dingin bertiup kencang sekali. Tak kuat kami berlama-lama di sana. Kami berlima dan sekelompok anak Binus yang kami temui di Kalimati adalah para pendaki terakhir yang naik ke Mahameru pagi itu. Setelah berfoto, kami turun gunung.

Ini foto bareng anak-anak Binus yang nenda dan muncak barng.

 

Saya, Pipin, Adoy, Yessie, dan Amel.
Hanya butuh satu jam bagi kami menuruni puncak Mahameru. Sesekali kami berlarian, atau lebih tepatnya, meluncur di atas kerikil. Seperti bermain ski, meluncur menuruni gunung es. Seru sekali. Jangan ditiru, kawan, ini berbahaya. Di sisi kiri dan kanan adalah jurang.
Kembali ke Ranu Kombolo
Siang itu kami sudah tiba kembali di Kalimati. Menikmati suguhan susu coklat yang sudah disiapkan oleh kawan kami, Cenie. Kondisinya sudah membaik. Kami lanjutkan dengan menyantap makan siang. Kabut mulai turun. Di depan kami, sejajar dengan kami, awan mulai menyelimuti Kalimati. Dingin sekali meski saat itu pukul 12 siang.
Setelah makan, teman-teman masuk ke tenda untuk tidur sebentar, melanjutkan tidur yang hanya tiga jam kemarin malam. Sementara itu, saya merebahkan diri di hamparan rumput kering di Kalimati. Menatap puncak Mahameru. Sulit dipercaya, kami baru saja naik ke atas sana.
Sekiat pukul satu siang, kami sudah berkemas dan melanjutkan perjalanan pulang. Target kami, mendirikan tenda di Ranu Kumbolo. Kami kembali ke Ranu Kumbolo melewati rute yang sama: Jambangan, Cemoro Kandang, Oro-oro Ombo, dan Tanjakan Cinta. Sekitar pukul enam petang kami sudah tiba di Ranu Kumbolo.
Malam itu adalah malam yang mewah. Malam terakhir kami di Semeru. Jangan berbangga jika bisa makan di restoran hotel berbintang lima, kami saat itu makan di bawah miliaran bintang di hadapan Ranu Kumbolo. Seluruh sisa bahan makanan kami keluarkan, termasuk senjata pamungkas kami, rendang Bundo Kanduang (rumah makan masakan Padang legendaris di dekat kampus kami di Bandung). Pengalaman yang istimewa bisa menyantap rendang di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut.
Hari Terakhir
Sampai Jumpa, Ranu Kumbolo dan Mahameru!
Alam nampak berbahasa. Pagi itu Ranu Kumbolo begitu cantik memesona. Sosoknya yang angkuh pada saat malam pertama kami di Semeru, berubah menjadi hangat. Begitu cantik. Seperti Ranu Kumbolo bersolek ketika kami tidur. Menggoda kami agar tidak pulang. Merayu kami agar lebih lama berada di sana. Maaf, Ranu Kumbolo yang cantik, kami harus pulang. Saya berjanji menemuimu lagi lain kali 🙂
Selimut kabut Ranu Kumbolo.
Mahameru dari Ayek-ayek.
Kami memilih rute berbeda untuk kembali ke Ranu Pane, jalur Ayek-ayek. Jalur ini lebih dekat dengan rumah porter kami, Mas Snemo. Lebih cepat pula untuk menuju ke permukiman warga di Ranu Pane dari Ranu Kumbolo. Kami menembus beberapa bukit melalui jalur ini. Pemandangan di jalur ini lebih menarik, jika dibandingkan dengan jalur yang kami tempuh untuk datang, jalur Watu Rejeng. Namun lama-kelamaan, pemandangan berubah menjadi perkebunan warga. Jalar terus menurun, dan hanya perkebunan warga yang menemani perjalanan kami, hingga akhirnya, kami tiba di permukiman warga.

Sampai jumpa lagi, Ranu Kumbolo! Sampai jumpa lagi, Mahameru! 

Terima kasih untuk sumbangan foto-fotonya, kawan-kawan!
 

6 comments on “Menapak Mahameru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s