Geliat “Ultralight Backpacking” di Indonesia

Perlengkapan pendakian “ultralight” jelas memberi kenyamanan di bahu pendaki. Namun mengapa gaya pendakian “ultralight” tidak begitu populer di kalangan pendaki Indonesia?

17 comments

Gaya pendakian ultralight memang tidak terlalu populer di kalangan pendaki Indonesia secara umum. Namun di negara asalnya, Amerika Serikat, gaya pendakian ini sudah jauh lebih populer di kalangan petualang; tak hanya di komunitas pendaki, namun di kalangan traveller pada umumnya. Salah satu alasannya: mereka yang cenderung bepergian lebih lama menginginkan beban yang lebih ringan di bahu mereka.

Lantas, apakah pendakian bergaya ultralight kurang cocok diterapkan di Indonesia? Mengapa gaya pendakian ini tidak begitu populer di sini?

“Karena relatif baru, di AS dimulai tahun 90-an, sedangkan di sini sangat terlambat, nyaris 2 dekade kemudian, itu pun masih dalam taraf coba-coba,” Jali menjawab pertanyan-pertanyaan saya seputar kegiatan pendakian ultralight. Jali adalah salah satu pegiat pendakian ultralight yang aktif berpartisipasi di forum Indonesian Ultralight Backpacking di Facebook.

Di Indonesian Ultralight Backpacking, geliat orang-orang yang tertarik dengan kegiatan ultralight hiking atau backpacking begitu terasa. Anggota grup ini produktif mengulas produk-produk ultralight, tips membuat peralatan pendakian ultralight, hingga diskusi mengenai pengalaman pendakian gaya ultralight. Bahkan tak jarang, foto-foto kegiatan pendakian ultralight atau kegiatan diskusi membahas kegiatan ultralight backpacking juga terlihat di dinding percakapan grup ini.

View this post on Instagram

Pendakian panjang tidak harus identik dengan tas besar dan beban yang berat. . 6 hari di Argopuro cuma bawa tas @ininiulpacks 39 liter (M) muat semua, gak pake nitip temen dan gak pake nebeng. Malah ada yang pake daypack 25 dan 20 lt. . Logistik juga cukup, gak berlebihan dan gak kekurangan. Selesai pendakian masih ada sisa logistik darurat dan beberapa cemilan. . Kalau sendiri aja udah simpel gini, bayangin kalo shelter atau peralatan masak tim dibagi bebannya, jadi makin ringan. Jalan pun lebih wuss..wuss..wuss... . . . . . #indonesianultralightbackpacking #pendakiultralight #pendakikusam #pendakiindonesia #urbanhikers #id_pendakiindonesia #gunungindonesia #argopuro #pendakicantik #mountesia #instapendaki #mountainesia #pendakikeren #sahabatpendaki #pendakihijabers #parapendaki

A post shared by Jali (@jaligoeshiking) on

Menurut kamus Merriam-Webster, ultralight berarti extremely light in mass or weight. Meski demikian, tidak ada defisini pasti yang mampu menjabarkan ultralight hiking atau ultralight backpacking.

Dari beberapa pengertian ultralight hiking yang saya temukan, saya bisa merangkum bahwa pendakian ultralight adalah pendakian yang dilakukan dengan meminimalisasi beban perlengkapan yang dibawa tanpa mengesampingkan faktor keamanan dan keselamatan pendaki.

Material yang Ringan

Prinsip utama mengurangi beban bawaan dalam pendakian ultralight adalah memilih perlengkapan berbahan berbahan ringan, terutama untuk  the big three, yaitu tenda, kantung tidur, dan tas.

P1410164-01.jpeg
Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban pendakian adalah memilih tenda dan alas tidur yang berbahan ringan.

Meski pendakian ultralight d Indonesia belum begitu populer, tidak sulit untuk mencari produk-produk ultralight di gerai-gerai online. Untuk tenda misalnya, sangat mudah bagi kita menemukan tenda ultralight di internet, baik itu tenda dengan rangka atau pun tenda jenis tarp tent.

Berat maksimal suatu jenis perlengkapan pendakian untuk dapat dikategorikan sebagai barang ultralight memang samar. Lebih jauh lagi, berat total maksimum perlengkapan pendakian sehingga dapat disebut sebagai pendakian ultralight juga bukanlah sebuah pakem.

Menariknya, angka ambang batas ini ditetapkan berdasarkan konsensus atau kesepakatan pegiat ultralight di lingkup tertentu. Jali, misalnya, mengganggap beban maksimal yang dibawa dalam pendakian ultralight di Indonesia adalah 6 kilogram.

Perlu diketahui bahwa angka yang disepakati ini hanya berlaku untuk peralatan pendakian saja, tidak mencakup barang yang mengalami penyusutan berat, seperti air, makanan, dan bahan bakar.

Mahal atau Murah itu Pilihan

Harga perlengkapan pendakian ultralight cenderung lebih mahal jika dibandingkan dengan perlengkapan konvensional. Salah satu alasannya, pada umumnya perlengkapan ultralight ini adalah produk impor.

Baru sedikit produsen perlengkapan kegiatan alam terbuka dalam negeri yang serius menggarap produk ultralight. Para produsen ini pun pada umumnya bukan para produsen raksasa di Indonesia, semacam Eiger atau Arei, melainkan produsen dengan skala dan popularitas yang lebih kecil, misalnya Kalahari dan Ngapak Design. Keduanya merupakan nama produsen perlengkapan ultralight yang sering direkomendasikan di forum Indonesian Ultralight Backpacking.

Pertimbangan Beralih ke Ultralight?

Saya sendiri belum sepenuhnya beralih ke pendakian ultralight, jika mengacu pada standar berat maksimal yang diakui oleh sejumlah ultralight backpackers di Indonesia.

Namun, saya sudah mulai menggunakan beberapa jenis perlengkapan pendakian yang berbahan ultralight, misalnya tenda berkapasitas satu orang, perlengkapan tidur (matras angin dan kantung tidur), dan kompor.

1400807-01.jpeg
Tenda berkapasitas satu orang yang selalu saya gunakan ketika solo hiking ini hanya berbobot sekitar 1,8 kilogram. Selain ringan, tenda ini juga ringkas untuk dibawa dan digunakan.

Pertimbangan memilih barang ultralight yang saya beli ini tidak saya dasarkan pada beban maksimal yang disepakati oleh komunitas atau perkumpulan pendaki mana pun, melainkan berdasarkan kebutuhan dan pertimbangan subyektif saya pribadi.

Misalnya, saya tidak mengganti tenda dengan tenda jenis tarp tent, karena saya merasa tenda ultralight dengan rangka yang saya gunakan sekarang jauh lebih aman dan nyaman untuk digunakan, meskipun lebih berat dari tarp tent. Benar atau tidak, entah. Saya belum pernah membandingkan tenda saya dengan tarp tent di lokasi, di kondisi, dan di waktu yang sama.

Perpaduan antara kebutuhan, keamanan, dan kenyamanan menggunakan barang ultralight menjadi pertimbangan yang benar-benar subyektif dan personal dalam memilih perlengkapan ultralight.

Selain pertimbangan keamanan dan kenyamanan, pertimbangan saya yang lainnya adalah harga. Jika barang ultralight yang saya incar ini benar-benar saya butuhkan, harganya rasional untuk membayar pemenuhan kebutuhan saya tersebut, maka sudah hampir pasti saya akan membeli barang tersebut. Barang-barang ultralight yang saya miliki pun tidak saya beli sekaligus, melainkan saya beli satu-persatu dalam kurun waktu yang cukup lama.

Bagaimana dengan Anda? Sudah mulai menggunakan barang-barang ultralight untuk pendakian atau kegiatan backpacking?

17 comments on “Geliat “Ultralight Backpacking” di Indonesia”

  1. Jadi beratnya ultralight tapi harga extraweight ya 😀

    Aku belum nanjak lagi, bang. Kalau buat traveling, belakangan malah makin heboh karena harus bawa laptop 15 inch, kamera DSLR, dan tripod. maklum, masih jadi petani konten independen.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Backpacker cilet-cilet Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.